Magnit

402 dibaca
• Oleh: DR. Eliezer H. Hardjo Ph.D., CM

BERITANARWASTU.COM. Kita semua tentunya tahu tentang magnit. Benda logam yang dapat menarik benda logam lain dan menempel dengannya. Magnit berasal dari bahasa Yunani: Magnetis lithos, yakni benda yang memiliki kekuatan untuk menarik benda lain yang memiliki kadar ferromagnetic, seperti besi. Jadi tidak semua benda dapat ditarik oleh magnit. Bahkan, sesama magnit saling menjauh, tidak bisa mendekat. Ada benda yang permanen mengandung daya magnit, ada yang sementara, diisi kemudian setelah dipergunakan habis dan hilang tenaga sedotnya.

Kita mengenal orang-orang yang sepertinya memiliki magnit, mungkin bisa kita sebut kharisma. Di manapun ia berada dan ke manapun ia pergi menjadi pusat perhatian, dan orang-orang ingin mendekat dan berkenalan dengannya. Para selebriti, pemimpin negara, raja-raja, orang kaya yang masuk dalam daftar orang paling kaya, kaliber lokal maupun global, mereka di antara orang-orang yang menarik perhatian. Memang ada orang-orang tertentu demi menaikkan popularitas yang sedikit banyak diidentikkan dengan kharisma, dicoba didongkrak dengan publikasi media dan kini media sosial. Ada yang berhasil dan ada yang gagal.

Mengapa orang ingin populer dan dianggap memiliki kharisma, tentu motivasinya lain-lain, namun sebagian besar seperti diungkapkan melalui Theory of Human Motivation karya Abraham Maslow (1943) atau disebut juga Hyrarchy of Needs Pyramide. Ketika manusia telah memperoleh yang menjadi dasar kehidupannya berangsur akan menginginkan yang lebih, dan pada puncaknya ialah self-actualization. Pernyataan diri yang membutuhkan dan menginginkan pengakuan orang lain. Hal ini terjadi terutama pada orang-orang yang memiliki ambisi, dan cenderung ambisius.

Biasanya orang-orang yang telah mencapai puncak tersebut, tidak ingin tersaingi, dan berusaha untuk terus melakukan yang lebih, bahkan tidak jarang, menghancurkan reputasi yang menjadi rival-nya, seperti kita saksikan dengan ulah para politisi dengan PILKADA-nya di negeri kita. Dan jangan heran para hamba Tuhan terkenal juga tidak terluput dari keinginan untuk menjadi hamba Tuhan yang paling terkenal.

Sepertinya menjadi semacam kritik yang pasti tidak menyenangkan hati. Kemudian timbul pertanyaan, jika demikian apakah menjadi orang yang memiliki magnit berdosa dan harus dihindari oleh kita yang menyebut diri sebagai orang Kristen dan anak-anak TUHAN? Ternyata jawabannya tidak. Bahkan perintah TUHAN: Jadilah magnit bagi orang lain!

Beberapa ayat Firman Tuhan ini berbicara bahwa kita diperintah untuk dan agar menjadi magnit di tengah masyarakat, di mana kita berada, terutama di tengah keluarga kita. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:4-7).

Ayat 6 dengan jelas mengatakan agar kebaikan hati kita diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Ada semacam desakan yang disampaikan oleh Rasul Paulus, menjelang kedatangan TUHAN yang kedua kali bahwa kita harus memperlihatkan diri kepada dunia dengan kebaikan hati kita agar mereka melirik dan ingin mengetahui lebih banyak mengapa kita berbaik hati dan TUHAN memperlihatkan bahwa kita yang selalu bersukacita akan mengundang perhatian orang lain untuk mengetahui lebih banyak dan lebih dalam mengapa kita dapat tetap bersukacita, dan ini akan mendorong orang lain ingin mengalami sukacita yang ada pada diri kita, dan untuk selanjutnya kita dapat meneruskan dengan langkah kita untuk memperkenalkan Tuhan Yesus yang tidak lama lagi akan datang kedua-kalinya ke dunia menjemput anak-anakNya.

Kebaikan hati tidak boleh disimpan sendiri, sebab kebaikan hati hanya terbukti jika kita melakukan perbuatan baik. Tidak mungkin orang yang baik hati berbuat jahat, atau sebaliknya orang yang berbuat jahat tidak mungkin keluar dari kebaikan hati. Dalam sebuah percakapan seorang muda yang kaya dengan Tuhan Yesus, ia bertanya kepada Tuhan:

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah. "Kata orang itu kepada-Nya, "Perintah yang mana?" Kata Yesus, "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."Kata orang muda itu kepada-Nya, "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"Kata Yesus kepadanya, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya (Matius 19:16-22).

Tersirat di sini dua hal: (a) Perbuatan baik ada hubungannya dengan kehidupan kekal, kelak ketika kita meninggalkan dunia ini, (b) Sepuluh perintah Allah merupakan refleksi dan perwujudan perbuatan baik. Dalam kisah anak muda di atas rupa-rupanya motivasi yang berada di belakang perbuatan baik itu tidak mencapai lubuk hati dan sebagai perwujudan kebaikan hati yang paling dalam. Mungkin zaman sekarang disebut “pencitraan.”

Ayat lain mengatakan, TUHAN sesungguhnya memperlengkapi kita dengan perbuatan baik, jika kita mau menerima dan menjalankannya, yakni dengan Firman TUHAN. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16-17).

Kita diperintah, bukan dilarang, untuk menjadi magnit bagi orang lain, tetapi magnit yang Alkitabiah, bukan mencari ketenaran karena ingin diakui, karena kesombongan kita. Yuk, kita ikuti teladan Tuhan Yesus yang telah menjadi magnit berabad-abad dan lebih dari separuh manusia di dunia bahkan pada waktunya semua akan mengakui dan mengaguminya:

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.5  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! Tuhan Yesus Memberkati.

 

·         Penulis adalah Pembina/Penasihat Majalah NARWASTU.

 

Berita Terkait