Kasih Karunia Memulihkan Kita

493 dibaca
Oleh: Pdt. Tjepy Jones Budidharma

 1 Korintus 15:45, “Seperti ada tertulis: ‘Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang

Hidup’, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.

 Ketika Allah menciptakan makhluk hidup di air, Allah memerintah air mengeluarkan segala mahluk hidup, yang artinya bahan baku makhluk hidup tersebut diambil dari air. Demikian juga ketika Allah menciptakan binatang di bumi, Allah memerintahkan bumi sebagai bahan baku mengeluarkan segala mahluk hidup, itu berarti kalau makhluk hidup itu terpisah dari bahan bakunya, misalkan mahluk hidup air ditaruh didarat, atau sebaliknya maka pada umumnya makhluk itu akan mati.

Ketika Allah menciptakan manusia, Allah berkata pada diriNya sendiri, “Baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” (Kejadian 1:26), jadi “bahan baku” roh manusia adalah dari Allah sendiri, manusia ciptaan Allah itu adalah duplikat Allah, dan kalau manusia terpisah dari Allah maka pada hakekatnya manusia itu mati.

Selanjutnya di Kejadian 2:7, Allah membentuk manusia (bukan lagi menciptakan) yang dalam bahasa Ibrani “yatsar”, yang berarti mendesain dalam imaginasi semua sistem dalam tubuh manusia yang sangat kompleks sekaligus memberi frame atau tubuh. Dan selanjutnya memberikan jiwa dengan hembusan nafasNya, sehingga jadilah manusia yang terdiri dari roh, jiwa dan tubuh, dan yang menjadi leader adalah roh manusia bukan jiwa yang terdiri dari pikiran/intelektual dan kehendak, juga bukan tubuh. Itulah desain original manusia, menurut “Manufacturer Book” kita yaitu Alkitab.

Kemudian masuklah ke dalam Hari Sabat di mana Allah bergaul dengan manusia. Selanjutnya Allah kembali membentuk serta mendesain binatang-binatang (Kejadian 2:19), seperti yang dilakukan pada manusia tetapi kali ini Allah mengajak manusia turut serta dalam proses ini dengan membawa hasi imajinasi pikiranNya kepada manusia itu untuk mereka memberi nama (to call out) ciptaan Allah itu.

Inilah yang dimaksud Mazmur 8 bahwa manusia diciptakan hampir sama dengan Allah. Saat itu manusia dan Allah seperti dua desainer yang bekerja sama, di mana keduanya berada pada level komunikasi yang sama, mereka bergaul di dalam pewahyuan Roh di mana roh manusia sungguh-sungguh memimpin jiwa dan tubuhnya untuk menguasai bumi dibawah supervisi langsung oleh Roh Allah.

Pergaulan yang indah di Taman Eden ini menjadi putus sejak Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan, dan sejak saat itu manusia tidak lagi dipimpin oleh rohnya tetapi dipimpin oleh jiwa (pikiran, perasan dan kehendak), dan tubuhnya. Mereka berjalan dengan informasi pengetahuan yang baik dan yang buruk, yang berkembang menjadi intelektual manusia.

Di sinilah manusia selalu kalah oleh Iblis yang adalah roh, sedangkan area pikiran, kehendak, perasaan ini adalah area daging (Flesh), dan daging tidak akan pernah menang melawan roh. Iblis dengan mudah menipu manusia yang terbatas pada apa yang kelihatan saja. Dan kemudian Iblis mengklaim bahwa segala kerajaan dunia itu sudah diserahkan kepadanya (Lukas 4:6), padahal kuasa itu pada mulanya diserahkan Allah hanya kepada manusia waktu di Taman Eden.

Tuhan Yesus datang memulihkan keadaan ini dengan cara menanggung hukuman dosa semua umat manusia ke dalam tubuhNya agar roh manusia dapat menjadi hidup lagi dan bersekutu dengan Roh Allah. Yesus Firman Allah yang menjadi daging adalah Sang Kekal yang menyerap kematian kekal umat manusia akibat segala dosa dan pelanggaran umat manusia, karena hanya kekekalan yang dapat menyerap kematian kekal.

Sekarang di dalam Yesus Kristus kita dapat hidup bersekutu dengan Allah lagi karena hanya di dalam Dialah pengampunan dosa berlaku untuk semua umat manusia yang percaya dalam namaNya. Di Kolose 2:16-17, dikatakan, Yesus adalah “Sabat” atau perhentian yang sesungguhnya bagi kita orang percaya. Artinya, seperti di Taman Eden Allah bergaul dengan manusia ketika membawa hasil pikiran atau imajinasiNya kepada manusia untuk diberi nama atau diucapkan (call out).

Demikian juga saat ini kita bisa “resting” di dalam Kristus di tengah-tengah kesibukan kita. Karena kita tahu “pikiran Allah” melalui Alkitab mengenai keselamatan kita, yang terdiri dari pengampunan dosa, kehidupan kekal, kesehatan, kelimpahan, pemeliharaan yang sempurna, umur panjang, dan semua hal baik yang Allah sediakan bagi kita untuk kita ucapkan menjadi milik kita, maka terjadilah seperti yang kita Imani. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengundang kita yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaNya karena Yesus-lah kelegaan (resting) kita semua. Amin.

Penulis adalah Gembala Sidang GKBI Kasih Karunia, Jakarta.         

Berita Terkait