Ketika Muncul Ajaran Sekte Sesat Meramalkan Hari Kiamat

3034 dibaca


Pada November 2003 silam, kita dikejutkan dengan ramalan Pdt. Mangapin Sibuea, yang mengatakan, 10 November 2003 lalu sebagai hari kiamat di Bandung. Tak ayal, Sibuea yang tadinya tak populer,  jadi terkenal, karena disorot media massa nasional. Apalagi, ramalannya tak terbukti. Yang menarik, sekitar 300 pengikutnya, yang konon sudah mendengar “suara Tuhan” mengaku kecewa dengan ajaran pria yang pernah dipecat dari GPdI dan GSPdI ini. Sibuea dipecat, karena ajarannya dinilai sesat.

Mengamati kiprah Sibuea, kita kembali teringat akan jejak David Koresh di Amerika Serikat (AS). David pada 1993 juga mengajak para pengikutnya untuk bunuh diri, dengan alasan mereka akan diangkat Tuhan ke surga. Saat itu, 74 orang pengikutnya tewas bunuh diri, termasuk 21 anak-anak. David sendiri tewas ditembak aparat. Ajaran David dalam Sekte Ranting Daud memang sangat ekstrim.

Dia membenarkan pengikutnya melakukan seks bebas. Selain itu, sektenya dianggap yang benar. Pada para pengikutnya ia mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Sama dengan Sibuea yang mengklaim diri sebagai “Rasul Paulus II.”  David yang menganggap agama-agama di dunia ini sesat, pada masa kecilnya memang tak bahagia. Orangtuanya bercerai, dan masa kanak-kanaknya dijalani dengan penderitaan. Dia sendiri tak bisa mengucapkan huruf secara benar, karena sekolah dasarnya tak lulus. Pada 1999, kakek berumur 60 tahun, Syamsuri, ikut meramalkan akan terjadi kiamat.

Akhirnya, ia dan pengikutnya mengungsi ke Gunung Srewet. Ramalannya menghebohkan masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur. Syamsuri yang mengaku mendapat suara dari roh Bung Karno, akhirnya dimasukkan ke penjara, karena dinilai membuat onar di tengah masyarakat.  Pada 1999, Sekte Gerakan Restorasi 10 Perintah Tuhan yang dipimpin Pastor Joseph Kibweetere ikut pula membuat heboh. Sekitar 330 pengikutnya tewas, karena bunuh diri massal.

Mereka yakin dengan bunuh diri tersebut mereka akan terangkat ke surga. Sebelumnya, pada 1978, Pastor Jim Jones pemimpin Sekte Peoples Temple, sudah mengajak 914 pengikutnya melakukan bunuh diri massal. Sekte The Sholar Temple  yang dipimpin Luc Jourent pada 1994, bersama 48 pengikut juga melakukan bunuh diri.

Peristiwa serupa dialami Sekte Pintu Surga (Heavens Gate) di AS. Pada 1997, 39 pengikutnya melakukan bunuh diri massal untuk menyambut komet Hale Bopp. Mereka percaya akan terangkat ke surga dengan benda luar angkasa. Di Jepang pada 1995, Sekte Aum Shinri Kyo (Kebenaran Tertinggi), pun meramalkan bahwa di atas tahun 2000 akan muncul teror dan horor yang mengerikan di dunia. Pimpinannya Shoko Asahara, lalu menimbun gas beracun untuk melakukan bunuh diri massal bersama pengikutnya.

Nah, kembali bicara tentang Sibuea, celakanya, pria Batak ini mengatakan, ia tak pernah menubuatkan 10 November 2003 sebagai hari kiamat. “Saya tak mengatakan 10 November sebagai hari kiamat. Yang saya katakan, 11 Mei 2007 Kristus akan menghancurkan anti-Kristus,” katanya. Tak ayal, ucapan Sibuea ini dianggap banyak pihak sebagai omong kosong, mirip politisi yang bicara plin-plan. Sibuea sendiri sudah dua kali meramalkan tentang hari kiamat. Pertama, pada 9 September 1999, kiamat pun diramalkan. Demikian pula pada 10 November 2004.

