Melalui Vox Point Indonesia Melayani di Tengah Gereja dan Bangsa

731 dibaca
Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H. Nasionalis dan religius.

BERITANARWASTU.COM. Tokoh nasionalis dan religius yang juga dikenal Ketua I Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Keuskupan Agung (KAJ), Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H. telah mendirikan sebuah organisasi tokoh-tokoh nasionalis dari Katolik, yang peduli pada persoalan sosial, politik dan kemasyarakatan. Organisasi bernama Vox Point Indonesia (VPI) ini berdiri, karena dilatarbelakangi, pertama, menyadari akan kurangnya awam Katolik yang terlibat di bidang sosial, politik, kemasyarakatan dan organisasi kenegaraan. Kedua, memandang perlu tumbuhnya kesadaran umat Katolik untuk berminat terlibat di bidang sosial, politik, kemasyarakatan dan kenegaraan. Ketiga, menjawab tantangan di bidang sosial, politik, kemasyarakatan dan kenegaraan yang membutuhkan regenerasi kepemimpinan nasional. Keempat, perlunya keterlibatan umat Katolik secara aktif dalam mewujudkan kehidupan nasional yang lebih baik.

Yohanes Handoyo yang sudah menulis buku berjudul Mengelola Negara adalah Mengelola Manusia ini, menerangkan, tujuan atau visi VPI, pertama, menyuarakan kebenaran dan keadilan. Kedua, mengembangkan nilai-nilai kebangsaan. Ketiga, sebagai wadah kajian strategis bidang sosial politik, kemasyarakatan dan kenegaraan. Keempat, terwujudnya eksistensi umat Katolik di bidang sosial, politik, kemasyarakatan dan kenegaraan serta bersekutunya aktivis Katolik untuk mengembangkan nilai-nilai kebangsaan menuju masyarakat yang damai, adil dan sejahtera berdasarkan empat nilai konsensus dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

  Misinya, pertama, memperjuangkan nilai kesetaraan umat Katolik dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, membangun kerjasama dan persaudaraan lintas organisasi, lembaga dan denominasi. Ketiga, meningkatkan partisipasi umat Katolik dalam kehidupan sosial, politik, kemasyarakatan dan kenegaraan serta tampil menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Azasnya, nilai-nilai konsensus dasar bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sedangkan program dari VPI, pertama, mensosialisasikan program Vox Point Indonesia ke umat paroki, tokoh Katolik dan klerus se-Jakarta Raya, se-Indonesia dan pengembangannya. Kedua, mewujudkan adanya forum diskusi dan pemberdayaan sosial, politik, kemasyarakatan di tingkat umat dan aktivis Katolik. Ketiga, menempatkan wakil-wakil rakyat dan jabatan politis kenegaraan yang berasal dari umat Katolik. Keempat, membangun kerjasama dengan organisasi, komponen kemasyarakatan, LSM dan lembaga lain yang memiliki pandangan ideologis dan nilai-nilai kebangsaan. Kelima, turut mencerdaskan kehidupan bangsa dan kesejahteraan umum.

                Yohanes Handoyo selama ini dikenal figur anak bangsa yang tak lelah memperjuangkan demokrasi, pluralisme, Pancasila, HAM dan nilai-nilai kebangsaan. Bukunya Mengelola Negara adalah Mengelola Manusia itu merupakan kumpulan tulisannya di sejumlah media, terutama yang dimuat  NARWASTU sejak 2013 lalu. Di bukunya ini ada dimuat sambutan dari Romo Benny Soesetyo (KWI), Dr. A.B. Susanto (Direktur Jakarta Consulting Group), Sofyan Wanandi (Ketua Tim Ahli Wakil Presiden RI) dan Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemred Majalah NARWASTU). Jonro Munthe ketika memberikan sambutan dan membedah bukunya itu, menuturkan, Pak Yohanes Handoyo adalah figur langka. Dia seorang anak bangsa yang  gelisah dengan keadaan gereja, masyarakat dan bangsa ini, sehingga ia menulis, mengadakan seminar dan diskusi.

Menurutnya, masalah sosial politik, kemasyarakatan, pemerintahan dan perburuhan selalu dikritisinya. “Sehingga membuat kita semakin dicerahkan untuk melihat apa sesungguhnya yang terjadi. Sudah sejak tahun 2013 yang lalu Pak Handoyo menulis di NARWASTU. Dan tulisannya soal Ahok (Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.) pernah juga kami muat di NARWASTU berjudul, ‘Duh, Ahok Kembali Membuat Berita.’ Karena Ahok saat itu keluar dari Partai Gerindra dan itu ditulis Pak Handoyo,” kata Jonro Munthe.

