Lemah Tapi Kuat

• Oleh: Rio Ririhena, S.Sos 557 dibaca


 BERITANARWASTU.COM. Saat menghadiri acara reuni SMA di Ambon beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Moderato, teman sekelas dulu yang baru saja sembuh dari stroke, walaupun masih agak sulit untuk berbicara dan berjalan normal. Dia menceritakan bahwa jika melihat kondisinya dulu saat terserang stroke, seharusnya dia sudah tidak lagi hidup sampai hari ini. Dan kondisi tersebut dibenarkan oleh beberapa teman yang saat itu datang menengoknya di rumah sakit. Dia saat itu ia sudah seperti orang yang tinggal menunggu waktu untuk dipanggil Tuhan. Tidak lagi bergerak dan dalam kondisi yang mengenaskan.

 Tapi jika melihat kondisinya saat menghadiri acara reuni sekolah kami, tidak disangka jika Moderato pernah mengalami masa-masa kritis ketika stroke menyerangnya. Dia begitu bahagia bertemu teman-teman yang sudah 30 tahun berpisah. Ekspresi wajahnya terlihat sukacita, bahasa tubuhnya menunjukkan kepada kami semua bahwa dia begitu menikmati saat-saat berkumpul saat itu. Dan saya sungguh diberkati saat dengan yakin dia katakana, dia belajar mengenal Tuhan lebih dekat lewat penyakit yang dideritanya.

 Saya teringat ayat Firman Tuhan di 2 Korintus 4:16-18 tentang bagaimana Paulus menyampaikan kepada jemaat di Korintus bahwa walaupun kondisi fisik mereka merosot, batiniah mereka justru mereka rasakan dibaharui dari hari ke hari. Teman saya yang dulu terkenal gagah dengan bentuk tubuh yang atletis, saat ini untuk berjalan pun dia harus menyeret-nyeret salah satu kakinya. Tapi saat dia percaya bahwa justru di dalam kondisi seperti itulah dia yang tadinya begitu sibuk dengan urusan pekerjaan sebagai seorang pegawai negeri sipil, saat ini punya banyak kesempatan untuk bersaksi kepada orang lain tentang kasih dan penyertaan Tuhan yang luar biasa dalam hidup pribadi dan keluarganya, baik disampaikan langsung maupun lewat media sosial.

 Paulus mengatakan, sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Ada perasaan sukacita dan iman yang diungkapkan lewat ayat ini bahwa meskipun ada rasa sakit, tapi saat mereka mengerti dan merasakan bahwa ada hal-hal yang supranatural yang bisa mereka rasakan dan bagikan kepada orang lain. Mereka tidak lagi merasakannya menjadi beban bagi hidup mereka. Saya percaya kondisi seperti ini jugalah yang dialami Moderato teman saya di Ambon. Dia terus menceritakan kebaikan Tuhan walau sudah tidak lagi terdengar sempurna kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia begitu rajin mem-post ayat-ayat Firman Tuhan serta kalimat-kalimat bernada positif dan inspiratif yang menguatkan orang lain di media sosial miliknya.

Terkadang saat kita diijinkan mengalami suatu penyakit yang membuat kita tidak dapat lagi beraktifitas normal seperti sedia kala, kita bisa berbalik menjadi pribadi yang sensitif. Menjadi pemarah, cepat tersinggung, tidak sabar, yang semuanya itu mungkin saja membuat kita menjadi beban bagi orang lain. Dan lewat pengalaman Moderato dan Paulus saya percaya bahwa Tuhan tidak menginginkan kita menjadi pribadi yang seperti itu. Tuhan merindukan kita tetap bersyukur dalam segala hal, segala situasi dengan tetap mengimani pertolongan Tuhan.

Belajar mengimani bahwa Tuhan turut bekerja di atas segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya yang mengasihi Dia. Kita belajar untuk mempercayai bahwa Tuhan bukan saja ada di saat hidup kita tenang-tenang saja, aman-aman saja. Tapi juga meyakini bahwa di dalam penderitaan kita, ada sesuatu yang ingin Tuhan nyatakan dalam hidup kita untuk dilihat oleh orang lain, dan kemudian menjadi berkat dan inspirasi bagi mereka.

 Paulus mengatakan, sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Korintus 4:18). Sesuatu yang sifatnya kekal itu hanya bisa dirasakan dan diimani oleh kita yang mengasihi Tuhan sungguh-sungguh dan mengerti bahwa kita bisa dipakai Tuhan dengan caraNya, bahkan di saat kita lemah sekalipun.

 Mari tetap bersyukur kepada Tuhan, apapun kondisi kita saat ini. Tetap bersukacita dalam sakit penyakit kita. Hati yang gembira adalah obat, kiranya tidak hanya kita gunakan sebagai slogan hidup tetapi mengimaninya. Tetap bersaksi, bahkan dalam kelemahan fisik kita. Seperti Tuhan sudah memakai Paulus dan Moderato, Tuhan juga mau memakai kita, bahkan dalam kelemahan kita sekalipun.

 

·         Penulis adalah Ketua Komisi Dewasa GKI Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, dan alumni Fakultas Komunikasi IISIP Jakarta.

Berita Terkait