dr. Aris Tambing, MARS
Ingin Hidupnya Lebih Bermakna dengan Melayani Sesama

451 dibaca
dr. Aris Tambing, MARS. Dokter dan majelis gereja.

 

BERITANARWASTU.COM. Salah satu profesi mulia yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan adalah bekerja di Rumah Sakit Jiwa. Sebab berkaitan erat dengan kejiwaan seseorang. dr. Aris Tambing, MARS yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Pusat Dr. Soeharto Heerdjan, Jakarta, telah mendedikasikan hidupnya sejak 1988 silam. Dan di tahun yang sama ia resmi diangkat sebagai PNS saat mengemban tugas di Rumah Sakit Dadi Makassar sebagai wujud panggilan yang diberikan Tuhan kepadanya.
 Tak nampak gurat menyeramkan saat menjejakkan kaki ini ke Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan. Yang ada hanya rasa teduh saat memasuki lorong demi lorong dari rumah sakit yang memiliki luas lebih dari 2 hektar itu. Hal ini seolah menghapus stigma negatif masyarakat mengenai kesan menakutkan dari rumah sakit yang berada di kawasan Grogol, Jakarta Barat, itu.
 Sesekali nampak sejumlah pasien tengah bercengkerama satu dengan yang lain. Ada juga yang asyik berbicara sendiri, bahkan ada yang tertawa terpingkal-pingkal.  Tak jauh dari kamar para pasien tampak sejumlah perawat yang mengawasi dan siap memberikan pelayanan kepada mereka. Dari sejumlah pasien yang ada hampir 90 persen pasien jaminan sosial (BPJS), yakni orang-orang yang tidak mampu.
Pada 17 Oktober 2014 lalu, dr. Aris Tambing dilantik sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Jakarta. Tentu bukan perkara yang mudah bagi alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 987 untuk melakukan pembenahan di rumah sakit itu. Sebagai pimpinan rumah sakit ia berusaha memperbaiki mutu layanan kepada publik dalam rangka mendukung program pemerintah melalui BPJS.  “Apalagi, kita ketahui stigma negatif dari masyarakat tentang rumah sakit ini masih amat kuat. Hal itu jadi tantangan berat untuk memperbaiki mutu pelayanan agar stigma itu bisa berkurang. Dan masyarakat bisa menyadari makna dari kehadiran rumah sakit ini di tengah-tengah mereka,” terang Aris Tambing.

 

Rumah sakit jiwa yang identik sebagai tempat orang yang mengalami gangguan jiwa berat (psikosis) atau istilah umumnya adalah perawatan orang gila memang masih melekat dalam benak masyarakat kita. Padahal, fenomena gangguan jiwa tidak melulu pada gangguan jiwa berat. Melainkan, orang yang mengalami susah tidur, sakit kepala, sakit maag terus menerus, namun setelah dilakukan pemeriksaan secara laboratorium  mis CT Scan, Endoscopy, ternyata tidak ada kelainan. Rupanya kondisi fisik tersebut terkait dengan gangguan mental emosional

 

(stres).
             Kondisi stres terkait dengan kehidupan masyarakat perkotaan yang mudah dilanda stres dengan berbagai faktor penyebab. Mulai dari kehidupan yang serba cepat, tuntutan hidup yang terlalu tinggi, hingga tekanan dalam pekerjaan. Namun, menurut dokter berdarah Toraja ini, penyebab yang paling berat adalah masalah ekonomi, dan itu bisa juga terjadi tak hanya pada masyarakat perkotaan saja melainkan juga di  daerah.
             Sebuah Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan 6 persen masyarakat Indonesia berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. Dan gangguan mental emosional ini malah banyak terdapat di kota kecil. Salah satu cara untuk mengurangi stres dalam kehidupan adalah berkomunikasi terbuka, seperti mengobrol atau mengungkapkan isi hati kepada keluarga atau sahabat. Itu dianggap cara terbaik melepaskan stres tanpa bantuan psikiater atau psikolog. Dan siapa pun tak terkecuali hamba Tuhan pun bisa dilanda stres.
               Bersama Ketua Umum PGI, Pdt. Dr.  Henriette Tabita Hutabarat Lebang, ia pernah mengadakan program psikotes bagi para calon pendeta (Proponen) di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. “Sudah 8 tahun program ini diadakan dan mungkin baru Gereja Toraja yang melakukannya,” jelas dokter yang juga Majelis Gereja Toraja Jemaat Eben Haezer, Kota Bekasi, Jawa Barat, ini.
            Program itu dimaksudkan agar gereja tidak salah dalam menempatkan calon pendeta. Misalnya, pendeta yang rentan akan stres jangan ditempatkan di tengah-tengah jemaat yang dinamikanya besar. Salah satu contoh ada pendeta yang mengalami (social phobia), yaitu takut tampil bicara di depan umum pada hal tugas utamanya selalu tampil di mimbar untuk berkhotbah, karena memiliki phobia bisa seketika itu buyar dengan materi khotbahnya. Jadi mereka dilatih untuk tampil agar percaya dirinya bagus, sehingga apa yang dipersiapkan berjalan dengan baik. Selain itu, melalui program ini diharapkan supaya para gembala ini memiliki kepribadian yang baik. Sebab, yang dilayani adalah manusia dan yang disampaikan adalah masalah kebenaran, yakni Firman Tuhan.
            Di samping itu, dr. Aris Tambing bekerjasama dengan GKI Panglima Polim, Jakarta, dan Yayasan Obor Kasih melakukan aksi kemanusiaan dengan cara memberikan pelayanan pada pasien gelandangan psikotik di jalan. “Program ini sudah 8 tahun berjalan, banyak yang sembuh dan biasanya dipulangkan ke daerah masing-masing,” ujarnya.
           Pelayanan terhadap kesehatan jiwa bukan hanya mengandalkan peran Pemerintah, akan tetapi juga dibutuhkan peran keluarga agar memiliki komunikasi terbuka dan kasih sayang antara anggota keluarga. Namun, dari semua itu yang terpenting adalah meningkatkan spiritualitas kita kepada Tuhan dengan terus menjalin keintiman denganNya. Bagi bapak dua anak ini pun profesi yang ditekuninya merupakan panggilan dari Tuhan yang harus dihayati dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab. “Kita hidup sebagai mahluk ciptaan Tuhan harus  bermakna  dan melayani  sesama,” ucapnya. 

 

Berita Terkait