Irjen Pol. Drs. M. Wagner Damanik, M.AP
Jenderal yang Giat Melayani di Gereja

4072 dibaca
Irjen Pol. Drs. M. Wagner Damanik, M.AP

Beritanarwastu.com. Pria kelahiran Tebing Tinggi Deli, Sumut, 24 Juni 1961 ini bukan figur yang asing lagi di kalangan petinggi Mabes Polri dan tokoh-tokoh nasional. Irjen Pol. Drs. M. Wagner Damanik, M.AP dikenal jenderal polisi yang punya kemampuan intelektual mumpuni, tak heran kalau ia dipercaya sebagai Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Hankam Lembaga Ketahanan Nasional RI (Lemhannas RI). Lemhannas adalah salah satu lembaga pemerintah nonkementerian yang langsung berada di bawah Presiden RI, karena salah satu tugas pokoknya adalah mempersiapkan calon-calon pemimpin tingkat nasional.

Pria yang akrab disapa Pak Wagner ini pernah dipercaya sebagai Direktur Pemantapan Transformasi Nilai-nilai Universal Lemhannas RI dan Direktur Materi Pendidikan Lemhannas RI. Wagner memang seorang jenderal yang cukup cerdas. Tak heran kalau banyak tokoh masyarakat Simalungun memintanya supaya bersedia menjadi calon kepala daerah di kampung halamannya.

“Untuk sekarang saya belum bersedia menjadi calon bupati atau terjun ke dunia politik. Banyak memang yang menawari saya, namun saya masih bertugas di Kepolisian RI ini lebih kurang 4 tahun lagi,” ujar mantan Direktur Samapta Polda Metro Jaya yang sarat pengalaman dalam melayani masyarakat di berbagai daerah.

                Pengalamannya sebagai pemelihara kamtibmas, pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat serta penegak hukum, Wagner pernah dipercaya sebagai Kapolsek X Koto Tanah Datar Polda Sumbar, Komandan Kompi Brimob (Danki) Polda Sumbar, Kapolsekta Medan Teladan, Kapuskodalops Poltabes Medan, Wakapolres Simalungun, Wakasat Brimob Polda Jabar, Kasat Brimob Polda Kaltim, Kapolres Kutai Polda Kaltim, Kepala Sekolah Polisi Negara Sampali Polda Sumut, Kapoltabes Samarinda dan Kadepkum Secapa Lemdiklat Polri.

                Melihat Wagner punya pengalaman lengkap sebagai perwira Polri dan punya jejak rekam cukup bagus, pengacara senior dan mantan Plt. Sekjen DPN PERADI, Said Damanik, S.H., M.H. kepada NARWASTU pernah menyebut, “Pak Wagner ini jenderal polisi yang punya kemampuan intelektual tinggi, pengalamannya komplit. Saya selalu berdoa dan berharap agar Pak Wagner Damanik ini diberikan kesempatan untuk menjadi Kapolda Sumut. Dia nasionalis, pembawa perubahan, peduli masyarakat dan memiliki iman yang teruji.”

                Meskipun jenderal siapa sangka Wagner adalah seorang aktivis gereja yang taat. Dia kini sintua di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Cikoko, Jakarta Selatan. Baru-baru ini, ia bahkan dipercaya sebagai Ketua Panitia Jubileum 50 Tahun GKPS Cikoko. Menurut Wagner, berkat-berkat yang sudah ia terima dari Tuhan begitu banyak, “Kalau saya sekarang bisa menjadi jenderal bintang dua, itu bukan karena kemampuan saya, itu anugerah Tuhan. Jabatan yang diberikan Tuhan ini anugerah dan titipanNya. Jadi tidak ada yang mesti kita sombongkan dalam kehidupan ini. Saya sebagai pemimpin harus melayani, sebagaimana kepemimpinan Tuhan kita Yesus.

