Vox Point Indonesia (VPI)
Mencari Figur yang Pancasilais Memimpin DKI Jakarta

591 dibaca
Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H.

Beritanarwastu.com. Vox Point Indonesia (VPI) yang dipimpin tokoh nasionalis dan religius, Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H., baru-baru ini menggelar seminar bertajuk "Mencari Pemimpin yang Tepat untuk DKI Jakarta." Seminar  yang diadakan pada Sabtu pagi, 25 Juni 2016 di Aula Yohanes Gereja Yohanes Penginjil, Melawai, Jakarta Selatan, ini dimulai pukul 9.30 WIB dan berakhir pukul 13.00 WIB. Dalam sambutannya, Yohanes Handoyo Budhisedjati menerangkan, Vox Point Indonesia adalah  ormas yang aktif berpartisipasi memperjuangkan perwakilan umat Katolik dalam wilayah public, baik di posisi legislatif, yudikatif, eksekutif maupun di lembaga-lembaga lainnya.

Untuk itu, kata Yohanes Handoyo, VPI senantiasa membuka diri untuk para penggiat politik, untuk mewujudkan negara Indonesia yang terhormat di keberagaman untuk mengembangkan nilai-nilai kebangsaan dan penghormatan terhadap aspek lingkungan serta terbebas dari korupsi dan narkoba. Cita-cita itu akan terwujud apabila generasi muda bersedia untuk berkorban dan mengabdikan diri pada generasi bangsa dan negara. Vox Point Indonesia membuka pintu bagi umat Katolik untuk terpanggil dalam berencana terjun pada kehidupan politik, dapat segera mendaftarkan diri kepada Sekjen VPI.

   “Puji Tuhan, kalau perjuangan Vox Point Indonesia telah memperoleh sambutan luar biasa, minimal di 10 provinsi, dan salah satunya provinsi yang siap dikukuhkan keberadaannya adalah, Vox Point Indonesia daerah Banten, Vox Point NTT, Bapak Jack. Ini dalam waktu singkat akan diresmikan oleh Vox Point Pusat. Hari ini Vox Point Indonesia bersama FMKI KAJ (Forum Masyarakat Katolik Indonesia-Keuskupan Agung Jakarta) dan Seksi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAAK) Paroki Blok B mengadakan diskusi kebangsaan tentang mencari pemimpin yang tepat untuk DKI Jakarta,” cetusnya.

“Diskusi ini bertujuan agar kita semua dicerahkan akan situasi politik yang mulai menghangat di ibukota, semoga di akhir seminar kita semua mendapatkan kriteria yang tepat untuk sosok pemimpin DKI mendatang dan menjadikan Jakarta lebih baik,” ujar Yohanes Handoyo yang juga salah satu “Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU.”

 Sementara Maximus Purnomo dari pengurus FMKI menuturkan, puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan atas berkatNya dari pagi hari ini, kita dapat berkumpul bersama dalam seminar kebangsaan yang terselenggara atas kerjasama FMKI-KAJ dengan Vox Point Indonesia. “Pertama-tama atas nama pribadi, saya mengucapkan selamat atas berdirinya Vox Point Indonesia dan jajaran pengurusnya sekitar 4 bulan lalu. Semoga Vox Point Indonesia yang merancangkan diri sebagai rumah kader umat Katolik dapat benar-benar dirasakan kiprahnya dan manfaatnya bagi perkembangan pendidikan politik dan mendorong partisipasi para kader awal yang pada gilirannya turut mempersembahkan kader terbaik untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta,” katanya.

Saat ini, katanya, pendidikan masyarakat soal politik di Indonesia tengah bergerak ke arah yang lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan lebih selektifnya masyarakat dengan memilih pemimpin, baik di tingkat daerah maupun tingkat  nasional. Saat ini mulai bermunculan pemimpin-pemimpin pilihan rakyat yang berkualitas, tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, jujur serta menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Isu terhangat dalam perpolitikan Indonesia adalah pemilihan gubernur DKI Jakarta, karena Jakarta sebagai ibukota tentunya akan menjadi barometer politik di Indonesia dan pemilihan Gubernur DKI, Jakarta menjadi perhatian dengan skala nasional, atas dasar hal tersebut maka seminar ini mengambil tajuk: Siapa Pemimpin Tepat untuk DKI Jakarta.

Seminar ini, ujarnya, merupakan momentum yang tepat di tengah-tengah suhu politik Indonesia. “Saya berharap bahwa seminar ini dapat memberikan bekal bagi seluruh audiens dalam menyikapi politik yang berkembang, cerdas dan menilai kualitas calon pemimpin dan juga dapat menularkan pengetahuan kepada masyarakat agar masyarakat lebih selektif dalam memilih pemimpin dan tidak mudah terbawa arus yang salah, sehingga akan bermunculan pemimpin yang unggul, yang pada akhirnya akan memberikan kesejakteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Maximus.

