Mengapa Umat yang Percaya Harus ke Gereja?

1779 dibaca


Beritanarwastu.com. Kalau kita melihat di beberapa gereja, terlebih di jemaat-jemaat tertentu, jumlah pengunjung kebaktian setiap Minggu masih jauh di bawah jumlah anggota yang tercatat. Padahal, dalam jumlah pengunjung kebaktian itu sudah termasuk mereka yang bukan anggota jemaat. Kemudian dari jumlah yang kecil itu, kalau diteliti lebih lanjut, akan kelihatan bahwa mereka yang hadir secara teratur, minggu demi minggu dalam kebaktian, jauh lebih sedikit lagi. Sisanya minggu ini hadir, kemudian dua sampai tiga  minggu tidak hadir, lalu hadir lagi dan seterusnya

Kalau ditanya, kenapa tidak datang ke gereja, jawabannya, macam-macam. Sibuklah, pembantu yang pulang kampunglah, hujanlah dan lain-lain. Tapi, ada juga jawaban yang sedikit agak ekstrim. Misalnya, mereka mengatakan, “Lho, yang penting kan percaya. Lalu, perbuatan, tindak tanduk saya sehari-hari, dan di rumah berdoa, baca Alkitab, dengar radio rohani, nonton mimbar agama di televisi. Cukup kan? Daripada ke gereja malah nambah dosa. Khotbahnya bikin orang ngantuk. Lalu, hati panas melihat orang yang lagaknya seperti malaikat, padahal saya tahu siapa dia sebenarnya. Ah, sudahlah, lebih baik tidak melihat hal-hal seperti itu!” Pernah dengar orang mengatakan seperti itu? Atau barangkali Anda sendiri yang mengucapkannya.

Untuk apa kita beribadah pada hari Minggu di gereja? Mengapa mesti hari Minggu, dan mengapa juga dilaksanakan di gereja? Di Amerika, pertanyaan seperti ini sudah  lama menjadi pertanyaan yang akut. Sebab di sana berkembang electronic church (gereja elektronik). Acara-acara ibadah, khotbah dan puji-pujian di televisi dengan pembicara-pembicara terkenal, penuh glamour, sering kali lebih menarik daripada ibadah di gereja. Selain itu, electronic church ini juga lebih praktis (sifat dasar manusia adalah selalu mencari yang praktis). Tidak usah pakai jas, dasi atau naik mobil (susah cari parkir dan bayar lagi). Gereja elektronik, bisa di kamar sambil pakai piama dan minum kopi. Kalau tergerak, kemudian kirimkan uang via bank. Beres.

Untuk apa? Saya kira benar kalau ada orang yang mengatakan, bahwa ibadah itu yang penting hatinya, bukan tempatnya. Yesus berkata, “…. Saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan di Yerusalem ….” (Yohanes 4:21). Betul! Tidak harus beribadah di gedung gereja. Tapi, yang jadi persoalan adalah, kalau alasan yang paling utama untuk tidak beribadah adalah karena malas, hanya mau cari gampangnya saja, ini berarti hati Anda tidak beribadah. Cuma cari-cari alasan doang. Tapi, kalau Anda sungguh-sungguh mencintai Tuhan, Anda akan merasa rindu kepadaNya dan akan terus mencari Dia, sampai ke manapun.

Saya punya keponakan perempuan, yang beberapa saat lalu mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan kasih dengan pacarnya. Mengapa? Padahal, katanya sih cinta. Tapi, berulang-ulang janji datang, ternyata tidak datang. Dan ada saja alasannya. Yang mobil mogoklah, kebetulan ada tamu, lagi lembur di kantor dan hujan. Pokoknya macem-macem deh. Saya tahu kalau ia serius, semua itu tidak menjadi halangan. Tapi, sadarkah kita bahwa dengan alasan-alasan yang relatif remeh itulah yang dipakai banyak orang untuk tidak datang berbakti di gereja Tuhan. Kalau Tuhan seperti keponakan saya tadi, agaknya kita sudah lama diceraikan.

Ada lagi alasan klise yang lain. Untuk apa setiap hari Minggu datang ke gereja, tapi perbuatannya brengsek. Yang penting kan perbuatan kita sehari-hari. Sekali lagi, pendapat ini ada benarnya. Tapi, tidak benar seluruhnya. Kalau diibaratkan dalam sebuah perkawinan, untuk apa kawin kalau tidak cinta. Tapi, salah juga kalau orang mengatakan, yang penting cinta  (bukan surat kawinnya), lalu kumpul kebo.

Tuhan menghendaki kedua-duanya. Di Ulangan 10:12-13 tertulis, “….beribadah kepada Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan Tuhan….” Ibadah tanpa perbuatan adalah munafik. Tapi, perbuatan tanpa ibadah adalah kesombongan. Ini yang dicela keras oleh Paulus sebagai upaya membeli keselamatan dan membenarkan diri sendiri dengan perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17). Tapi, perbuatan tanpa iman adalah dosa (Roma 14:23). Jadi sama-sama salah. Marta dicela Yesus, karena hanya terus sibuk, tapi tidak menyediakan hati dan waktu untuk bersimpuh duduk di kaki Yesus dan mendengarkan firmanNya.

Bagaimana dengan pendapat, ibadah jangan dijadikan kebiasaan? Di Ulangan 10:20 tertulis, “Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu, kepadaNya haruslah engkau beribadah dan berpaut…” Ada yang sengaja kita lakukan dengan sadar di situ, yaitu takut akan Tuhan, beribadah kepada Tuhan, berpaut kepada Tuhan. Jadi tidak hanya kebiasaan atau rutinitas. Di 1 Timotius 4:7b dikatakan,  “Latihlah dirimu beribadah”. Artinya, perlu usaha, perlu disiplin dan perlu latihan. Bukan hanya kebiasaan. Namun, saya juga hendak menekankan dengan sama kuatnya, beribadah dengan teratur harus kita jadikan bagian dari kebiasaan kita, dalam bahasa inggrisnya habit. D’Sim

Berita Terkait