Kekerasan Terhadap Anak

• Oleh: Dr. Antonius Natan 160 dibaca
• Penulis adalah Sekretaris Umum PGLII Wilayah DKI Jakarta.

Beritanarwastu.com Di pertengahan tahun ini, sering sekali viral di sosial media terkait berita kekerasan terhadap anak disebabkan perilaku orang tua atau pengasuh, bahkan ada yang sampai meninggal. Ini merupakan suatu tindakan kriminal yang berpengaruh negatif bagi kejiwaan anak. Sepatutnya orang tua mengasuh anak dengan kasih sayang dan kelak menjadi anak yang sehat dan kuat. Tetapi banyak orangtua beranggapan bahwa disiplin harus diterapkan walaupun dengan cara yang keras dan menjurus kepada kekerasan adalah sesuatu yang wajar agar putra putri mereka menjadi anak yang kuat dan sanggup menghadapi tantangan zaman.

        Orang tua merasa bertanggung jawab dan memiliki hak eksklusif mendidik anak dan dianggap melindungi anak dari mental yang lemah. Berbagai bentuk kekerasan yang terjadi, seperti kekerasan secara fisik (physical abuse), kekerasan emosional (emotional abuse), kekerasan secara verbal (verbal abuse), kekerasan seksual (sexual abuse), dan kekerasan anak secara sosial. Anak menjadi objek kekesalan dan kemarahan dari orang tua.

Kekerasan terhadap anak, menurut WHO, adalah suatu tindakan penganiayaan atau perlakuan salah pada anak dalam bentuk menyakiti fisik, emosional, seksual, melalaikan pengasuhan dan eksploitasi untuk kepentingan komersial yang secara nyata atau pun tidak dapat membahayakan kesehatan, kelangsungan hidup, martabat atau perkembangannya, tindakan kekerasan diperoleh dari orang yang bertanggung jawab, dipercaya atau berkuasa dalam perlindungan anak tersebut.

Berdasarkan laporan "Global Report 2017: Ending Violence in Childhood" anak-anak Indonesia berumur 1-14 tahun mengalami pendisiplinan dengan kekerasan (violent discipline) atau agresi psikologis dan hukuman fisik di rumah sebanyak 73,7 persen. Ditambahkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam periode 2011-2016 mencatat sebanyak 4.294 kasus kekerasan pada anak dilakukan oleh keluarga dan pengasuh. Kasus terbanyak terjadi pada 2013, yaitu 931 kasus kekerasan anak.

 

Pemicu Kekerasan terhadap Anak

Orang tua merupakan pemicu kekerasan, dan hampir dapat dipastikan anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan semasa kecil oleh orang tuanya akan juga menjadi orangtua yang bertindak keras kepada anak-anaknya. Ini yang disebut orang tua mewariskan kekerasan kepada keturunannya atau disebut intergenerational transmission of violence

Kemiskinan dan kebodohan merupakan penyebab lain dari tindakan kekerasan terhadap anak. Tindakan kekerasan terhadap anak terjadi juga dalam keluarga kelas menengah dan kaya. Berbagai situasi orang tua yang menganggur, hutang, tekanan pekerjaan, perceraian, sakit, cacat dan kematian dapat mengubah perilaku orang tua kepada orang yang terdekat, yaitu kepada anak maupun istri atau suami.

 

PenanggulanganHYPERLINK "https://www.blogger.com/null" HYPERLINK "https://www.blogger.com/null"KekerasanHYPERLINK "https://www.blogger.com/null" HYPERLINK "https://www.blogger.com/null"TerhadapHYPERLINK "https://www.blogger.com/null" HYPERLINK "https://www.blogger.com/null"Anak

Pendidikan perlu diupayakan bagi para orang tua, upaya penyuluhan di rumah-rumah ibadah menjadi sarana penting dalam pembelajaran mendidik dan mengasuh anak. Sekolah-sekolah dapat juga menjadi wadah berbagi, pertemuan orang tua murid merupakan tempat yang tepat menyadarkan para orang tua yang melakukan tindakan kekerasan kepada anak.

Rumah tangga yang harmonis merupakan wadah tumbuh kembangnya anak sehat, orang tua yang akur dan saling menghormati serta mendukung satu dengan lainnya membentuk perilaku anak yang kuat dan mandiri. Hasil penelitian K. Gottschaldt di Leipzig Jerman menyebutkan 70,8 persen dari anak yang sukar dididik ternyata berasal dari keluarga yang tidak harmonis, single parent atau mengalami tekanan hidup yang terlampau berat.

 

Bangun Komunikasi Keluarga

Di zaman milenial ini anak-anak kurang memiliki rasa takut atau segan kepada orang tua, ada kecenderungan melawan, mungkin tidak dengan kata-kata tetapi bahasa tubuh dan sorot mata yang tidak bersahabat dan mengunci diri dalam kamar, tenggelam dalam games dan mencari dunia sendiri. Perilaku demikian tentu saja memunculkan stigma dan prasangka, memicu kemarahan orang tua kepada anak, kemarahan akan dilawan dan berujung kepada kekerasan orang tua kepada anak.

Maka seluruh anggota keluarga hendaknya yang saling berinteraksi dengan komunikasi yang efektif. Rasa takut atau segan harus dibangun dengan pertemuan-pertemuan keluarga yang rutin harus dilakukan, seperti makan bersama satu meja di rumah, atau melakukannya di waktu tertentu, seperti merayakan ulang tahun, kenaikan kelas dll. Orang tua sangat perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita anak-anak, bahkan apabila mungkin bermain bersama, olah raga dan ngopi bareng di waktu tertentu. Mari kita bangun keluarga sehat, harmonis dan sejahtera serta para laki-laki menjadi Bapak Sepanjang Kehidupan bersama keluarga.

Berita Terkait