Romo Heri dari paroki, juga menyampaikan, waktu menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil merapat, bendera naik ke atas, “Saya ingin semangat itu jangan sampai mundur atau luntur. Jangan sampai bendera kita turun lagi, merah putih terus berkibar, karena di sini ada  darah pengorbanan dan kesucian. Saya percaya dalam politik juga dalam kesucian, silakan kepada nara sumber untuk melanjutkan seminar ini. Karena ini jelas bahwa kita melakukan sesuatu tindakan yang besar, yaitu melakukan pilihan terhadap mereka yang harus kita pilih,” terangnya.

 Romo Benny Soesetyo Pr. juga berpendapat soal pemimpin yang mempunyai roh kerahiman. “Saya beri judul kerahiman Allah dalam kehidupan berbangsa. Kalau kita berbicara tentang kerahiman, kita bicara tentang belas kasihan, karena pemimpin yang mempunyai jiwa belas kasihan adalah pemimpin yang mau memberikan dirinya seutuhnya untuk kepentingan kesejahteraan bersama. Maka pemimpin itu memiliki yang disebut obor, obor kerahiman. Maka pemimpin itu punya yang namanya kebenaran. Seorang ibu yang penuh kasih bagi semua orang, sabar, baik, tergerak oleh belas kasih kebaikan terhadap anak-anaknya yang terpisah,” paparnya.

Artinya, pemimpin yang mampu merangkul semua orang atau golongan tanpa ada diskriminasi. Pemimpin yang memiliki jiwa belas kasih adalah pemimpin yang punya kelembutan. Mencari pemimpin yang lembut berarti pemimpin yang mampu, tegas, keras dan bijaksana, maka pemimpin itu punya preferensi. Preferensinya gelombang kasih. Maka gelombang kasih itu dikatakan oleh Beato Paulus VI, gelombang kasih sayang, maka pemimpin itu dekat di hati rakyat. Pemimpin yang punya kepedulian dan pemimpin yang sadar bahwa dirinya adalah pelayan,” cetus Romo Soesetyo.

Maka, ujarnya, pemimpin ini tidak terlalu mementingkan identitas atau mementingkan hak istimewanya. Maka pemimpin itu memiliki kesederhanaan. Contohnya, bos Fransiscus yang membawa tasnya sendiri dan menarik keledainya sendiri, menujukkan pemimpin itu pelayan. Maka kalau pemimpin itu pelayan, dia memiliki belas kasih. Thomas Aquino mengatakan, seorang pemimpin memiliki kerahiman sebagai tanda kemahakuasaan. Di dalam doa-doa dikatakan, iya Allah yang menyatakan kuasaMu terutama dalam kerahiman pengampunan, pemimpin yang berjiwa terbuka.

Pengampunan berarti pemimpin yang mau juga belajar dengan rendah hati. Dan, imbuh Romo Soesetyo, bisa rekonsiliasi membangun kebersamaan dan menjadi pemimpin yang mau membangun, meskipun ia berbeda pandangan kebersamaan dan menjadi pemimpin yang mau membangun, meskipun berbeda pandangan politik, berbeda aspirasi, tetapi ia berani. Itulah pemimpin yang memiliki  jiwa kerahiman dan pengampunan. Maka kita membutuhkan pemimpin sebagai  rekonsiliasi. Pemimpin yang menembus semua lawan-lawannya dan menjadikan lawan itu teman dan menjadi rekan dalam  membangun kerjasama, maka kerahiman sebagai dasar kita untuk menentukan sebuah kualitas seorang pemimpin yang mempunyai jiwa kerahiman adalah, pemimpin yang memiliki identitas dalam dirinya.

Pemimpin itu pun menunjukkan kasih kepada mereka yang miskin dan tersisih. Maka yang perlu dicari pemimpin yang mendekati, meskipun tidak sempurna. Tapi pemimpin ini menunjukkan visi yang mengarah  kepada pemimpin yang dekat dengan rakyat yang memiliki jiwa belas kasihan. Maka kita ditugaskan sebenarnya, bagaimana kita mencarinya, bagaimana kita menginspirasinya. Jika kita ilhami oleh kerahiman Allah itu, menemukan pemimpin yang tepat, pemimpin yang memiliki jiwa kerahiman yang bisa mengaktualisasikan Pancasila dalam pengambilan kebijakan, ini persoalan kita

Karena, ujarnya, dalam kehidupan sehari-hari Pancasila tidak dijadikan aplikasi dalam pengambilan kebijakan. Kalau pemimpin memiliki roh Pancasila, maka dia mencintai mereka yang kecil, yang tersingkir, maka pemimpin ini mampu memberikan arah, visi ke depan kita, yang bisa menunjukkan belas kasih Allah, yaitu dengan mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya adalah, siapa mereka? Anda yang memilih, maka Anda harus mempunyai panduan untuk memilih. Pertama, apakah pemimpin itu memiliki yang disebut etos, berarti memiliki kinerja yang efisien, kerja yang benar-benar totalitas dan bertanggung jawab untuk membangun dirinya sebagai pelayan rakyat

Kedua, pemimpin yang mau merasakan derita orang lain sebagai deritanya. Pemimpin yang mempunyai suara nurani kepada mereka yang tak terpikirkan. Maka pemimpin harusnya sebagai pelayan publik, bukan sebagai seseorang yang harus dilayani. Pemimpin harus berani bertanggungjawab, dan berani mengambil risiko. Pemimpin harus mempunyai karakter, karakter utama pemimpin harus berani dan bijaksana, serta memiliki kelembutan hati. Maka carilah mereka, maka Anda akan mendapatkannya, mencari pemimpin bukanlah pekerjaan  mudah, Anda harus berpikir, merenung dan carilah yang baik di antara itu.

