Antonius Natan, D.Th.
Kejahatan Dikebiri atau Hukum Dikebiri?

Penulis adalah Wakil Ketua I STT Rahmat Emmanuel, 580 dibaca
Antonius Natan, D.Th.

Awal tahun ini seakan kompak hampir semua media cetak dan elektronik memberitakan tentang kejahatan seksual terhadap anak-anak. Yang memprihatinkan para pelakunya anak-anak di bawah umur. Yang membuat banyak orang bingung bisa-bisanya pelaku adalah ayah sendiri atau ayah tiri atau saudara kandung atau guru sekolah bahkan hingga guru agama.

Apakah ada yang salah dalam agama kita? Pastinya tidak, agama menunjukkan jalan kebenaran dan kompas bagi manusia yang membutuhkan jalan yang benar dan kedamaian lahir batin, lantas siapa yang salah? Kenapa akhlak orang dewasa yang berpredikat pendidik dan pantas menjadi panutan malah menunjukkan sikap acuh kepada ajaran agama, bahkan bertentangan dengan etika atau ajaran agama apapun.

               Pemerintah sampai mengeluarkan pernyataan: “Indonesia Darurat Kejahatan Seksual”. Artinya masalah ini serius dan massif di Tanah Air, negara memberikan sinyal tegas atas kejahatan ini dan harus dihukum seberat-beratnya, bahwa korban adalah anak-anak perempuan dan juga laki-laki. Pernyataan tidak berhenti di situ saja tetapi berujung dengan dikeluarkannya Perpu.

Menurut Pusat Data dan Informasi Komnas Perlindungan Anak Indonesia dari 2010 hingga 2014 tercatat sebanyak 21,8 juta kasus pelanggaran hak anak, tersebar di 34 provinsi dari jumlah tersebut diperkirakan sekitar 50 % adalah kejahatan seksual terhadap anak. Suatu angka yang fantastis. Artinya jika korban dan pelaku berbanding 1, maka pelakunya ada 21,8 juta, jika berbanding 2 artinya ada sekitar  43 juta pelaku pelanggaran hak anak atau hampir 20 persen dari penduduk Indonesia bermasalah terhadap kekerasan kepada anak-anak, atau hampir10% punya masalah seksual. Ini menurut laporan dan banyak yang karena malu, takut dan bodoh tidak melapor artinya angka di atas bisa saja bertambah besar.

Kita perlu menyadari ini adalah darurat moral bangsa, perlu diserukan: Tobat nasional terhadap kejahatan seksual. Mari para pendidik, pemuka agama,  orang tua berperan dan berfungsilah. Anak adalah titipan Ilahi yang menjadi pewaris kehidupan.

 

Kejahatan yang Dikebiri

Berbagai pakar mencoba mengkaji penyebab masalah ini disebutkan antara lain minuman keras, narkoba, arus informasi dari sosial media dan internet, kemiskinan, penipuan ada juga mengikuti arus zaman dan terjerumus serta kebodohan. Pakar lain menyebutkan kurangnya pendidikan agama, pendidikan budi pekerti, peranan keluarga dalam mendidik anak dan banyak lagi. Semua alasan di atas memang bisa jadi pemicu, perdebatan terjadi di mana-mana, seharusnya semua pihak mengambil peran dan tanggungjawab sesuai bidangnya untuk meminamalisir penyebab.

Kita hentikan debat penyebab kekerasan seksual terhadap anak, melainkan kita bangun segera jembatan yang terputus sehingga akhlak manusia menjadi pulih. Kejahatan ini yang harus dikebiri dengan segera, masih banyak manusia dewasa yang berakhlak perlu digerakkan di setiap keluarga maupun lingkungan RT dan RW dengan memberikan kepedulian kepada tetangga dan lingkungan sekitar tempat tinggal. Kehidupan yang bersahabat dengan tetangga membantu mencegah anak-anak nakal terhindar dari tindak kejahatan.

Paling tidak para orang dewasa saling memantau perilaku anak-anak di sekitarnya agar mereka tidak bergerombol menggunakan narkoba, atau pesta miras atau menonton film tidak senonoh. Atau perilaku anak-anak yang tidak menghormati orang lain terutama wanita, perlu dicermati. Kondisi inilah yang perlu dibina oleh tokoh masyarakat di sekitar lingkungan. Siapa lagi yang menolong lingkungan kita kalau tidak dimulai dari kita sendiri?

Para pendidik di sekolah mulailah bergerak melakukan pendidikan seksual di kalangan pelajar. Tak sekadar memahami anatomi secara biologis, perlu ditambahkan perubahan perilaku saat menuju akil balik dan menuju dewasa, pendidikan moral dan akhlak dengan landasan agama sangat dibutuhkan dalam pendekatan ini.

 

Hukum yang Dikebiri?

Berbagai diskursus terjadi saat bergulir Perpu, pro kontra terhadap hukuman, semua ada landasan berpikir dan semua merasakan kebenaran yang hakiki. Alasan yang paling muliaa dalah Hak Azasi Manusia (HAM). Dokter keberatan karena melanggar sumpah, penolakan karena melanggar sumpah seperti menjadi koor di berbagai kalangan, berbagai pihak menjadi sinis, karena tatkala bicara kebiri kimiawi para dokter bicara soal sumpah, tapi tariff praktik yang mahal tidak dianggap tidak melanggar sumpah. Apa yang menjadi keberatan para dokter ada benarnya, bahkan para dokter mengusulkan dilakukannya hukuman mati terhadap tindak kejahatan seksual tertentu.

Sepertinya usulan hukuman mati bertentangan juga dengan HAM. Lantas apa hukuman yang pantas bagi pelaku kejahatan ini? Kenapa hukum yang dikebiri? Dari sisi korban adalah trauma, dan luka batin yang mendalam akan dibawa seumur hidup, dan akan lebih menyakitkan jika korban tidak tersentuh oleh psikolog atau konselor yang terlatih. Peristiwa tragis ini menghantuinya sepanjang masa hidup. Menjadi manusia yang “menjijikkan”, ditambah lagi hukuman masyarakat yang menganggap wanita korban adalah ”kotor” dan memalukan. Keluarga terlebih orang tua maupun saudara kandung akan ikut tersakiti, dan mempersalahkan wanita korban. Jika terjadi kehamilan? Proses aborsi merupakan pelanggaran kode etik kedokteran dan pelanggaran hak hidup dan pasti dilarang oleh agama. Untuk yang beragama Muslim sampai usia janin berumur 120 hari atau dengan seijin dokter, jika melewati masa tersebut apakah dosa dan pertanggunganjawab akhirat akan menjadi tanggungan si korban? Siapa yang peduli, dan di mana rasa keadilan? Demi HAM si penjahat seksual tidak dihukum kebiri apalagi hukuman mati.

Alkitab sebagai panduan iman Kristiani menyatakan di Matius 18:6, “Tetapi barang siapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Korban kekerasan seksual wanita maupun pria akan kehilangan jati diri dan rusak gambar dirinya dan harus melalui masa konseling yang cukup panjang untuk memulihkannya. Dan pelaku kekerasan merupakan orang yang menyesatkan anak-anak korban, maka dia pantas dihukum mati. Anda setuju?

Berita Terkait