dr. Rosma Napitupulu, MARS.
Memberi yang Terbaik Sebagai Dokter

1270 dibaca
dr. Rosma Napitupulu, MARS. Dokter dan penatua di gereja.

Beritanarwastu.com. Sebagai seorang wanita yang memimpin ratusan orang dalam lingkup rumah sakit bukanlah perkara mudah, tapi dr. Rosma Napitupulu, MARS, mampu membuktikannya melalui berbagai penghargaan yang didapat RSU UKI, Jakarta. Prinsipnya sangat sederhana, melakukan segala sesuatunya untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.

 

Jadi Dokter

             Tak pernah terbersit dalam benak dr. Rosma Napitupulu, MARS., kalau pada akhirnya ia menjadi seorang dokter. Sekelarnya lulus dari Sekolah Katolik Tarakanita, Jakarta, ia langsung diperhadapkan pada dua pilihan, yakni kuliah di jurusan pertanian atau kedokteran. Setelah berbagai pertimbangan yang matang, akhirnya ibu tiga orang anak ini mengambil studi di Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta.

 Seakan menemukan dunianya, istri dari Drs. Edison P. Pandjaitan ini langsung mengaku jatuh hati pada jurusan yang diambilnya itu. Setelah lulus ia ditempatkan di Rumah Sakit UKI, Jakarta. Mantan Direktur Umum dan Marketing Rumah Sakit Mulia Insani, Cikupa, Tangerang, Banten, ini pun setelah berhasil mendapatkan gelar dokter umum, ia ingin mengambil spesialis penyakit dalam. Dan salah satu syaratnya yang diajukan oleh negara adalah harus mengambil Inpres.

Di situ wanita berdarah Tapanuli ini ditugaskan ke Viqueque, Timor Timur, selama dua tahun. Selesai bertugas wanita yang pernah menjabat sebagai Asisten Penyakit Dalam di FK UKI/RSU UKI dan Koordinator Bank Darah RS UKI ini langsung ditempatkan di Kanwil Depkes Provinsi DKI Jakarta sebagai PNS, dan cita-cita menjadi dokter ahli penyakit dalam pun menjadi terlupakan  

 Dalam melaksanakan tugas di Kanwil Depkes Provinsi DKI Jakarta, dokter kita ini mendapat tugas belajar dari Kakanwil Depkes Provinsi DKI Jakarta dalam bidang Spesialis  Administrasi Rumah Sakit di Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Sembari mengambil pendidikan itu, ia juga tetap praktik sebagai dokter keluarga di Askes Sosial.  “Saat itu saya bangga dapat melayani sebagai dokter keluarga walau penghasilannya sangat  kecil, tapi, kan, memang melayani,” kenangnya bangga. Dari situ kemudian ia bertugas dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya, dengan menduduki posisi penting dan tahun 2011 bergabung di RSU UKI, Jakarta, menduduki jabatan sebagai direktur utama sampai hari ini.

 

Perubahan ke Arah Lebih Baik

Bagi dokter yang pernah bertugas di Kanwil Depkes Provinsi DKI Jakarta dan di Rumah Salit Khusus Daerah Duren Sawit, DKI Jakarta ini, jabatan yang diembannya merupakan kepercayaan yang harus dilakukan semaksimal mungkin, apalagi ia memiliki pengalaman sebagai Auditor ISO. “Di RSU UKI saya ingin membenahi apa yang belum ada, seperti regulasi dan sebagainya. Saya akan berjuang habis-habisan,” katanya semangat.

 Komitmennya bersama direksi lainnya untuk membawa RSU UKI ke arah yang lebih baik rupanya bukan isapan jempol semata. Hal itu dibuktikannya melalui keberhasilan IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) yang menjadi percontohan. Selain itu, juga prestasi lain di mana RSU UKI mendapatkan akreditasi dari pemerintah dalam 12 layanan memenuhi standar yang ada, serta meraih penghargaan lulus tingkat Paripurna Akreditasi Versi 2012 dari KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit)

