Memilih Jalan Sempit Menuju Kehidupan Kekal

• Oleh: DR. Eliezer H. Hardjo Ph.D., CM 751 dibaca


BERITANARWASTU.COM. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya" (Matius 7:12-14).

Khotbah Tuhan Yesus di bukit yang tercatat di Injil Matius hanya terdiri dari tiga pasal, namun mencakup pedoman segenap kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Ke manapun kita pergi, di manapun kita berada dan bagaimana kita berputar-putar bertanya-tanya dalam hidup kita, kembali jawabannya telah terlebih dahulu Tuhan Yesus sampaikan.

Manusia di belahan dunia manapun saat ini semakin memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan golongannya, semakin egois, terlebih dalam dunia politik. Selalu ingin menang sendiri dan sangat sulit menerima kekalahan. Bukan hanya di negeri kita Indonesia yang terbilang masih muda, bahkan di Amerika Serikat yang sudah begitu maju dan ratusan tahun  dalam kehidupan berpolitik, sampai saat ini masih terjadi pergolakan karena satu pihak tidak bisa menerima kekalahan dan melakukan pembiaran bagi pengikutnya melakukan protes yang disertai vandalisme. 

Isu-isu yang dipakai untuk melakukan serangan terhadap kelompok lain sudah beragam, tak terhitung dari isu SARA, korupsi, kehidupan pribadi semua dipakai guna melumpuhkan lawan tanpa mawas diri. Ada yang berhasil untuk sementara waktu, namun juga ada yang gagal karena tidak terbukti dan tidak mempan.

Keadaan seperti ini bukanlah hal yang baru bagi Alkitab, karena 2.000 tahun yang lalu, Alkitab mencatat apa yang diungkapkan oleh Rasul Petrus, murid Tuhan Yesus yang paling dominan dan ceplas-ceplos: “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka, "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan" (2 Petrus 3:3-4).

Ternyata apa yang diungkapkan oleh Rasul Petrus telah dibuatkan oleh Nabi Henokh, keturunan ketujuh dari Nabi Adam dan kakek dari Nabi Nuh, ia seorang yang hidup bergaul dengan Tuhan sehingga tidak mengalami proses kematian, namun langsung diangkat oleh Tuhan. Henokh bernubuat demikian, "Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan."

Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan. Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu, "Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka."

Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus. Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal (Yudas 1:14-21. Catatan: Kitab Yudas ditulis oleh Rasul Yudas saudara Tuhan Yesus).

Dari ayat-ayat Firman Tuhan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tanda-tanda akhir zaman semakin nyata, sekalipun sebagian orang mencibir tidak percaya dan tidak peduli, dan akan semakin masif melanda seluruh dunia. Di mana manusia semakin menyepelekan ajaran Firman Tuhan bahkan memberontak terhadap Tuhan dengan kelakuan mereka tanpa sopan santun dan pertimbangan etika, disadari atau tidak, membawa kemauan sendiri yang dilatarbelakangi hawa nafsu. Bukan hanya kaum awam akan tetapi juga menerpa para hamba Tuhan dan pelayan Tuhan, komunitas Anak-anak Tuhan.

Jangan dikira kita akan kuat berdiri teguh. Jika itu terjadi di sekeliling kita, secara terus menerus maka pertahanan kita juga akan runtuh, terkecuali kita rajin berdoa, rajin baca Firman Tuhan, dan rajin bersekutu, serta mengurangi jika tidak dapat menjauhi pergaulan dengan mereka. Dunia sedang mengambil jalan lebar yang menuju kebinasaan, begitu mudah, tidak usah kita mencari akan disodori sendiri, akan tetapi Tuhan menginginkan agar kita tidak ikut larut dengan kehidupan seperti itu.

Kita harus mengambil jalan yang sempit, namun jalan yang sempit itulah yang menuju kepada kehidupan kekal. Kita membangun diri kita di atas iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus dan terus menerus berdoa dalam Roh Kudus. Hanya dengan jalan demikian kita tidak akan terkontaminasi dan tetap teguh dengan pendirian kita untuk tidak mengikuti arus dunia namun berpengharapan dan berpegang kepada Tuhan Yesus selamanya. Amin. Ya Tuhan Yesus datanglah. Maranata!

·         Penulis adalah Pembina/Penasihat Majalah NARWASTU.

Berita Terkait