Kebencian

Oleh: Togap Balduin Silalahi, S.H. 577 dibaca


        BERITANARWASTU.COM. Media sosial (medsos) yang memproduksi ajaran kebencian menyebarkan informasi bohong menciptakan kekhawatiran dan ketidakpastian, jelas negatif. Kebencian yang saat ini tengah dipercakapkan warga, memungkinkan bayang-bayang keremukan. Sebaliknya medsos yang dimanfaatkan untuk kecintaan menggalang solidaritas sosial, misal membantu korban bencana alam adalah positif untuk membangkitkan solidaritas sosial.

Cinta dan kebencian adalah dua hal terpisah, tetapi hadir bersama-sama hadirnya cinta sekaligus ada bencinya.

          Bangsa Indonesia memiliki potensi yang besar untuk hidup berdampingan secara rukun. Namun toleransi ini belum kokoh dan cenderung mengarah ke radikalisasi. Manuver politik, kesenjangan sosial hingga ketidakmatangan dalam menerima informasi sering menganggu kebersamaan. Apakah kita siap menghadapi pesan di medsos yang dipenuhi pesan kebencian? Perkembangan media sosial perlu diantisipasi tanpa mengekang kebebasan berpendapat. Munculnya aksi teror di Indonesia kian besar seiring dengan perkembangan teknologi.

          Penyebaran paham radikal kini dilakukan melalui internet, ideologi penyimpang itu masuk ke rumah dengan perlahan. Kearifan lokal perlu ditumbuhkan kembali, seperti saling peduli adat istiadat dan penguatan lembaga desa menjadi penangkal tumbuhnya paham radikal. Masyarakat punya kemampuan menjaga perbedaan tetapi faktanya masih rentan bukan berarti masyarakat kita intoleran secara umum. Kita kadang lupa bahwa kita ini saudara sebangsa yang disatukan semangat untuk membesarkan negara ini. Kita melihat rangkaian sikap intoleran, kekerasan dan teror berlatar agama, seperti penyerangan komunitas Ahmadiyah, pengusiran komunitas Syiah, pembakaran gereja di Singkil Aceh, teror bom Thamrin, insiden Vihara di Tanjung Balai, Sumut, hingga pelemparan bom di Gereja Oikumene Samarinda, Kaltim, menunjukkan bahwa sebagai bangsa belum bisa hidup bersama dalam pluralitas.

               Upaya membangun jembatan pengertian harus tetap dibangun tanpa kenal lelah. “Sikap toleransi harus dipupuk untuk menghadirkan kehidupan sosial tanpa kekerasan,” ucap Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid pada November 2016 lalu. Situasi keagamaan di Indonesia akhir-akhir ini, meniru situasi keagamaan di Timur tengah. Jika agama dijadikan senjata politik, dan model kekerasan massa terus diteriakkan bisa dimungkinkan akan terjadi di negara kita ini.

           Sikap kekerasan berlatar agama tidak perlu ditutup-tutupi dengan dalil agama menganjurkan hidup damai dan rukun, karena di balik itu semua tentu ada agenda tersembunyi. Pemerintahan Jokowi jangan sampai terlambat mengatasinya dan harus mengantisipasi pergerakan kelompok radikal berjubah agama. Dengan dukungan dana yang kuat mereka lebih aktif mengkampanyekan kekerasan di ruang publik. Semoga organisasi Islam, seperti NU dan Muhammadiyah tak terkalahkan oleh kaum radikal. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama, Ahmad Syafii Musfid  menyerukan politik konstruktif kepada masyarakat Indonesia, jangan politik destruktif,  apalagi di sosial media dan menciptakan suasana aman dan damai.

           Pemerintah harus menjaga jangan sampai di lembaga-lembaga pemerintahan gagasan ideologi mereka tumbuh dengan pelan menjamur agar bangsa dan negara kita tidak jatuh ke jurang kebencian, seperti yang terjadi di Timur Tengah. Di Pulau Bali, Desa Pegayaman Buleleng sejak abad 17 kerukunan toleransi telah hadir, ini bisa dilihat dari nama-nama mereka, seperti Ketut Ali Hanfiah, Nyoman Muhammad, Wayan Haritsah dan Nengah Zadaniasuri. Warga Pegayaman  memeluk Islam secara turun temurun  tetapi tetap menjalankan praktik-praktik keagamaan yang diserap dari kultur Bali.