            Wagner yang punya dua anak, yaitu Bratara Dolok Bayu Damanik, S.H. adalah lulusan UI Jakarta, dan Bivynka Kemala Damanik kini masih kuliah di ITB Bandung. Bersama anak-anak dan istrinya, Wagner kini hidup bahagia. Apalagi keluarga ini pernah mengalami mukjizat Tuhan, di mana sang istri Debora Mayana Purba sembuh dari penyakit kanker limphoma. Semuanya karena kasih Tuhan dan doa seluruh keluarga,” tukas Pembina Yayasan Peduli Pendidikan Marsiurupan ini.

                Berbicara soal masa mudanya, Wagner awalnya bercita-cita jadi dokter, namun jalan Tuhan bukanlah jalan manusia. Ketika hijrah dari Tebing Tinggi ke Jakarta ia tinggal di rumah tantenya. Pada 1980 ia mengikuti test masuk AKABRI di Jakarta atas bujukan dari adik sepupunya, karena saat itu ada pengumuman penerimaan Calon Taruna AKABRI di koran Kompas. Pertama ia menolak dengan pemikiran, bagaimana mungkin bisa diterima di AKABRI, persiapan menuju ke sanapun relatif tidak ada, apalagi informasinya yang melamar banyak putra  petinggi negara ini, ia sendiri hanya putra dari Guru Zending tamatan Sipoholon.

               Lantas atas dorongan adik sepupunya, ia mendaftar dengan tujuan ingin coba-coba dan menambah pengalaman. Pada saat itu tidak sedikitpun terlintas dalam pikirannya bakal lulus test di tingkat daerah (Kodam V Jayakarta). Tapi Tuhan punya kehendak lain untuknya. Lalu ia berangkat ke Magelang dengan modal hanya Rp 10.000, dan persiapan hanya satu bulan mengikuti test. Kondisi itulah membuatnya tak banyak pilihan, kecuali berserah kepada Tuhan. Satu-satunya yang ia miliki hanya doa. “Saya berdoa kepada Tuhan, ‘Tuhan saya bersyukur kepadaMu, karena Engkau izinkan saya ikut test, kalaupun saya tak lulus, saya sudah punya pengalaman.’ Saat itu saya tak punya sponsor,” cetus Pembina Pemuda GKPS Cikoko.

               “Saya semakin sadar bahwa di luar kekuatan kita ada tangan Tuhan yang tak terlihat. Semula rencana kita ke A, ternyata Tuhan mengarahkan ke B, dan setelah kita analisa ternyata B yang lebih bagus,” ujar pria yang pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Pembangunan GKPS di Tanjung MorawaSumut, dan Ketua Umum Pembangunan Rumah Resort Horison Tambun Raya & Pembangunan Gedung Sekolah Minggu GKPS Sipolha ini. Saat Wagner bertugas di Sumatera Barat sebagai Danki Brimob (saat itu lajang), ia pun berperan penting bersama seniornya Mayor TNI Simanjuntak selaku Komandan Batalyon membangun sebuah tempat ibadah bagi umat Kristen, yakni Gereja Oikoumene di Asrama Batalyon TNI Padang Panjang.

              Kemudian saat ia menjadi Kapolres Kutai, ia juga mengajak warga Simalungun di sana agar membangun sebuah gereja GKPS di Samarinda. Berkat bimbingannya, di Samarinda yang mayoritas dihuni umat non-Kristen, kini sudah berdiri megah sebuah gereja GKPS, hingga sekarang jemaat setempat masih ingat betapa susahnya perjuangan kala itu, sehingga kalau ada acara penting di gereja tersebut, Wagner selalu diundang hadir.

             Berbicara tentang pendidikan di Lemhannas RI, menurut Wagner, para pendeta atau pelayan gereja sangat penting untuk menimba ilmu di Lemhannas RI. “Agar cara pandang dan cakrawala berpikir mereka terhadap suatu permasalahan yang terjadi di negara ini tak hanya melihat dari satu aspek, akan tetapi harus dari berbagai aspek (komprehensif integral). Gereja tak bisa menutup diri terhadap perkembangan lingkungan strategik, baik global, regional maupun nasional,” ujarnya. 

Berita Terkait