Dr. Antonius Natan
Menggali Rahasia Kepemimpinan Ahok

Penulis adalah Ketua Departemen Pemberdayaan BAMAG 1896 dibaca
Dr. Antonius Natan

       Beritanarwastu.com. Beberapa tahun belakangan ini media senantiasa mengangkat sosok Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaya Purnama (BTP), M.M. atau panggilan akrabnya Ahok. Ia dikenal masyarakat sebagai pemimpin yang bicara blak-blakan, cenderung keras dan terkesan berang. Alhasil, pro dan kontra mengalir di sosial media, tapi terlihat Ahok tak ambil pusing.

Ahok yang termasuk pula salah satu “Tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU 2011 (sebelum ia jadi Gubernur DKI Jakarta)” berhasil mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain dan mampu menggerakkan dan mengawasi ribuan PNS di pemerintahan Provinsi DKI Jakarta sehingga mencapai tujuan. Ahok sepertinya diperlengkapi dengan kapasitas dan kapabilitas serta menguasai berbagai aspek pemerintahan secara detail. Tatkala masyarakat mencari pemimpin ideal, berbagai kriteria yang bisa dimunculkan mulai dari jenjang pendidikan, pengalaman, ganteng atau tidak, hingga agama yang dianut, asal suku dan karakter serta sopan santun.

Sedemikian idealnya sehingga nyaris sempurna sebagai manusia. Sebenarnya cukup banyak yang memiliki kriteria sempurna, bahkan ada yang sudah menjadi pejabat. Tapi di samping itu, didapati kelemahan muncul saat mulai menjabat, ternyata implementasi lemah dan sering sang pemimpin hanya beretorika, pintar melakukan presentasi tapi lemah dalam eksekusi apalagi menemukan solusi jitu.

Melihat KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menangkap sejumlah pemimpin di tingkat pusat hingga daerah, para eksekutif, legislatif maupun yudikatif, bukan berarti penjaringan pemimpin lemah. Berbagai perangkat dan model rekruitment dilakukan untuk memastikan yang terjaring adalah pemimpin ideal, namun kenyataan sebaliknya. Apakah ada yang salah dalam budaya pemimpin di Indonesia.

 

Menggali Rahasia Kepemimpinan Ahok

Menjadi pemimpin adalah pilihan Tuhan dan merupakan kedaulatan Tuhan. Dan yang dipilih yang dikenal. Mengenal pemimpin dianalogikan seperti melihat pohon dari buah yang dihasilkan. Pohon disebut bagus dan baik jika berbuah lebat serta manis, mungkin juga harum, menarik dan lezat dimakan. Demikian pula pemimpin baru dikenal bagus dan baik jika kehidupan keseharian sebelumnya sudah seperti buah tersebut. Biasa disebut memiliki karakter yang sehat dan hidup sebagai orang yang saleh, tulus dan setia atau dikenal berintegritas.

Di Indonesia sebenarnya kita telah melihat sosok birokrasi yang saleh, tulus, setia dan berintegritas, tapi kurang menonjol dan hilang dimakan zaman. Dalam dekade ini bangsa kita dianugerahi cukup banyak pemimpin yang ideal, terlihat hasil pembangunan yang prorakyat dan memenuhi harapan masyarakat, dan tentu saja di sana sini masih terdapat kekurangan-kekurangan tetapi masyarakat memaklumi. Mari kita perhatikan apa rahasia yang perlu disimak tatkala seseorang Ahok menjadi pemimpin di di DKI Jakarta.

 

Pemimpin Tak Mencari Kekuasaan

Menjadi Gubernur DKI Jakarta adalah menjadi orang nomor satu, tak sekadar sebagai kepala daerah Provinsi Jakarta, melainkan sebagai ibukota negara Indonesia. Kedudukan bergengsi dan memiliki kekuasaan besar. Ahok dianugerahkan kemampuan kekuasaaan lebih besar dari orang kebanyakan, sehingga ia tidak lagi mencari kekuasaan. BTP atau Ahok justru memulai ”anugerah” kemampuan yang lebih besar tersebut dengan mendorong kebaikan dan kebenaran dalam pelaksanaan tugas-tugasnya.

