Pdt. Weinata Sairin.
Jemaat Jangan Konsumtif di Tengah Kesulitan Ekonomi

608 dibaca


Beritanarwastu.com. Krisis ekonomi atau kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sering terjadi di Tanah Air, harus disikapi dengan arif atau bijaksana. Keadaan politik yang tidak kondusif, hubungan antarpemeluk agama di beberapa daerah yang kurang rukun, kekerasan dan harga-harga kebutuhan sehari-hari yang melambung, harus membuat kita makin tegar di dalam menghadapi hidup ini.

“Iman kita harus teguh. Jemaat harus mengembangkan sikap inklusif atau mau berdialog dengan sesama. Sesama harus kita lihat sebagai saudara, bukan orang lain yang berbeda agama atau golongannya dengan kita. Sehingga kita bisa hidup rukun dengan mereka,” papar Pdt. Weinata Sairin, M.Th, yang dikenal mantan Wakil Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Dalam menyikapi keadaan ekonomi yang sulit ini, kata mantan Sekretaris Umum Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP) ini, jemaat mesti punya sikap hidup lebih hemat dan jangan konsumtif. “Orang-orang yang menerima berkat besar dari Tuhan, kita harapkan supaya jangan demonstratif mempertontonkan kemewahan. Sebab, sekarang banyak masyarakat yang lemah secara ekonomi. Justru masyarakat lemah ini, apakah secara pribadi atau lembaga gereja perlu dibantu agar mereka berdaya. Ketika jemaat merasakan kesusahan, di sinilah perlu peran gereja,” ujar pendeta yang dikenal produktif menulis ini.

Jemaat yang punya berkat banyak dari Tuhan, kata Pdt. Weinata, tak cukup hanya memberi persembahan ke gereja. Tapi jemaat-jemaat yang lemah secara ekonomi perlu pula dibantu. “Lebih baik lagi kalau gereja bisa bermitra dengan lembaga yang kompeten untuk memberi pelatihan-pelatihan pada warga gereja yang kurang mampu agar mereka punya keterampilan tertentu untuk menambah penghasilan sehari-hari, apakah itu membuat kue-kue atau keterampilan lainnya. Keterampilan ini perlu diberikan supaya jemaat tertolong,” ujar mantan Sekretaris Umum Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia itu.

Menurut Pdt. Weinata, gereja di Indonesia tak boleh mengabaikan realitas kemiskinan yang terjadi sekarang. “Sebabnya, apakah iklan-kalan gereja yang dimuat di media massa, seperti iklan kebaktian kebangunan rohani (KKR) yang mencolok itu masih pantas dimuat dalam kondisi sekarang. Jadi kita harus bijak menyikapi keadaan sulit ini. Ketika marak terjadi korupsi dan banyak pejabat yang ditahan, gereja pun tak bisa diam saja. Korupsi adalah salah satu penyebab keterpurukan bangsa. Sehingga  gereja harus mau menyuarakan masalah korupsi,” paparnya.

Keteladanan dari gereja, katanya, sekarang sangat dibutuhkan. Sebabnya, dalam hal korupsi, gereja mesti mau meminta agar laporan keuangan dalam setiap kegiatan diberikan secara transparan ketika ia ikut berpartisipasi. “Sehingga korupsi tidak terus menerus menjadi penyakit di tengah bangsa kita,” ucapnya. Berbicara tentang adanya orang yang bunuh diri karena kesulitan hidup, Pdt. Weinata menerangkan, gereja harus meningkatkan pelayanannya pada jemaat. “Harus ada pelayanan yang menyeluruh. Apakah yang dihadapi jemaat itu persoalan ekonomi, persoalan kesehatan dan persoalan politik, harus ada pendekatan gereja secara manusiawi,” katanya.

 

Perlu Pelayanan Pastoral

Di saat ada jemaat yang menghadapi masalah, sehingga ia khawatir atau bingung, tukasnya, mereka jangan dihakimi, tapi harus dibimbing. “Sekarang kunjungan pelayanan ke rumah tangga-rumah tangga sangat penting. Pelayanan pastoral harus diperhatikan. Setiap jemaat yang punya pergumulan atau masalah hidup dari pendetanya perlu bimbingan atau nasihat. Gereja punya peran di situ. Jadi bukan hanya melayani jemaat saat beribadah. Gereja akan makin punya arti ketika ada perhatian pada hal vertikal dan horizontal,” terangnya.

Lalu, bagaimana jemaat mesti menyikapi keadaan kalau gajinya dari tempatnya bekerja tidak naik, sementara kebutuhan sehari-hari makin tinggi harganya, Pdt. Weinata menerangkan, sikap hidup tidak konsumtif harus dikembangkan. “Kita mesti percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan umatNya asal kita selalu berserah kepadaNya. Iya, dengan yang sedikit pun asal kita bersyukur, pasti kita sehat dan sejahtera menikmatinya. Kuasa Tuhan masih bisa kita rasakan sekarang,” katanya.

bekerja kita, apalagi diperoleh dengan keringat sendiri, asal itu disyukuri maka akan menjadi berkat bagi kita. Itu sangatmemberi makna dalam kehidupan kita. Dimensi spiritualitas sangat perlu dalam menyikapi keadaan yang sulit ini. Persekutuan dalam keluarga dan dalam rumah tangga harus lebih mantap dilakukan, sehingga kita senantiasa bisa mensyukuri keadaan yang sekarang terjadi,” tandas pendeta yang produktif menulis di berbagai media massa nasional ini. MN

Berita Terkait