Tentang penyesatan yang dilakukan Sibuea, Pdt. Edward Simanungkalit, M.Div, menerangkan, Sibuea adalah chiliaist. “Chiliaist artinya: pemahaman tentang kerajaan 1.000 tahun yang diartikan terjadi di bumi secara harafiah. Orang yang menganut paham seperti ini dikenal dengan premillenialisme. Sedangkan gereja Protestan menganut amilleniali,” kata pendeta asal HKBP ini. Sejumlah jemaat yang sudah membaca NARWASTU Edisi November 2003, ketika menelepon ke kantor kami, mengatakan, Sibuea adalah pendeta sesat yang sudah dirasuki setan.

“Makanya ia perlu digembalakan, karena setan sudah ada di hatinya,” kata seorang penelepon. Penelepon lainnya mengatakan, “Sibuea adalah pendeta frustrasi. Mungkin untuk mencari popularitas ia membuat ramalan ala Ki Gendeng Pamungkas. Pamungkas juga kan peramal omong kosong.” Seorang jemaat asal Sumatera Utara, tempat kelahiran Sibuea ikut menudingnya si jogal rungkung (tegar tengkuk). Karena, ia tak mendengar nasihat para pendeta tentang ajarannya yang salah.

Pernah dikabarkan, sekitar 20 orang pengikut Sibuea akan bunuh diri dengan tali, karena frustrasi dengan ramalan bosnya. Sibuea sendiri dijerat dengan Pasal 156a KUHAP, dengan ancaman 5 tahun penjara. Dia dianggap menodai agama. Sedangkan ratusan pengikut Sibuea masih dilayani Crisis Centre Forum Komunikasi Kristiani Indonesia (FKKI) Jawa Barat yang dipimpin Pdt. Theo Christy. Menurut salah seorang pengikut Sibuea, Barnabas (58 tahun) asal Kupang, ia percaya pada nubuatan Sibuea, karena pernah mendapat bisikan dari seorang berpakaian rapi dan berseragam mirip mantan Wapres Try Sutrisno.

Pada saat itu, Barnabas lumpuh. Sejak mendapat bisikan itulah ia sembuh. Tapi, belakangan ia kecewa pada Sibuea, karena ternyata bisikan tersebut tak benar. Tentang sekte yang dianggap sebagai titisan setan itu, dikabarkan di Rembang, Jawa Tengah, ada juga sebuah sekte kiamat yang dipimpin Subekti. Sekte ini menyuruh para pengikutnya untuk meninggalkan pekerjaan, dan menjual hartanya sebelum Tuhan datang menjemput. Celakanya, sekte Subekti membenarkan pengikutnya melakukan hubungan seks tanpa ikatan pernikahan. Bahkan, mereka bisa saling tukar istri untuk seks. Khusus pada kaum wanita muda, diharuskan untuk melakukan hubungan intim pada sang pemimpin sekte sebagai bentuk penghormatan. Hingga sekarang, dikabarkan sekte yang satu ini masih berjalan.

Selain di Jawa Tengah, di Sumatera Utara, tepatnya di Deli Serdang, seperti diungkapkan Ketua LBH Medan, Irham Nasution, ada pula sekte seks bebas. Komunitas ini bebas melakukan hubungan seks tanpa ikatan suami istri. Diduga mereka menggunakan ilmu gaib dari setan ketika menjalankan ritualnya. “Biasanya mereka memanfaatkan mayat yang sudah diawetkan untuk aktivitas mereka. Jika seorang wanita berkunjung ke tempat mereka, bila salah seorang anggota sekte menyukainya, maka ia otomatis bisa diperistri anggota tadi,” kata Irham.

Lantaran adanya sekte tersebut, Irham meminta aparat agar membubarkannya. “Karena itu meresahkan masyarakat, maka harus dibasmi ke akar-akarnya. Selain di Deli Serdang, di kota-kota yang ada di Sumatera Utara sekte seks bebas itu sudah berkembang. Makanya, masyarakat harus melaporkannya ke aparat dan Departemen Agama kalau menemui sekte ini,” ujarnya.