Jajaran pemerintah daerah hingga kelurahan dikerahkan melakukan pembangunan dan peduli dengan rakyat. Tugas ini tidak untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk orang banyak. Hakekatnya pemimpin adalah jadi teladan untuk kebaikan dan menjauhkan orang banyak dari kesempatan korupsi dan tindakan yang merugikan negara. Peranan Ahok beserta jajarannya mampu membuat perencanaan yang holistik, berkeadilan dan mensejahterakan. Ahok tidak mempertahankan kekuasaan, karena menyadari kondisi saat ini merupakan “anugerah” sekaligus kedaulatan Tuhan. Jadi tidak sembarangan orang bisa menaikkan atau menurunkannya.

 

Rumah Tangga Harmonis dan Tak Mencari Harta

Ahok setia terhadap istrinya Veronica Tan, merupakan bukti pemimpin yang berintegritas, dapat menahan diri dan mampu mencintai secara tulus. Bagaimana seorang pemimpin bisa melakukan pekerjaan secara jujur jika kepada istrinya yang seharusnya paling dicintai saja tidak dapat berlaku jujur. Tentunya sangat dikhawatirkan kepada orang lain yang tidak memiliki hubungan secara pribadi akan lebih tidak jujur, apalagi setia menepati janji.

Kesetiaan dan rumah tangga harmonis merupakan harga mati yang harus dimiliki setiap pemimpin. Hubungan orang tua dan anak yang terjalin dalam rumah tangga harmonis terlihat pula dalam pasangan Ahok dan Veronica. Anak-anak Ahok juga tidak mumpuni menjadi anak pejabat dengan menggunakan fasilitas negara, mereka menggunakan bus jika ke sekolah. Dan mereka bangga dengan keberadaan orangtuanya. Relasi ayah ibu dan anak yang sehat terkandung dalam keluarga Ahok. Ini merupakan kunci sukses Ahok memulainya dari keluarga inti, dan menularkannya kepada masyarakat.

Kesederhanaan hidup sehari-hari termasuk istri dan anak-anak disertai rasa syukur merupakan rahasia lain dalam kehidupan Ahok. Ia menikmati penghasilan berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan dan menolak segala bentuk gratifikasi. Itu menjadikan Ahok terbebas dari belenggu kepentingan serta menikmati kebebasan dalam berkarya.

Keinginan hati dan tamak akan harta benda menjadikan pemimpin berpikir bengkok. Keputusan dipertimbangkan atas kepentingan pribadi atau manfaat pribadi tidak berdasarkan azas manfaat kepentingan orang banyak. Ahok mampu memimpin secara tulus dan ikhlas, menciptakan sistem untuk pembangunan yang tepat sasaran dan memberikan kemudahan banyak pihak agar memiliki akses mengawasi. Sehingga jika ada penyimpangan yang menuju kepada tindakan korupsi atau merugikan negara, mengusik nurani Ahok yang tidak bersedia kompromi terhadap kejahatan dan dosa.

Di sinilah menjadikan Ahok sebagai manusia pemberang dan memberangus lawan politik yang culas dan curang. Sebagai pejabat seyogyanya menjaga aset negara untuk kepentingan rakyat. Ahok menghardik ketidakjujuran, menghalau penipuan dan keserakahan. Melawan iri hati, dengki dan fitnah.

 

Pemimpin Menularkan Nilai-nilai Kerajaan Allah

Ahok terlihat jelas menselaraskan kehidupan dengan hukum Tuhan dan hukum positif yang berlaku di negara. Ahok memiliki kecerdasan dan berhikmat dalam setiap pengambilan keputusan, besar atau kecil, untuk manfaat dan maslahat orang banyak. Serta ia tidak tersandera dengan keputusan yang telah diambil dan keputusan yang ditetapkan mencerminkan keadilan yang mensejahterakan orang banyak.

