Mengabdi Lewat Dunia Pendidikan

508 dibaca
Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, M.Th. Religius dan cerdas.

BERITANARWASTU.COM. Pembawaannya tenang, namun tegas dalam bersikap dan memiliki wawasan yang luas. Itulah pribadi dari seorang Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, M.Th. Sikap tersebut tampaknya tidak lepas dari apa yang dilakoninya semasa muda, yakni sebagai aktivis di organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Makassar dan PERKANTAS (Persekutuan Kampus Antar-Universitas).

Pak Pdt. Jerry, demikian biasa ia disapa, lahir di Kairatu, Maluku, 3 Januari 1958, dan dibesarkan di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Di sana ia menjalani pendidikan sejak di bangku TK, SD hingga SMP. Jenjang pendidikan terus dijalaninya ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di Paso, Maluku. Bakat sebagai seorang pemimpin telah terlihat ketika ia duduk di SPMA, dengan menjadi Ketua Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) dan mengorganisir siswa Kristen di sana.

Pada 1975 ia terpilih mewakili siswa teladan untuk menerima prasasti dari Presiden Soeharto ketika meresmikan Perum Kertas di Goa, Sulawesi Selatan. Beranjak dewasa, pada 1978 Pdt. Jerry hijrah ke Makassar untuk melanjutkan studi akuntansi, kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan dan Administrasi Indonesia (STIKI), menjadi sarjana pajak, mengikuti jejak ayahnya. Di Makassar, Pdt. Jerry aktif dalam pelayanan di GMKI dan PERKANTAS, yang menempa kehidupannya menjadi pribadi tangguh dan cerdas seperti sekarang. Pelayanan dilakukan dengan motivasi agar orang yang dibinanya bisa jadi lebih baik dan sukses dari dirinya.

“Saya melayani di PERKANTAS sejak 1981-1985, dan di GMKI sebagai salah satu ketua yang  bersekretariat di STIKI. Sekretariatnya saya namakan Sekretariat Eklesia. Nah, untuk memantapkan pelayanan saya mengambil studi teologi di STT Jaffray, Makassar, pada 1985. Pada 1986 selesai dengan gelar BTS, bachelor teologia studi,” ujar Sekretaris I Badan Pengurus Pusat (BPP) Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) ini. Pada 1986 ia memutuskan untuk mengambil program pendidikan jarak jauh STT Jaffray di Jakarta, untuk jenjang pendidikan S1 teologi, M.A., M.Div, M.Th dan Doktor.

             Kini Pdt. Jerry mengabdikan diri di dunia pendidikan. Kini ia dipercaya sebagai Direktur Pascasarjana dan Program Doktoral di STT Sunsugos Jakarta. Berbagai jabatan yang terkait dengan dunia pendidikan dipegangnya. Misalnya, pernah menjabat Ketua (Rektor) STT Jaffray, Jakarta (2006-2011), Sekretaris Umum Tim Koordinasi Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi Teologi/Agama Kristen (TKPMPTT/AK) Bimas Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia (2009-2014) dan Bendahara Umum Persekutuan Sekolah Teologi di Indonesia/PERSETIA (2010-2016).

Menurut Ketua Yayasan Penah Kasih Ministry Indonesia ini, terjun di dunia pendidikan bukan hal baru. Sejak muda ia telah disiapkan menjadi guru. Begitu pula ketika aktif di PERKANTAS dan GMKI ia kerap memberikan pelajaran-pelajaran kepada mahasiswa. Demikian pula ketika aktif di STT Jaffray dengan menjadi staf pengajar. Diakuinya, ketika awal mula masuk dalam dunia pendidikan, tidak serta merta semua lancar.

“Tantangannya waktu itu datang dari keluarga, karena mereka ingin saya jadi pegawai negeri menggantikan ayah yang bekerja di pajak. Akhirnya saya buktikan bahwa pekerjaan yang saya lakoni adalah karunia Tuhan, dan akhirnya ada pengakuan dari orang tua,” jelas Pembina Partnership Grace Ministry Jakarta dan Sekretaris Umum Traffiking Rehabilitation Centre Jakarta ini.

Pdt. Jerry melihat pendidikan sesuatu yang penting. Melalui pendidikan dapat diubah semua strata kehidupan. Namun secara makro, ia melihat pendidikan di Indonesia sejak dulu selalu mengalami perubahan. Hal ini disebabkan, karena setiap pergantian pimpinan, khususnya di Departemen Pendidikan, kebijakan pendidikan selalu berubah. “Jadi selalu berubah dari dulu hingga sekarang, dan mungkin selama, jika pemimpinnya baru. Seharusnya dia tetap mengadopsi yang lama, lalu ia meningkatkan lagi sehingga terjadi satu sinergi yang baik,” pungkasnya.

Selain itu, ia melihat tingginya biaya sekolah sekarang menjadi persoalan. Sehingga kesempatan untuk mengenyam pendidikan semakin sulit. Sementara mengenai sekolah teologi, Pdt. Jerry mengungkapkan, adanya peraturan dari Departemen Agama yang perlu mendapat perhatian dari sekolah-sekolah teologi, terkait standar. “Kami sudah bicarakan itu dengan para pakar soal itu. Jadi perguruan tinggi teologi sekarang sedang dibina dan pendampingan untuk memantapkan mereka,” cetus penulis tiga buku, di antaranya Psikologi Kepemimpinan dan Revolusi Mental itu.

“Nah, dari 231 perguruan tinggi teologi yang terdaftar di Departemen Agama, dari 400 yang ada, maka mau tidak mau, suka tidak suka, harus benar-benar digembleng secara baik, sehingga semua bisa lolos. Saya gambarkan waktu itu dari 231 sekitar 7 sekolah teologi yang akan lolos, dan akan banyak yang ditutup pemerintah. Saya melihat ini bernuansa politik,” tegas Ketua Pergerakan Akademisi dan Intelektual se-Indonesia demi Pemenangan Jokowi-JK di Pilpres 2014 lalu ini.

Bersama istrinya Dra. Willy Kuhuwael ia selalu memotivasi anak-anaknya supaya melihat masa depan dengan kaca mata Firman Tuhan, serta mendorong mereka agar mandiri. “Kami tidak memberi kebebasan, tapi memberi arahan supaya mereka mandiri. Alat ukurnya itu. Dan apa saja yang penting bagi mereka akan kami coba berikan demi masa depan mereka, khususnya bagi pendidikannya,” pungkasnya. “Seperti keluarga Kristen lainnya, yang kami lakukan setiap pagi adalah mendorong mereka agar merenungkan Firman Tuhan. Karena itulah bekal dari orang tua, yaitu Firman Tuhan agar bisa menjaga dan sumber spirit bagi mereka. Itulah arahan-arahan untuk mereka dalam melihat ke masa depan,” ujar ayah dari Teresa Imanuela Rumahlatu (17 tahun) dan Immanuel Henry Rumahlatu (11 tahun) ini. 

Berita Terkait