 Dengan prestasi tersebut seolah menambah semangat para staf dan dokter di tempat itu untuk terus bahu membahu sesuai dengan jargon rumah sakit berbasis Kristen itu, yakni “Melayani dan Bukan Dilayani.” Apalagi dengan kebijakan dari pemerintah mengenai BPJS. Bahwa RSU UKI hampir 60-70% pasiennya merupakan BPJS. Yang artinya adalah siap menampung dari kalangan menengah ke bawah. “Di sini jumlah karyawannya ada sekitar 500 orang, dan bagaimana mereka tetap mendapatkan kesejahteraan dan kompetensinya tetap terus kami tingkatkan agar para pasien mendapatkan pelayanan terbaik. Karena dalam Akreditasi Versi Tahun 2012, pelayanan itu menuntut peningkatan mutu pelayanan  dan pasien safety, dan pelayanan lainnya,” terang dokter berkacamata ini ramah.

 Pelayanan yang terbaik tak hanya diberikan dengan lingkungan layanan bagi pasien rawat inap, akan tetapi perihal pelayanan dengan dokter dan perawat memberikan inform consent yang baik dan jelas, sehingga pasien mengetahui hak dan kewajibannya dalam perawatan di rumah sakit. Sebagai contoh dalam hal pemberian suntikan kepada pasien harus terlebih dahulu diberitahukan kepada keluarga, suntikan apa yang diberikan, bagaimana pemberiannya dan disetujui oleh keluarga atau pasien dan ditandatangani, sebagai salah satu syarat utama agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

 Di samping itu, para pasien dapat mengisi kuisioner yang disediakan pihak rumah sakit. Hal itu sangat bermanfaat untuk mengetahui kualitas pelayanan yang diberikan rumah sakit yang dipimpin dr. Rosma Napitupulu, MARS. “Dari kuisioner itu setiap harinya kita adakan evaluasi, di mana hasilnya kita rapatkan. Dari penilaian itu menyeluruh mulai dari satpam, makanan untuk pasien, sanitasi, pelayanan dan lain-lain. Semuanya demi meningkatkan mutu pelayanan. RSU UKI gedungnya boleh tua, tapi pelayanannya harus tetap muda,” tukasnya sembari tersenyum

 

Dokter yang Jadi Teladan

               Menurut dokter kita yang satu ini, prestasi RSU  UKI adalah hasil kerja tim direksi, dokter, perawat dan seluruh karyawan, selain hasil kerja keras dari tangan dinginnya, sehingga hal itu jadi penyemangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh pasien. Bagi Rosma, ia memiliki visi yang menjadi prinsipnya di mana pun ia bertugas. Yakni, melakukan yang terbaik dan harus menjadi contoh bagi para karyawannya.

              “Sebaiknya diusahakan masuk kerja jam 8 tepat, dan kalau pulang jangan teng-go, kecuali ada hal penting banget. Dari situ secara tidak langsung memberikan teladan kepada mereka. Dan yang lainnya adalah terus mengasah diri untuk belajar meningkatkan kapabilitas dan kompetensi. Sekarang, kan, lebih mudah kita tinggal browsing saja dari internet,” ucapnya sembari tertawa.

               Meskipun ia duduk sebagai orang nomor satu di RSU UKI, namun di sisi lain Rosma adalah seorang ibu bagi keluarganya. Di tengah kesibukannya ia selalu berusaha untuk membagi waktunya bersama suami dan anak-anaknya. Terlebih lagi ia terdaftar sebagai Sintua di Gereja HKBP Kebayoran Selatan, Jakarta Selatan. Untuknya, tak ada yang lebih menyenangkan selain bisa melayani Tuhan dan sesama. Sebagai seorang wanita yang sukses dalam kariernya, ia berharap agar para wanita Indonesia pada umumnya, dan wanita Kristen pada khususnya untuk bisa memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara melalui profesinya.

Tapi bukan berarti wanita yang menjadi ibu rumah tangga tidak bisa memberikan kontribusi, karena dengan mendidik anak-anak lewat kebenaran Firman Tuhan itu pun juga perbuatan yang terpuji. Di akhir perbincangannya dengan Majalah NARWASTU, ia berharap ke depan ada pembangunan gedung RSU UKI dan mutu pelayanannya semakin bagus. Dan seluruh karyawan sejahtera dan bahagia (happy), dan untuk keluarganya terutama anak-anaknya sukses,  diberikan rejeki, kesehatan dan umur panjang. BTY

Berita Terkait