Ketika Rumah Tangga Ahok Diguncang Prahara

• Oleh: Betty Bahagianty, S.Sos 893 dibaca


 BERITANARWASTU.COM. Awal tahun 2018 tiba-tiba saja kita dikejutkan oleh petikan berita mengenai Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. alias Ahok yang menggugat cerai istrinya, Veronica Tan. Bagaikan mendengar petir di siang bolong ketika berita tersebut menjadi trending topik di masyarakat. Banyak orang berharap bahwa berita yang beredar luas itu dan dipublikasikan di sejumlah media yang kredibilitasnya tak perlu diragukan lagi, adalah keliru atau hoax. Kendati, sangat tidak mungkin, bahkan mustahil jika itu hoax apalagi Ahok telah menunjuk Josefina Agatha Syukur sebagai pengacara melalui kantor  Law Firm Fifi Lety Indra & Partners yang adalah kantor pengacara adik kandung Ahok dan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.  

 Terbetik kabar bahwa penyebab dari perceraian itu, adanya orang ketiga dan sudah sejak lama kisruh rumah tangga itu berlangsung. Sebagai seorang Nasrani tentulah perceraian adalah sebuah momok dan “haram” untuk dilakukan. Terlebih, Ahok yang dikenal sebagai figur pemimpin yang punya integritas teruji selama menjabat sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta pada masanya. Tak jarang banyak orang yang menyayangkan jika rumah tangga yang dirajut sekian lama itu harus kandas di tengah jalan. Sebaik apapun Ahok, ia tetaplah manusia biasa yang jauh dari kata sempurna.

Demikian juga Veronica Tan, ia adalah sosok perempuan sekaligus ibu rumah tangga biasa yang mengurusi ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang. Mengenai sebab musabab hingga melahirkan gugatan cerai hanya merekalah yang tahu. Kebenaran Injil Matius 19:6 yang mengatakan bahwa, “Apa yang sudah disatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan manusia” itu sangat principal dan tidak bisa diganggu gugat. Sebab, pernikahan adalah bagian dari rencana Allah untuk manusia agar dapat beranak cucu. Oleh sebab itu, menikah tidak cukup hanya bermodalkan cinta semata.

Karena, memadukan dua sosok yang berbeda latar belakang, pola pikir, kebiasaan dan karakter adalah hal yang tidak mudah. Suka atau tidak suka, sebuah perceraian akan memberikan dampak tidak saja untuk suami dan istri tapi juga anak-anak. Ketimpangan dalam sebuah keluarga yang tidak seimbang atau harmonis bisa melahirkan anak-anak yang terluka secara batin, karakter dan menghambat pertumbuhan mereka secara psikis. Bahkan, perceraian bisa juga menjadi sebuah kutuk yang jika tidak dipulihkan akan terus berulang dari generasi ke generasi berikutnya.

 Di zaman akhir iblis selain menggoncang segi keuangan juga stabilitas keluarga. Tugas iblis adalah memecah belah keluarga, sehingga rencana Tuhan gagal pada keluarga Kristiani. Sebab, Dia tidak pernah merancangkan kegagalan atau kecelakaan (Yeremia 29:11). Apapun yang akan terjadi pada keluarga Ahok, kita percaya bahwa tangan Tuhan kiranya memberikan pertolongan. Sebagai saudara seiman, kita semua berharap bahwa Ahok dan Veronica bisa melewati masa-masa yang sulit ini dan kembali merajut bingkai keluarga kecil mereka dengan bahagia.

Tentu, semua itu dibutuhkan kerendahan hati untuk saling mengampuni, melihat persoalan ini sebagai sebuah pendewasaan secara iman untuk naik pada level berikutnya. Terutama, memberikan teladan bagi anak-anak mereka bahwa kesetiaan, pengampunan, belajar mengenal serta mengerti kelebihan dan kekurangan pasangan satu dengan yang lain, bahkan harus melibatkan Tuhan di dalam rumah tangga menjadi satu bagian yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kiranya kasih Tuhan selalu menyertai Ahok dan Veronica sekeluarga.

 

 

·         Penulis adalah jurnalis Majalah NARWASTU dan lulusan Fakultas Komunikasi IISIP Jakarta.

 

Kiranya Ahok selalu disertaiNya.

Berita Terkait