Pdt. DR. Benny B. Nenoharan, M.Div
Menerobos Kesulitan dengan Kuasa Doa

765 dibaca
Pdt. DR. Benny B. Nenoharan, M.Div

Beritanarwastu.com. Pria kelahiran Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT), 20 Mei 1940, ini adalah Hamba Tuhan yang sudah kenyang makan asam garam di ladang penginjilan. Sejak kecil hingga pemuda ia tergolong Kristen Tanpa Pertobatan (KTP). Meskipun ia sudah tercatat Kristen, namun kala itu ia dan orangtuanya masih hidup dengan keduniawian. Dulu di kampung halamannya warga masih percaya pada kuasa-kuasa kegelapan, misalnya, membawa persembahan ke kuburan-kuburan untuk meminta berkat.

                “Di kampung kami saat itu, orang tak percaya kepada Yesus. Lebih percaya kepada roh orang-orang mati,” ujar suami tercinta Pdt. DR. Anna B. Nenoharan, M.Th ini. Pdt. Benny yang kini punya cucu 10 orang bertobat setelah ada seorang Hamba Tuhan mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) di gerejanya di GMIT (Gereja Masehi Injili Timor). Saat KKR berlangsung, ia bersama 200-an pemuda mengalami jamahan Tuhan. “Hamba Tuhan yang berkhotbah menantang kami, apa mau bekerja sebagai Hamba Tuhan. Saya benar-benar digugah untuk menginjili, padahal saya saat itu pegawai negeri,” ucapnya.

                Pada 26 September 1965 setelah bertobat, ia menjadi Hamba Tuhan. Bersama 30 temannya ia menginjil ke sejumlah daerah di NTT. Kuasa Tuhan sungguh nyata dalam pelayanannya, karena saat itu banyak orang bertobat setelah diinjili. “Juga banyak orang sakit sembuh. Mukjizat Tuhan nyata di dalam penginjilan kami. Ini semakin memotivasi kami untuk melayani,” cetus ayah delapan anak ini, empat di antaranya anak angkat.

                Karena di desa-desa tempat mereka melayani terjadi banyak mukjizat, semangatnya berkobar untuk terus melayani. “Saya benar-benar menyaksikan mukjizat Tuhan yang nyata di dalam pelayanan kami,” ujar lulusan S1 dari Batu Malang, S2 dari STT Tiranus dan S3 dari Asian onf Institute of Theologia Banghelor, India, itu. Pdt. Benny sendiri menginjili ibunya, sehingga bertobat saat sang ibunda berusia 76 tahun.

                Pada 1967 Pdt. Benny Nenoharan dipanggil mengikuti pendidikan teologi di Institut Injili Indonesia (I3) Batu Malang, Jawa Timur. Selama di sana ia banyak menimba ilmu teologi, sehingga kemampuannya untuk melayani semakin mantap. “Pendidikan sangat penting. Hamba Tuhan tidak cukup hanya berdoa, tapi harus mengembangkan diri dengan menggali banyak informasi, termasuk membaca Majalah NARWASTU,” ucapnya  bijaksana.

Di organisasi gereja, Pdt. Benny saat ini menjabat sebagai Penasihat di Sinode Gereja Keesaan Injili Indonesia (GEKINDO). Dia pernah tiga periode menjabat sebagai Ketua Sinode GEKINDO yang juga salah satu anggota PGI. Selain di GEKINDO, Pdt. Benny mengajar di sejumlah sekolah tinggi teologi (STT), antara lain STT Doulos, Jakarta. Di samping itu, ia giat melayani di berbagai gereja, baik di lingkungan PGPI, PGLII dan Karismatik.  

Bersama sang istri tercinta, Pdt. Anna Nenoharan, Pdt. Benny pun ikut berjuang untuk kebebasan beribadah bagi umat Kristiani khususnya di daerah Bekasi, Jawa Barat. “Kami berjuang agar keberadaan umat Kristen dihargai dan dilindungi, karena beribadah itu hak azasi manusia (HAM),” ucapnya. Menurutnya, ia sangat bersyukur kepada Tuhan, karena ia diberi istri yang setia, tangguh dan cinta Tuhan. “Sehingga saya dengan Ibu Pdt. Anna saling menopang. Kalau saya melayani di luar, ia di rumah. Juga saat saya mengambil studi S3 ia mendukung,” cetusnya.

“Sebaliknya, saya dukung Ibu Pdt. Anna untuk menekuni S3. Selama kami melayani, tentu banyak suka dan duka kami alami, namun Tuhan selalu memberi kekuatan, jalan keluar dan penghiburan. Dalam hidup ini saya punya obsesi untuk terus melayani. Selagi saya masih bernafas saya akan terus memuliakan Tuhan,” tutur pendeta yang semakin bijaksana menyikapi tantangan kehidupan itu.

               Berbicara tentang maraknya penutupan sejumlah gedung gereja, pergolakan di Timur Tengah dan bencana alam, Pdt. Benny dengan bijaksana berkata, “Di akhir zaman ini kita harus siap menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi. Kita harus terus berdoa bersama keluarga dan saudara-saudara seiman untuk bangsa dan pemerintah. Gereja-gereja di akhir zaman ini bukan makin baik, tapi geraknya akan semakin sulit. Tapi kalau Tuhan menyertai kita, pintu yang tertutup akan dibukakan,” terangnya.

Di dunia ini tak ada kuasa yang bisa mengalahkan kuasa Tuhan. “Kalau Tuhan membuka pintu, maka tidak ada sesuatu kekuatan di dunia ini yang bisa menutupnya. Kalau Tuhan yang menutup pintu, maka tak ada kekuatan yang bisa membukanya. Itu tertulis di Wahyu 3:7-8 yang menjadi pedoman di GEKINDO untuk melayani umat Tuhan di negeri tercinta ini. Dalam berbagai ibadah saya sampaikan kepada jemaat agar kita sadar bahwa sekarang keadaan dunia bukan makin bertambah baik, tapi makin bertambah buruk. Jadi kita harus semakin dekat kepada Tuhan dengan berdoa dan menabur kasih,” paparnya.

Peperangan, penganiayaan, bencana alam serta kelaparan di berbagai penjuru dunia, kata Pdt. Benny, itu sudah ditulis di Matius 24:6-11. “Ada peperangan antarbangsa, kelaparan dan bencana alam, itu permulaan dari penderitaan. Sehingga kita harus berjaga-jaga, dan tak perlu gelisah. Kita harus banyak berdoa, karena doa itu adalah nafas kehidupan. Orang Kristen jangan berhenti berdoa dan menginjil. Kesulitan yang kita hadapi sekarang harus kita terobos dengan doa, karena doa orang benar sangat besar kuasanya,” tegasnya.

Berita Terkait