Mencerdaskan Bangsa Lewat Buku-buku BPK Gunung Mulia

811 dibaca
Johan Tumanduk, S.H., M.Min, M.M., M.Pdk. Giat melayani.

BERITANARWASTU.COM. Pria berdarah Manado ini ingin mencerdaskan umat Kristiani melalui buku-buku, dan ia pun berobsesi untuk memajukan Penerbit BPK Gunung Mulia. Namun, ada satu cita-citanya yang ingin segera diwujudkannya, yaitu, ingin mengabdikan diri sebagai penginjil di daerah pedalaman Indonesia. Bergelar Sarjana Hukum (SH) dan bercokol di dunia keuangan, itulah yang dilakoni oleh Johan Tumanduk, S.H., M.Min, M.M., M.Pdk.

Seiring berjalannya waktu, pria energik yang sejak muda telah aktif di pelayanan gereja ini kini dipercaya sebagai Direktur BPK Gunung Mulia. Sebagai pemimpin perusahaan penerbitan bukanlah hal yang sulit bagi ayah dua anak ini. Pasalnya, selain ia hobi membaca buku, ia punya misi ingin mencerdaskan umat lewat bacaan, karena minat baca orang Indonesia pada umumnya,  dan umat Kristiani khususnya cukup rendah.

“Saya seperti mendapat ladang yang diimpi-impikan,” kata Johan. Soalnya ia bisa membangun konektivitas dalam perusahaan maupun partner kerja untuk memajukan BPK Gunung Mulia dengan mengerahkan segenap hati, pikiran, tujuan dan tubuh. Sebab, bagi Johan, profesi yang dijalaninya itu bukan sekadar jualan buku, melainkan memberitakan kabar baik alias silent preacher. “Jangan takut untuk ditolak, karena Tuhan Yesus pun ditolak. Kita datang untuk mencerdaskan umat sebagai saksi Kristus yang kredibel dan bisa dipercaya,” cetusnya.

 Menurut Johan, ada tiga hal yang dipegangnya sebagai pelayan gerejawi, yaitu “3 T”. Pertama, Tahu Tuhan sebagai sumber hidup. Kedua, Tahu diri karena Dia pemilik hidup, maka kita harus memiliki integritas, mau bekerja keras, jujur dan disiplin. Ketiga, Tahu malu jika kerja kita punya peraturan agar tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Sedangkan untuk para karyawannya yang ia lebih suka menyebut sebagai partner kerja, Johan menerapkan FOCUS, yakni first team work:  Dibutuhkan kerjasama yang baik untuk sebuah keberhasilan.

Orientation to quality: Mengedepankan kualitas, jadi tidak mengeluarkan produk asal-asalan. Christ center: Menjadikan Tuhan sebagai center hidup dan pelayanan. Un-compromise integrity: Integritas yang tidak bisa dikompromikan oleh hal-hal ketidakbenaran. Striping of excellent: Terus berjuang dengan meningkatkan kualitas demi menuju kesempurnaan.

Kepiawaiannya dalam memimpin perusahaan memang diakui banyak kalangan. Akan tetapi, ia akui tidak mudah menjalani pekerjaan di dunia sekuler dan pelayanan. “Nggak bisa main pecat tetapi harus mengutamakan kasih, bela rasa dan pertobatan,” ucap aktivis di Sinode GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) ini.

 Kendati demikian, ayah dua anak ini tetap mengaku sebagai pribadi yang cukup terbuka. Terutama bagi para rekan sekantornya dalam melontarkan saran, sumbangan pikiran atau kritikan tajam sekalipun. Menurutnya, semua itu tergantung keadaan perusahaan. Ketika perusahaan mengalami tribulance hebat, mau tidak mau kita harus mengeluarkan kepemimpinan kita. Jangan lihat kita lemah akan tetapi harus siap mendengar.

 Dalam menjalani hari-harinya sebagai pemimpin di Penerbit BPK Gunung Mulia, Johan melakoni pekerjaannya dengan hikmat yang selaras dengan tuntutan Tuhan. Walaupun ada dua sisi yang harus diperhitungkan, yakni bisnis dan pelayanan. Ia mengatakan, jika terlalu berorientasi pada bisnis, maka tidak bisa menjalani visi dan misinya. Tapi, jika tanpa berpikir bisnis tidak dengan hati-hati, maka tidak bisa jalan juga. Kata Tuhan, bukan hanya roti tapi juga harus ada firman. “Itulah yang sedang saya lakukan agar BPK bisa menjalani visinya dan profit sesuai dengan apa yang Tuhan mau,” tegas Johan yang juga majelis di GPIB.

Ia sadar dalam perjalanannya dalam lingkup profesional maupun ladang Tuhan, ada sesuatu yang ingin diwujudkannya kelak. Yakni menjadi seorang penginjil di daerah pedalaman Indonesia. Sebab, bagi Johan, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. “Seperti Rasul Paulus yang mewartakan Injil, saya pun berkeinginan untuk bisa melakukannya. Tentu jika Tuhan mengijinkan,” kata Johan.  

              Pada akhir 2015 lalu, Johan Tumanduk pun pernah diundang PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia) untuk berbicara seputar pemimpin Kristen di Indonesia. Dan saat itu, ikut berbicara sejumlah tokoh Kristiani dan tokoh nasional, seperti Laksdya TNI (Purn.) Fred Lonan (mantan Wakil Gubernur LEMHANNAS). Dalam pengantar diskusi disampaikan, pemimpin itu identik dengan pengaruh. Dan pemimpin  punya pengikut, punya cita-cita untuk mengubah sebuah keadaan dan dipercaya oleh orang-orang yang dipimpinnya.

            Dan pemimpin itu, antara ucapan dan tindakannya mesti sejalan. Dan pemimpin yang punya integritas yang diharapkan sekarang. Pemimpin pun mesti mampu mengasihi, mengampuni dan mempersatukan orang-orang yang dipimpinnya. Dan banyak pemimpin di dunia ini yang mampu menginspirasi, seperti Bunda Teresa, Paus Johanes Paulus II, Soekarno, Gus Dur dan T.B. Simatupang. Dan kita orang Kristen pun mengenal pemimpin luar biasa sepanjang masa, yakni Tuhan Yesus Kristus yang digelari Gembala yang Baik. Dia mampu menyembuhkan orang sakit, mengampuni orang berdosa, membangkitkan orang mati, memberi makan ribuan orang, mengajar orang agar tidak tersesat dan menguatkan iman banyak orang. Itulah pemimpin luar biasa.

                Dan Johan Tumanduk saat itu menerangkan, apakah kepemimpinan di kalangan Kristen sudah menjadi jawaban atau justru masalah di tengah negeri ini. Ini perlu dijawab. Sekarang di Indonesia, katanya, ada dikenal musim hujan, musim kemarau, musim kekeringan, musim asap dan musim kemunafikan. Sehingga, imbuhnya, pemimpin Kristen haruslah yang mampu membangun tim work, punya kualitas dalam spiritualitas, sehat, punya emosi yang baik, punya wawasan. “Jangan merokok agar kaum muda pun jangan ikut-ikutan merokok. Dan pemimpin Kristen pusatnya harus Kristus,” katanya.

Berita Terkait