Mengenal Persekutuan Kaum Profesi di Singapura

1039 dibaca
Terrence Solaiman (Koordinator Profit) saat melangsungkan resepsi pernikahan dengan Melita Sumitro di Hotel Shangrila, Jakarta, pada 17 Desember 2016, dan didampingi orangtua mereka.

               Beritanarwastu.com. Di tengah kesibukan kaum muda asal Indonersia yang bermukim di Singapura ini berkarier, mereka tak lupa untuk bersekutu atau sharing tentang kebenaran Firman Tuhan. Itulah yang dilakukan sebuah komunitas bernama persekutuan kaum profesi atau Profesional Faith in Action (Profit) yang dipimpin Terrence Virgil Solaiman. Saat sejumlah wartawan Kristiani yang tergabung di PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia) termasuk Majalah NARWASTU pada medio November 2016 lalu diajak melihat kegiatan Profit di Singapura, dijelaskan Terrence, persekutuan yang diadakan dua kali sebulan bagi anggota berusia 21 sampai 35 tahun ini, merupakan bagian dari pelayanan Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) MDC (Masa Depan Cerah) cabang Singapura.

                Menurut Terrence, di Singapura ada kaum muda Kristen asal Indonesia yang bersekolah, kuliah hingga bekerja. Dan saat mereka ada waktu senggang, mereka akan ngumpul dengan sesama saudara seiman dari Indonesia, bahkan ikut pula melayani di gereja. “Umumnya yang tergabung di Profit sudah lulus kuliah atau sedang mencari pekerjaan. Dan persekutuan ini kita adakan untuk sharing dan berdoa bersama. Dan ini komunitas kaum profesional yang berjuang dengan iman atau faith in action. Komunitas atau kelompok sharing seperti ini sangat penting agar kita kita bisa survive, dan agar ada teman kita untuk berdoa bersama,” ujar Terrence.

   

  

 Komunitas Profit bersama Tim PERWAMKI di Singapura.

               

 Kaum profesional itu, apalagi yang tinggal di negeri orang, mesti punya iman yang tangguh. “Kita mesti hidup mengandalkan Tuhan. Apalagi nilai-nilai Kristen yang kita pegang amat mempengaruhi kesuksesan kita berkarier. Tuhan akan mempromosikan kita dalam karier kalau kita berkarakter dan jujur. Kami pun ada doa untuk bangsa Indonesia selain sharing kebenaran Firman Tuhan dan doa. Kita pun mendoakan anggota kita yang mempunyai masalah. Setelah itu kita makan bersama,” pungkas Terrence yang juga mengatakan ada group WA (WhatsApp) dibuat untuk saling berkomunikasi.

                Yudistira Andi Prasetio Rante Lembang (30 tahun), Hansen (32 tahun) dan Sarah adalah anak muda asal Indonesia yang kuliah di Singapura, hingga mereka melanjut bekerja di negeri singa itu. “Hidup di Singapura harus penuh disiplin, tertib, dan sangat beda dengan Indonesia. Tantangan juga di Singapura berat, dan sangat ketat dalam persaingan dengan warga setempat, dan warga pendatang lainnya. Sehingga kita harus punya bekal iman,” cetus Hansen.

                Yudistira yang sejak tamat SMP sudah belajar di Singapura menerangkan, ia banyak mendapat tempaan mental di Singapura sehingga ia tangguh. “Singapura ini negara maju, bahkan anak Presiden RI Jokowi saja belajar di sini. Puji Tuhan, kami merasa diberkati dengan adanya komunitas Profit. Dan penting kita ikut di Profit untuk berdoa dan sharing dengan teman-teman asal Indonesia,” ujar Yudistira yang sehari-harinya bekerja sebagai manajer kontraktor di Singapura.

                Sarah menambahkan, kalau ia bisa kuliah di Singapura, itu semata-mata anugerah Tuhan. “Saya senang bekerja di sini, karena ada juga komunitas kita untuk sharing dan berdoa bersama,” ujarnya. Terrence yang pada Sabtu, 17 Desember 2016 lalu sudah menggelar resepsi pernikahannya dengan Melita Sumitro di Hotel Shangrila, Jakarta, menerangkan, Singapura adalah negara yang tertib, disiplin dan sangat beda dengan Indonesia. Ahok, katanya, menginginkan Jakarta bisa kelak maju seperti Singapura. Dan itu sangat bagus. KS

Berita Terkait