Pdt. Palti Panjaitan, S.Th
Melawan Ketidakadilan Atas Kasus HKBP Filadelfia

1148 dibaca
Pdt. Palti Panjaitan, S.Th

 

          Beritanarwastu.com. Setahun lebih sudah jemaat HKBP Filadelfia Tambun, Bekasi, Jawa Barat, terkatung-katung dalam mencari tempat beribadah. Maklumlah, gereja tempat mereka memuji Tuhan telah disegel oleh aparat dan pemerintah daerah setempat tanpa alasan jelas. Sebelumnya sekelompok massa intoleran sudah menteror kegiatan ibadah mereka. Sebelum petaka itu terjadi, kehidupan jemaat HKBP Filadelfia dengan masyarakat setempat yang notabene adalah pemeluk non-Kristen cukup rukun dan damai. Namun siapa yang menduga, jika perdamaian yang tercipta di tempat itu justru membuat pihak tertentu merasa terganggu.
          Pada 2007 saat Pdt. Palti Panjaitan, S.Th ditugaskan melayani di Gereja HKBP Filadelfia, ia cukup terkejut, karena bangunan gereja belum ada. Selama ini para jemaat beribadah dari rumah ke rumah, sebab belum mendapat izin membangun gereja dari Bupati Kabupaten Bekasi. Selama dua tahun bersama para jemaat Pdt. Palti Panjaitan bergerilya beribadah dari satu rumah ke rumah lainnya.
           Pada 2009 lalu, atas kemurahan Tuhan jemaat HKBP Filadelfia mampu membeli bangunan di atas lahan seluas 1.000 meter persegi di Desa Jejalen, Tambun. Pembelian bangunan itu dirasa penting sebagai tempat beribadah, karena jumlah jemaat terus meningkat, hingga 615 orang. Selama dua tahun ibadah berjalan cukup baik, kendati gereja belum mengantongi izin pembangunan dari bupati. Di tengah suasana damai itu tiba-tiba isu Kristenisasi mencuat ke permukaan yang digulirkan oleh sebuah kelompok intoleran. Mereka melakukan provokasi terhadap masyarakat sekitar sehingga melarang jemaat beribadah.
          Dari sekadar melarang beribadah sampai akhirnya Pemerintah Kabupaten Bekasi ikut menyegel dan menggembok gereja. Alhasil, jemaat tidak bisa beribadah di gereja tersebut sampai hari ini. Isu Kristenisasi yang dianggap sebagai penyebab utama, hingga gereja tersebut disegel dan digembok. Menurut Pdt. Palti Panjaitan, tentu saja alasan itu sangat mengada-ada. Tidak ada niat kami untuk melakukan itu. Kami sangat menghargai saudara Muslim dengan kepercayaan yang mereka anut.
          Seolah tak puas hanya dilakukan penyegelan dan penggembokan, kini akses jalan menuju gereja pun  dihalangi oleh beberapa orang yang meningkat menjadi puluhan, hingga ratusan orang yang menutup jalan. Tindakan mereka kian berkembang dengan melakukan aksi provokasi kepada jemaat HKBP Filadelfia, baik hendak, sedang maupun setelah beribadah. Dengan tindakan yang ironis itu, tak sedikit jemaat yang kemudian takut dan menitikkan air mata, karena beribadah saja di negeri ini dihalangi.
           Sebagai pemimpin jemaat Pdt. Palti mencoba berdialog dengan warga sekitar, tapi sia-sia. Penutupan jalan justru tetap berlangsung dan cenderung lebih parah, karena mereka membawa kayu dan senjata tajam untuk menakut-nakuti jemaat. Selain itu, ada spanduk yang intinya penolakan gereja. Tak puas hanya di situ, aksi mereka kian menjadi-jadi. Tak sekadar menutup jalan menuju gereja dan mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, melainkan juga mulai melakukan intimidasi fisik.

 

Misalnya, dengan melempar kotoran sapi, telur busuk, menyiram air comberan ke jemaat. Aksi ini berlangsung sepanjang tahun belakangan ini. Ironisnya, para penegak hukum yang seharusnya melindungi dan menindak setiap pelaku yang mengganggu kepentingan umum, termasuk menghalang-halangi jemaat yang akan beribadah. Malah mereka terlihat berada di garda terdepan bersama kelompok intoleran itu. Tahun 2012 saat malam Natal tiba, rupanya itu menjadi momen memilukan bagi jemaat HKBP Filadelfia dan Pdt. Palti Panjaitan.

 

Pasalnya, alumnus STT Jakarta ini saat hendak pergi melayani jemaatnya  bersama istrinya dengan mengendarai motor, lima ratus meter dari gereja, ungkapan-ungkapan negatif masih terus dilontarkan kelompok intoleran itu. Mendengar itu, Pdt. Palti Panjaitan dan istri sama sekali tak menggubrisnya. Namun, massa malah semakin garang, dan ada suara yang memerintahkan untuk mengejar pasangan suami istri itu. Akhirnya Pdt. Palti Panjaitan tidak melanjutkan perjalanan, dan mencoba mendekati massa yang sudah mengelilinginya.
             Salah satu dari kelompok massa itu langsung meluncurkan bogem mentah ke arah wajah Pdt. Palti Panjaitan, namun ditangkisnya. Beruntung, tak lama kemudian ada jemaat yang datang, sehingga ia bisa melanjutkan perjalanan ke gereja dengan terus dicaci-maki oleh massa. Keesokan harinya, Pdt. Palti Panjaitan dikejutkan dengan status tersangka yang disandangnya. Ia didakwa melakukan pelanggaran sesuai dengan Pasal 351 Jo 335 KUHP. Tak tinggal diam dengan ketidakadilan itu, Pdt. Palti melaporkan soal tindakan kekerasan yang dilakukan oleh massa. Namun laporannya itu diam teronggok. Hal itu terbukti, tak ada seorang pun kelompok intoleran itu yang ditetapkan sebagai tersangka.
             Terkait dengan masalah itu, Pdt. Palti harus bolak-balik ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. ”Di situ aku selalu bilang, aku bukan pelakunya. Tapi, polisi berkilah jika mereka memiliki bukti, sehingga aku sudah resmi menjadi tersangka,” katanya kecewa. Mendengar hal itu, air mata Pdt. Palti jatuh seakan-akan tak kuasa membendung kesedihan sekaligus kekecewaan yang dalam. Akan tetapi, istri dan anaknya tetap tegar menerima kenyataan itu. “Aku jadi kuat karena mereka. Meskipun jika ini jalan Tuhan aku harus dipenjara, aku sudah siap mental,” katanya tegar.  Sejumlah advokat sudah terjun membantu Pdt. Palti guna memperjuangkan kasusnya ini, seperti Thomas Tampubolon, S.H., M.H., Aldentua Siringoringo, S.H., Saor Siagian, S.H., M.Hum dan Julianto Simanjuntak, S.H. Mereka bahkan mendatangi Komnas HAM dan Gedung DPR-RI Senayan untuk menyuarakan kasus ini. 

 

Berita Terkait