Ketua Majelis Pertimbangan PGI Bicara Pengharapan di Tengah Kehidupan

465 dibaca


Judul                                      : Hidup dari Pengharapan

Subjudul                                : Mempertanggungjawabkan Pengharapan di Tengah Masyarakat

                                                 Majemuk Indonesia         

Penulis                                 : Andreas A. Yewangoe

ISBN                                      : 978-602-231-377-9

Kode Buku (SL)                  : 10 05 03 71 00

Kode Buku (SAP)                : 111 01 05 03 0071

Ukuran                                 : 14.5 X 21 cm

Tebal                                      : 298 hlm

Penerbit                                : BPK Gunung Mulia

 

BERITANARWASTU.COM. Seorang Pekabar Injil, Hal Lindsey, pernah berkata, “Manusia dapat hidup 40 hari tanpa makan, 3 hari tanpa minum, 8 menit tanpa udara. Namun, hanya 1 detik tanpa harapan.” Setiap orang pasti setuju dengan pernyataan tersebut, kita tidak akan mampu bertahan sedetik pun tanpa pengharapan. Tanpa pengharapan kita tidak akan berani melangkah ke depan, bahkan kita tidak akan sanggup untuk memikirkan tentang hari esok.

Bagi orang percaya, kata “pengharapan” mungkin menjadi kata-kata yang sangat mereka nantikan ketika sedang dirundung masalah. Hanya dengan melihat atau mendengar kata “pengharapan,” masalah yang sedang kita hadapi menjadi terlihat kecil dan kita merasa mampu untuk mengatasinya. Namun,  yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita hanya senang menerima pengharapan tersebut kemudian menyimpannya? Ataukah kita sudah menerima dan kemudian membagikannya lagi kepada orang-orang di sekitar kita, yang juga membutuhkan sebuah pengharapan dalam hidup? Dalam firman Tuhan sendiri pun dikatakan, ”Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat”  (1 Petrus 3: 15).

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang dibukukan sebagai wujud pertanggungjawaban penulis terkait dengan pengharapan yang telah diterimanya. Buku ini membawa kita untuk melihat bagaimanakah peranan gereja dalam pemberitaan Kabar Baik di tengah bangsa Indonesia yang majemuk, mulai dari agama, suku, bahasa, serta tingkat perekonomiannya.

“Gereja-gereja telah terlibat dan mengambil bagian dalam perjalanan pemberitaan itu. Gereja-gereja di Indonesia juga berada dalam perjalanan dan ikut serta dalam tugas panggilan gereja di semua tempat dan segala zaman untuk memberitakan Injil kepada semua makhluk sampai ke ujung bumi dan sampai ke akhir zaman.”

gereja-gereja di Indonesia menyadari bahwa Injil tidak dikabarkan dalam sebuah ruang hampa. Injil dikabarkan dalam masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dalam segala seginya.

Di tengah kondisi bangsa yang mengalami kekacauan dalam berbagai bidang, gereja beserta dengan orang percaya sebagai perpanjangan tangan Tuhan diarahkan untuk terus mengabarkan kabar baik tersebut, memberi pengharapan dalam Kristus kepada orang sekitar maupun masyarakat dengan cakupan yang luas.

“Gereja proaktif di dalam memperjuangkan keadilan apabila ketidakadilan menjadi gaya hidup di dalam masyarakat. Gereja memelopori penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, ketika hak-hak itu diinjak-injak. Gereja memperjuangkan kemerdekaan beragama dan beribadah ketika banyak orang (bukan hanya Kristen!) dilecehkan hak-haknya. Ketika kemiskinan melanda sebuah masyarakat, gereja seharusnya proaktif ikut memeranginya, dan seterusnya.”

 

Tentang Penulis

Andreas Anangguru Yewangoe adalah seorang pendeta di Gereja Kristen Sumba. Beliau menamatkan studi teologinya pada tahun 1969 di STT Jakarta dan meraih gelar Doctor Theologiae pada tahun 1987 di Vrije Universiteit, Amsterdam. Selain sebagai seorang pendeta, ia pernah menjabat sebagai rektor di beberapa perguruan tinggi dan menduduki beberapa jabatan di PGI, di mana saat ini ia sedang menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan untuk periode 2014-2019.

Sekarang ia adalah Senior Fellow di Institut Leimena. Karya tulis yang dibuatnya antara lain: Theologia Crucis di Asia: Pandangan Kristen Asia Tentang Penderitaan (1987, sudah beberapa kali dicetak ulang); Agama dan Kerukunan (2001); Iman, Agama dan Masyarakat dalam Negara Pancasila (2002); Pendamaian (1983); Civil Disobedience (2009); Civil Society di Tengah Agama-agama (2009); Firman Hidup 24 (1981); Firman Hidup 39 (1985); Firman Hidup 78 (2013). Adri Budi Setiawan

 

Berita Terkait