Tarsicius Sunaryo.
Kampus UKI Menghasilkan Banyak Pengacara Kondang

4236 dibaca
Tarsicius Sunaryo.

Beritanarwastu.com. Mendengar kata UKI (Universitas Kristen Indonesia), orang sering mengasosiasikannya dengan gudangnya pengacara terkenal dan Rumah Sakit di Cawang, Jakarta Timur. Tempat kuliah para pengacara terkenal tersebut adalah Kampus UKI Diponegoro. Rumah Sakit UKI di Cawang adalah Rumah Sakit Fakultas Kedokteran UKI. Universitas yang berdiri sejak 1953 ini mempunyai dua kampus, yaitu di Cawang, Jakarta Timur, dan di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Saat ini, Kampus UKI Cawang menjadi kampus utama, meskipun cikal bakal UKI adalah di Jalan Diponegoro. Kampus Cawang menampung mahasiswa program S1, dan Kampus Diponegoro menampung para mahasiswa Program Pascasarjana. Tahun ini UKI membuka program Doktor Ilmu Hukum di Kampus Diponegoro. Universitas ini terbuka bagi semua kalangan yang berasaskan nilai-nilai Kristiani. “Doa pembuka dan doa penutup untuk sebuah kegiatan sudah menjadi rutinitas di universitas ini,” kata Direktur Pascasarjana, Tarsicius Sunaryo, yang baru-baru ini ditemui Majalah NARWASTU di tengah-tengah kegiatannya di Kampus UKI Diponegoro, Jakarta Pusat.

Lulusan School of Economics, University of the Philippnies ini mengatakan, “Pendiri UKI telah mencanangkan motto “melayani bukan untuk dilayani.” Motto ini memposisikan UKI sebagai sebuah universitas dengan warganya yang rendah hati dalam melayani. Motto ini juga mengarahkan UKI untuk menjadi tempat belajar yang berkualitas bagi semua kalangan, di mana pelayanannya tidak mudah untuk meningkatkan harga jasa. Karena motto UKI adalah melayani, maka UKI bisa menjangkau banyak kalangan. Intinya, UKI memberikan produk berkualitas, tetapi harga terjangkau.

Hal ini terbukti dengan banyaknya alumni UKI yang berkualitas dan terkenal. Di antaranya yang sudah tidak asing lagi, Theo Sambuaga, Irman Gusman, Teras Narang,  Constant M. Ponggawa, Jhon S.E. Panggabean dan lain sebagainya. Menurut suami dari Carolyn Sunaryo dan ayah dari Lucas Sutomo dan Thomas Sudarso ini, UKI adalah salah satu universitas swasta tertua di Indonesia, yang telah mencetak orang-orang berbobot, seperti pengacara-pengacara terkenal.

Mengenai kerjasama dengan institusi-institusi lain, UKI telah berkolaborasi dengan banyak lembaga pendidikan dan gereja di dalam dan di luar negeri. Bahkan mereka  terlibat dalam pembentukan kurikulum di UKI. Para dosen dan para mahasiswa pascasarjana banyak yang merupakan pendeta di berbagai gereja. Pria yang berjemaat di Gereja Katolik Robertus ini menekankan, UKI sangat serius dalam memerangi bahaya narkoba yang mengancam bangsa ini, karena itu UKI bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bakornas Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM).

UKI juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain, seperti NGO. UKI selalu mengkampanyekan tentang bahaya narkoba, serta memerangi sarang-sarang narkoba dan akses narkoba yang ada, baik di lokasi Kampus UKI Cawang maupun Kampus UKI Diponegoro. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, sering diadakan tes narkoba kepada para mahasiswa dan dosen baru. Jika terbukti ada mahasiswa pemakai narkoba, maka UKI tidak segan mengambil tindakan tegas dengan mengeluarkan mahasiswa tersebut dari kampus.

Sudah lama UKI memberi perhatian khusus kepada para mahasiswa berprestasi dengan memberikan kebebasan kepada mereka untuk maju dan berkembang, salah satunya di jurusan ilmu hukum. Banyak sekali dari etnis tertentu yang memang berbakat di bidang ilmu hukum atau pengacara atau advokat itu. “Dan mereka masuk di jurusan yang pas. Jadi memang ada kolaborasi antara kombinasi input dan proses pembelajaran di sini. Di UKI memang yang paling dominan salah satunya adalah Fakultas Hukum. Itu sebabnya banyak dihasilkan pengacara-pengacara kondang,” paparnya. JK

Berita Terkait