            Sedangkan pengurus Partai Nasdem, Johny G. Plate, menuturkan, DKI  Jakarta membutuhkan seorang pemimpin yang eksekutif. Makanya Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.) menyebutnya sebagai sinyo DKI Jakarta. Kita tidak membutuhkan birokrat, kita tidak membutuhkan administratif, kita tidak membutuhkan lobi-lobi atau diplomasi job, karena ada yang mengaturnya. Yang dibutuhkan di Jakarta sekarang seorang eksekutif  yang akan men-delivery  eksekutif  job.  

“Itu yang Jakarta butuhkan di dalam pelaksanaan leadership style dan managemen style. Pak Ahok jangan dilihat dari ekses yang dihasilkan di Jakarta bijak, tapi dari rule kebijakan itu sendiri. Sebagai contoh kebijakan riset penduduk, memindahkan  penduduk dari tempat kumuh ke tempat yang lebih layak, akses  banyak rumah atau apartemen yang belum jadi. Itu akses dari suatu perencanaan atau waktu yang harus disiapkan. Ada  ribuan, bahkan ratusan apartemen yang harus disiapkan, dan itu ada dalam rule  Ahok,” ujarnya.

Demikian terkait dalam infrastruktural dan lain sebagainya. “Rulenya Ahok memperbaiki infrastruktural dalam pelayanan publik. Ahok memperhatikan masyarakat yang terkorban, mencarikan mereka jalan keluar, mungkin gaya kepemimpinan Ahok cocok untuk sebagian masyarakat dengan kultur tertentu,  dan kurang cocok dengan sebagian masyarakat dengan kultur yang lain, karena belum terbiasa. Yang penting dilakukan Ahok dengan hati tulus,” tegasnya.

Dalam seminar ini, selain Johny G. Plate, ikut pula berbicara Rufinus Hutauruk, S.H. dari Partai Hanura, Fandy Utomo (Partai Demokrat) dan Arya Fernandes (Peneliti CSIS). Dalam acara ini hadir juga sejumlah tokoh Kristiani untuk memberikan sumbangsih pemikiran, termasuk Marsma TNI (Purn.) Ibnu Kadarmanto, M.Si, yang merupakan mantan Direktur Bidang Kerjasama BAKIN (Kini: BIN), dan ia mewakili FORKOM (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU). Ibnu Kadarmanto yang jenderal purnawirawan bintang satu dari TNI Angkatan Udara itu pun termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU.”

             Sedangkan Yohanes Handoyo Budhisedjati menambahkan, hari ini kita berbicara masalah kriteria, siapakah yang tepat untuk memimpin DKI Jakarta. Vox Point Indonesia, katanya, ingin memberikan suatu pencerahan kepada peserta, bahwa pimpinan DKI Jakarta seharusnya yang bagaimana, masukan-masukan dalam diskusi ini adalah kriteria-kriteria dari para tokoh. DKI Jakarta memerlukan sosok pemimpin seperti yang dibicarakan di atas,

“Vox Point Indonesia nantinya akan memanggil para calon pada sebuah pertemuan. Dan Vox Point Indonesia ingin mendapat penjelasan yang lebih jelas lagi tentang program kerja mereka, apakah program kerjanya itu visible untuk dilakukan dan sebagainya. Langkah selanjutnya, Vox Point Indonesia sebagai lembaga kajian akan memberikan sebuah kajian dan rekomendasi tentang sosok mana di antara para calon itu yang memenuhi kriteria yang dibahas,” paparnya.

“Yang dihasilkan hari ini, itu langkah kita sehingga Vox Point Indonesia bisa mengawal Pilkada DKI Jakarta secara lebih simultan, secara lebih komprehensif dibanding seminar-seminar yang dulu. Dalam hal ini Vox Point Indonesia tidak akan memberikan komentar apapun mengenai pertahanan, karena kita sedang mengawal Pilkada DKI Jakarta. Dan kita sedang melihat sosok mana yang paling tepat untuk DKI,” ujarnya.

“Dalam kajian nanti, akan ada sebuah diskusi, kita akan melihat programnya. Kalau Ahok sudah kebetulan ter-delivery, baik itu positif maupun negatif, kita akan memberikan dukungan atau kredisi pada saat itu sampai hari ini. Kita ingin semua melihat ke media, belajarlah dari media, dan sumber-sumber yang lain. Tapi Vox Point Indonesia sampai saat ini hanya mengatakan, Vox Point Indonesia berbicara mengenai kriteria, bukan orangnya,” ujar pria yang juga giat menulis masalah sosial politik, perburuhan dan kebangsaan di media itu. JK     

Berita Terkait