            Tidak hanya nama penduduknya yang lebur dalam budaya umat Hindu Bali, tetapi perayaan Lebaran pun mirip dengan urutan budaya umat Hindu Bali. Warga Pegayaman masih menjalankan penapean  (membuat tape ketan), Penyajaan (membuat jajan uli) dan Penamdaman (menyembelih kambing). Pada hari sebelum Sholat Ied mereka ngejot atau berbagi makanan ke tetangga.

Di tengah masyarakat masih kita saksikan fakta sosial, tokoh masyarakat yang belum menyadari akan peran dan fungsinya. Berbagai persoalan politik, ekonomi, budaya, agama, dan keamanan seolah-olah menjadi tanggung jawab presiden seorang, bahkan ada anggota DPR yang ikut demo, fenomena politik yang tidak sehat. Puji Tuhan, kita bersyukur Presiden RI Jokowi cepat melakukan, komunikasi sosial dengan para alim ulama, tokoh politik, bisnis, ormas, dan kekuatan sosial lainnya, serta menyerahkan kasus Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. alias Ahok ke instansi hukum dan tidak mengintervensi.

Aktivis HAM, Dr. Todung Mulya Lubis yang juga Ketua Umum Ikatan Advokat Indonesia mengatakan, “Dengan segala hormat terhadap suara-suara yang menolak Ahok, dan menuduhnya melakukan penistaan agama, saya tetap berpendapat bahwa proses hukum harus dilalui sesuai dengan praktik hukum acara pidana yang berlaku.” Ahok mempunyai hak untuk dianggap tak bersalah berdasar azas praduga tak bersalah. Apalagi opini publik dan demonstrasi kalau diadakan pastilah akan membuat lutut para hakim gemetar. Nalar bisa jadi akan menyerah pada tekanan, November 2016.

Jokowi selalu menekankan persatuan, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda tetap satu oleh Mpu Tantular pada abad 14. Semboyan itulah rumusan yang penting/sakral dari pendiri negara untuk menyatukan Indonesia beragam, tetapi tetap bersatu. Mendalami masalah tersebut di atas perlu kita membaca nasihat Nabi Yesaya kepada Raja Hizkia merupakan Firman Allah yang tertuang dalam nats Yesaya 9:5, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita dan lambang pemerintahan ada di atas bahuNya dan namaNya disebutkan orang: Penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai.” Penasihat ajaib, “Ya Ats” kata ibrani yang secara gramatikal bermakna: telah terjadi (perfect konsekutif) dapat diartikan bukan saja sebagai penasihat secara umum, tetapi juga mempunyai strategi untuk dapat mengurai permasalahan rumit yang dihadapinya.

Nabi Yesaya yang dengan arif memberi nasihat kepada Raja Hizkia secara benar, jernih, dan tulus membuat kemelut yang mendera bangsa Yehuda dapat tersirnakan. Dalam kehidupan sesehari sering kita menghadapi konflik, bahkan di tempat beribadat sekalipun. Bukan maksudnya untuk mencari siapa yang salah, hendaknya peristiwa itu menjadi referensi untuk perjalanan ke depan agar setiap konflik yang mungkin akan timbul, memposisikan kita sebagai “Ya Ats” yang dapat memberikan solusi terbaik, sehingga setajam apapun konflik selalu berakhir dengan baik demi kemajuan bangsa dan negara. Ibarat orkes simphony perbedaan-perbedaan suara dari masing-masing alat musik itu dapat diharmonikan sedemikian rupa oleh sang dirigen sehingga terdengar simphoni lagu yang merdu.

 

* Penulis adalah pensiunan Jaksa Utama Golongan IVE Kejagung RI, mantan Inspektur Polisi Golongan IIIB Polda Metro dan mantan Asisten Golongan IIIA FH & IPK UI. Juga penatua GMIT (1988) di Larantuka, Flores Timur dan anggota jemaat Gereja HKBP Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Berita Terkait