Yohanes Handoyo, kata Jonro, adalah seorang tokoh yang cerdas, berani, nasionalis dan peduli pada persoalan bangsanya. Jonro berpendapat, selama ini pun ia mencermati jejak Yohanes Handoyo yang sempat membuatnya tertegun. “Saat berlangsung Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 yang begitu sengit dengan pertarungan Prabowo dan Jokowi, saya lihat Pak Handoyo bisa berada di tengah,” pungkasnya.

“Saat diadakan diskusi soal Pilpres 2014, meskipun saat itu cukup tegang, namun Pak Handoyo bisa tetap bersahabat baik dengan pendukung Prabowo dan Jokowi. Ini luar biasa,” katanya. Jonro menambahkan, kalau Yohanes Handoyo bisa eksis dan sukses, seperti sekarang, itu tak bisa dilupakan bahwa ada keluarga yang mendukungnya. “Ada ungkapan orang bijak mengatakan, Kesuksesan seorang pria pasti ada seorang wanita atau istri hebat di belakangnya. Demikian juga kesuksesan Pak Handoyo, ada istrinya yang mendukung dari belakang,” ujarnya. Yohanes Handoyo saat itu serius menyimak sambutan Jonro. Lalu ketika menyampaikan sambutan, Yohanes Handoyo mengatakan, ia memang selalu disemangati pihak  NARWASTU agar terus menulis persoalan bangsa dan masyarakat.

“Saya memang seorang Katolik dan seorang Indonesia. Dengan talenta yang saya miliki, saya ingin berbuat sesuatu untuk bangsa ini, dan ingin memberi pencerahan terhadap bangsa ini. Kita harus terus menyuarakan keadilan dan kebenaran dengan landasan iman Katolik,” ujar Sekretaris Umum Perhimpunan PERDUKI ini.
Di dalam buku setebal 110 halaman dengan kertas luks ini, Benny Susetyo
pun menuliskan, “Iman tanpa keadilan hanyalah omong kosong. Iman tanpa sebuah tindakan berarti mati. Beriman tanpa memperjuangkan keadilan dan kebenaran adalah iman keropos. Inilah tuntutan yang tidak bisa ditawar. Seorang beriman yang diam dengan segala praktik, penindasan, pengisapan, penyelewengan adalah dosa besar. Iman yang hanya menjalankan ritual tidak membebaskan manusia dari prasangka curiga, buruk. Dia hanya menjadi benalu. Beriman, orang harus keluar dari diri sendiri dengan berani menjadi saksi.”

“Ini dikatakan oleh Uskup Romero, ‘Berpolitik berarti melayani masyarakat bukan main kuasa. Maka orang Kristen yang berpolitik harus bermoral, tidak perlu bohong, tidak melakukan korupsi dan kekerasan, atau mencari sasaran dengan mengorbankan kepentingan umum dan kesejahteraan umum, hak dan kebahagian orang lain apalagi orang kecil.’ Pak Handoyo mencoba mengaktualisasikan dalam tulisan di bukunya bagaimana beriman secara otentik diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga buku ini menjadi inspirasi untuk mendalami iman dan berkarya bagi bangsa ini. Iman berbicara tentang ketidakadilan, kekerasan, pengisapan…Semoga buku ini, memberikan inspirasi gerakan bagi bangsa ini dan pelayanan publik,” tulis Sekretaris Dewan Nasional SETARA Institute ini.

Di samping giat di VPI dan Perhimpunan PERDUKI, baru-baru ini, Yohanes Handoyo dipercaya sebagai salah satu pengurus teras PERGERAKAN INDONESIA MAJU (PIM) yang dipimpin tokoh nasional dan tokoh lintas agama, seperti Prof. Dr. Din Syamsuddin (Ketua), dan Dr. Ali Masykur Musa (Sekretaris). Dan sejumlah pemuka agama Islam, Katolik, Budha, Hindu dan Kristen pun ada dalam jajaran penasihat dan pengurus PIM ini. Yohanes Handoyo dipercaya sebagai Wakil Bendahara PIM. PIM ini memiliki anggota Dewan Nasional sebanyak 45 orang dan misinya untuk kemanusiaan, kemajemukan dan kebersaman anak bangsa. Dan sejumlah tokoh nasional sudah mendukung keberadaan PIM 

Berita Terkait