Ahok menyadari bahwa hidupnya bertanggungjawab kepada Tuhan yang memilihnya, pemilihan Tuhan mengandung arti ada tugas dan tanggung jawab melekat. Maka Ahok melakukan komunikasi dan relasi yang sehat dengan Tuhan Sang Pencipta, sehingga mampu menjalankan penugasan yang diemban. Keputusan dan solusi merupakan campur tangan Kerajaan Allah. Tuhan hadir dalam kehidupannya dan masyarakat merasakannya langsung. Jajaran Pemprov DKI Jakarta apapun agamanya didorong agar mengabdi yang tulus menjalankan agama secara baik dan benar.

Ahok memberikan waktu setiap dini hari berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa, pujian dan penyembahan. Pengelolaan waktu yang baik menjadikan kualitas hidupnya menjadi seimbang. Dan kemampuan mengelola dan memimpin diri sendiri menjadikannya memiliki waktu.

Ahok mengenal Tuhannya secara baik dan benar, tak sekadar mendengar dari kata pendeta atau ahli teologi. Perjumpaan dengan Tuhan secara berulang menjadikan Ahok memiliki hubungan intim. Pengenalan terhadap Sang Pencipta menjadikan Ahok memiliki rasa takut akan Tuhan. Takut, respek atau hormat diimplementasikan dalam kehidupan yang berserah penuh atas kedaulatan Tuhan. Seakan orang melihat Ahok sangat berani melawan ketidakadilan, dia kuat menanggung segala persoalan walaupun dihajar beramai-ramai oleh politisi. Rasa takut yang sama menjadikan Ahok berlaku jujur, tulus dan setia. Sehingga disegani oleh kawan maupun lawan.

            Ahok memiliki nurani dan rendah hati. Menjadi pejabat tidaklah berarti memiliki hidup dan memerintah seperti raja, melainkan melayani masyarakat dan memerintah sebagai seorang pengelola yang bertanggung jawab kepada rakyat dan negara serta Tuhan. Ahok paham betul dengan kedaulatan Tuhan dalam hidupnya, sehingga tidak bermegah karena kekuasaannya melampaui orang banyak. Melainkan ditunjukkannya kekuasaan tersebut melalui kepedulian dan tindakan yang menjadi jawaban bagi orang banyak.

Masyarakat merasakan perubahan di berbagai sendi pemerintahan dari infrastruktur hingga suprastruktur. Ternyata model kepemimpinan Ahok yang ideal tercatat dalam Perjanjian Lama dalam Ulangan 17:15-20 (TB), “Maka hanyalah raja yang dipilih TUHAN, Allahmu, yang harus kau angkat atasmu. Dari tengah-tengah saudara-saudaramu haruslah engkau mengangkat seorang raja atasmu; seorang asing yang bukan saudaramu tidaklah boleh kau angkat atasmu. Hanya, janganlah ia memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda, sebab TUHAN telah berfirman kepadamu: Janganlah sekali-kali kamu kembali melalui jalan ini lagi.  

Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang, emas dan perak pun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak.  Apabila ia duduk di atas takhta kerajaan, maka haruslah ia menyuruh menulis baginya salinan hukum ini menurut kitab yang ada pada imam-imam orang Lewi. Itulah yang harus ada di sampingnya dan haruslah ia membacanya seumur hidupnya untuk belajar takut akan TUHAN, Allahnya, dengan berpegang pada segala isi hukum dan ketetapan ini untuk dilakukannya,  supaya jangan ia tinggi hati terhadap saudara-saudaranya, supaya jangan ia menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri, agar lama ia memerintah, ia dan anak-anaknya di tengah-tengah orang Israel."  Saatnya tiba, nilai-nilai Kerajaan Allah menjadi bagian kehidupan berbangsa dan bernegara, Anda setuju BTP atau Ahok memimpin Jakarta kembali?

 

Berita Terkait