Sementara itu, di Sumatera Barat (Sumbar), baru-baru ini masyarakat resah dengan bangkitnya kembali sebuah sekte sesat yaitu, Yayasan Misi Islam Ahlussunnah Waljamaah (Yamisa). Yamisa sejak 2001 lalu sudah dilarang Kejaksaan Tinggi daerah setempat. Soalnya, sekte ini punya cara ibadah yang berbeda dari umat Muslim pada umumnya.

Sejumlah hal yang prinsip di Islam diabaikan sekte tersebut. Yamisa dinilai salah satu sekte di Islam yang bisa mengganggu pemeluk agama. Sejumlah pemuka agama di Sumbar telah meminta aparat agar menindak tegas pengurus dan pengikut Yamisa. “Aparat kami nilai agak lamban bertindak, kita minta itu ditindak supaya umat jangan resah,” ujar Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Sumbar, Masoed Abidin. Kejaksaan Tinggi Sumbar dengan surat keputusan nomor 57/2001, menyatakan Yamisa dilarang.

Yamisa dikabarkan, dalam memperluas ajarannya ikut bergabung dengan partai politik tertentu. Yamisa juga kerap mendatangi masyarakat miskin dengan iming-iming untuk mencari pengikut. Warga yang dibidik kelompok Yamisa justru orang yang sudah beragama. Dari informasi yang beredar, tidak jelas disebutkan apakah pengikut yang dibidik Yamisa kelompok Kristen dan Islam. “Tidak boleh mengiming-imingi orang yang sudah beragama untuk masuk ke agama lain.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat juga sudah mengeluarkan fatwa, bahwa Yamisa meresahkan masyarakat yang sudah memeluk agama. Menjelang Pemilu 2004, Sekte Yamisa dikabarkan pula aktif menjalankan aksi untuk mencari pengikut baru. Tentang munculnya kembali sejumlah sekte sesat di Tanah Air, tokoh PGPI, Pdt. DR. Freddy Pattiradjawane M.Min, mengaku prihatin. Misalnya, Sekte Kiamat di Bandung amat memalukan warga gereja di Indonesia.

Pdt. Freddy yang juga Gembala Sidang GPdI Antiokia, Jakarta, mengisahkan, pada 1986, di gerejanya pernah ada seorang ibu yang ikut dalam sekte sesat. “Ibu ini dari segi ekonomi sangat mapan. Dia sekretaris direktur utama City Bank. Tapi, karena terpengaruh oleh ajaran sesat Pdt. E, ia meninggalkan pekerjaannya yang bagus itu. Padahal, gajinya dolar dan prospeknya bagus. Tapi, karena otaknya sudah didoktrin Pdt. E, ia melakukan tindakan yang amat konyol. Pengikut Pdt. E saat itu ada duapuluhan orang. Sama seperti aksi Mangapin, mereka menantikan hari pengangkatan ke surga,” cetusnya.

Ditambahkannya, pengikut Pdt. E itu juga meninggalkan pekerjaan, keluarga dan menjual hartanya. Mereka yakin, bahwa Tuhan akan mengangkat mereka yang merasa sebagai orang suci. Jadi, tak ada gunanya kekayaan duniawi. Mereka menunggu hari pengangkatan di Ragunan, Jakarta Selatan. Saat tiba hari pengangkatan, polisi justru menahan mereka dan diperiksa di Polda Metro Jaya.

“Pdt. E yang juga dari kalangan Pentakosta saat diperiksa aparat, memberi keterangan yang ngawur. Pendeta senior di GPdI, Pak A.H. Mandey sempat dimintai keterangan atas aksi Pdt. E. Pak Mandey bilang, pengetahuan dia tentang Alkitab memang minim. Pdt. E perlu digembalakan. Setelah beberapa hari ditahan di Polda Metro Jaya, karena ajarannya dianggap menyimpang, ia dilepaskan kembali agar digembalakan gereja asalnya. Berita tentang Pdt. E ini sempat muncul di beberapa koran,” tandas Freddy. MN               

Berita Terkait