Y. Deddy A. Madong, S.H.
Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata

900 dibaca
Y. Deddy A. Madong, S.H.

            Beritanarwastu.com.  Tokoh muda yang juga advokat yang cerdas, Y. Deddy A. Madong, S.H. pernah mengatakan, kalau kita ingin terjun menjadi wakil rakyat, apalagi menjadi presiden, maka kehidupan kita seharusnya berdampak bagi sekeliling kita dulu.  “Makanya, lakukanlah kerja-kerja nyata di tengah masyarakat,  meskipun itu tidak terlihat, namun masyarakat merasakan manfaatnya.  Jangan bermimpi menjadi anggota dewan atau presiden kalau tak pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi rakyat. Kita dengar banyak caleg stres, gila dan depresi, karena gagal, lantaran motivasinya untuk menjadi pemimpin bukan untuk jadi berkat di tengah masyarakat,” ujarnya lagi.

 

Pemimpin itu, imbuhnya, harus belajar dari jejak Yesus, yang saat hidupNya melayani dari satu kota ke kota lain, dan dari satu desa ke desa yang lain untuk memperhatikan masyarakat. “Atau istilah sekarang suka blusukan. Memberikan makan banyak orang, menyembuhkan orang-orang sakit, menghidupkan orang mati, mengajar dan membebaskan orang-orang tertawan karena kuasa kegelapan. Kerja-kerja nyata Yesus itu jadi berkat bagi banyak orang. Sehingga pemimpin tak perlu banyak bicara, tapi tunjukkan kerja nyata,” pungkasnya.
           “Dulu Barrack Obama pun begitu sebelum jadi Presiden Amerika Serikat. Saat ia jadi pengacara, orang miskin di Chicago ia bantu, dan ia bantu orang-orang yang kesulitan dalam hidup sehari-hari. Itu kemudian yang membuat namanya jadi perbincangan di Amerika. Itu ibarat ‘politik retail’, mengerjakan hal-hal kecil yang berdampak signifikan bagi banyak orang. Nah, setelah itu nanti Tuhan sendiri yang akan mempromosikan kita ke tingkat yang lebih tinggi,” pungkas pria yang sejak era Orde Baru sudah diminta tokoh nasional, almarhum Sudharmono, S.H. (Ketua Umum Golkar dan Wakil Presiden RI) agar terjun jadi politikus dan anggota DPRD, namun ia menolak.
              Deddy bersama KWI, pemimpin gereja aras nasional, World Vision Indonesia dan Wahid Institute kini pin sedang mempersiapkan modul Membangun Paradigma Inklusif  bagi Pemimpin Lintas Agama dan program Membangun Kepemimpinan Anak yang Inklusif di Masa Depan semacam modul masukan untuk revolusi mentalnya Jokowi. Ketua Komisi Hukum dan HAM Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) dan Sekjen ELHAM (Lembaga Advokasi Hukum dan Hak Azasi Manusia) ini, adalah aktivis gereja yang giat memberdayakan masyarakat, baik di bidang hukum, sosial, pendidikan maupun mempersiapkan kaum  muda jadi pemimpin masa depan.

 

Melalui Yayasan Sahabat Indonesia Cerah yang dipimpinnya, selama ini Deddy aktif melayani masyarakat di bidang sosial, pendidikan, membuat PAUD (pendidikan anak usia dini), dan rumah cerdas di berbagai daerah di Tanah Air. Bahkan, suku Badui luar pun mereka layani agar merasakan manfaat dari pendidikan. Tak hanya itu, mereka kerap mengadakan bakti sosial dan pelayanan kasih terhadap masyarakat miskin, korban bencana dan narapidana.  “Semua itu kita lakukan karena kasih, agar kita sebagai anak Tuhan bisa menjadi berkat bagi sesama, terutama bagi bangsa ini,” paparnya.

 

“Tidak banyak media yang tahu pelayanan yang kami lakukan itu. Semuanya itu kita lakukan bukan untuk manusia, tapi agar nama Tuhan dimuliakan,” pungkas Deddy yang pernah bersama teman-temannya di Yayasan Amal Pelayanan Hukum (YAPH) membantu kurang lebih  2.000 kasus warga miskin dan tidak mampu. Tak heran, kalau hari-harinya terisi dengan banyak aktivitas pelayanan, selain ia berprofesi sebagai advokat. Deddy yang mantan Ketua Panitia Munas X PGLII (2011) memulai kariernya di bidang hukum sejak 1993 ketika ia direkrut oleh mantan Wakil Presiden RI, Sudharmono, S.H. (alm.) bersama sejumlah mantan menteri, antara lain Bustanil Arifin, S.H. (alm.), Ali Said, S.H. (alm.), Ismail Saleh, S.H. (alm.) serta mantan Ketua Komnas HAM Joko Sugianto, S.H., menjadi salah satu advokat di Yayasan Amal Pelayanan Hukum. YAPH adalah sebuah yayasan yang memberikan pelayanan hukum terhadap masyarakat miskin dan tak mampu.
          Ketua Komisi Pelayanan Masyarakat dan Advokasi Hukum Majelis Pusat Sinode GKPB (Gereja Kristen Perjanjian Baru) MDC, yang pernah menjadi lulusan terbaik dari Universitas 17 Agustus (UNTAG), Jakarta, ini menambahkan, kalau pemimpin bangsa ini mau sukses sebagai pemimpin, maka ia harus yang hormat dan takut akan Tuhan, cinta NKRI, Pancasilais, inklusif, tidak picik, menghargai keberagaman, taat kepada konstitusi dan menghargai pluralisme.  

 

Pemrakarsa berdirinya Forum Lembaga Keumatan Gerejawi DKI Jakarta sebagai wadah kesatuan umat Kristen ini, pernah dipercaya sebagai Ketua Panitia Sidang MPL-MPH PGI (2010). Ia juga anggota PERADI serta AAI. Dan ketika marak penutupan gereja pada 2004-2009 lalu, ia bersama Posma Rajagukguk, S.H. serta 1.000 aktivis gereja mendirikan ELHAM. ELHAM pun giat memberi bantuan hukum terhadap korban pelanggaran HAM, serta banyak melakukan pendidikan hukum dan HAM. ELHAM kini telah memiliki 23 cabang di Indonesia. ELHAM juga konsisten memberikan penghargaan terhadap sosok pejuang HAM.

Salah satu Ketua YAMARI, Penasihat tabloid kaum muda Kristiani Youth Talent ini, juga Ketua Panitia Rapimnas PGLII 2013 ini, berpendapat,  pemimpin di Indonesia harus bisa meneladani karakter Yusuf, Musa dan Daniel yang selalu menunjukkan rasa takut dan hormatnya kepada Tuhan. “Begitu juga pemimpin bangsa ini, kalau mereka takut dan hormat akan Tuhan, maka tempat-tempat ibadah, seperti gereja harusnya dilindungi agar jangan dirusak massa atau dibiarkan tidak diberikan izin beribadah. Kalau seorang pemimpin menghormati dan takut akan Allah, maka percayalah dia akan sukses memimpin rakyatnya,” tukas Deddy yang juga kerap menyuarakan soal pentingnya regenerasi kepemimpinan di organisasi gereja, seperti PGI.

Berita Terkait