Hojot Marluga
Menghidupi Indra Keenam

740 dibaca
Hojot Marluga

Beritanarwastu.com. Rasa percaya diri alasnya di dalam diri. Inilah tiorem, semacam dalil. “Bila seorang percaya diri, akan membuat dirinya lebih smart.” Memang, ada hal yang mesti diperhatikan dekat-dekat rasa percaya diri yang berlebihan. Kepercayaan diri yang berlebihan, over confidence bisa jadi pergunjingan. Yang tepat, percaya diri berarti membangun diri, bahwa dalam dirinya percaya ada kelebihan yang dititipkan Tuhan. Sementara kepercayaan diri yang berlebih mengganggap bahwa dialah yang lebih hebat dari orang lain, sedangkan orang lain tak dianggapnya berarti. Di sini ego memuncak.

Sungguh, membangun kepercayaan diri, semacam alarm, pengingat bagi diri kita, bahwa kita punya potensi (talenta) yang diberikan Tuhan. Mengotosugesti diri, menyadarkan kita bahwa kita sama “setara” dengan orang lain. Salah satu tokoh yang mendalami otosugesti, Dr John Kappas mengatakan, ada tiga hal yang bersangkutan dengan otosugesti. Pertama, sugestibilitas emosi, diartikan, seseorang yang lebih menitikberatkan pada penerimaan berdasarkan makna yang terkandung.

Seseorang yang mempunyai karakter sugestibilitas emosi seperti ini cenderung memberikan reaksi lebih besar terhadap sugesti-sugesti yang bernuansa emosional. Kedua, sugestibilitas fisik, lebih menitikberatkan sensasi fisik dan akhirnya menjadi respons emosional. Ketiga, sugestibilitas intelektual cenderung merasa khawatir akan hilangnya kontrol terhadap dirinya sendiri. Ini seumpama sugesti yang diberikan motivator. Motivasi dari luar sesaat sifatnya, yang lebih konstan motivasi dari dalam diri. Menemukannya dengan mengotosugesiti diri sendiri.

Meminjam kata, kitalah dokter terbaik dalam diri kita. “Kitalah motivator terbaik untuk diri kita.” Bicara otosugesti merupakan terma yang bisa diterapkan pada setiap orang yang tak bergairah,  maka perlu distimulus pikirannya untuk bertindak. Itu sebab, otosugesti mesti dipahami pada kedalaman diri. Dengan perkataan lain, otosugesti saran untuk mengantusiasme diri. Perkataan lain, peranti, partikel pemantik pada pikiran untuk bersegera bertindak. Tentu ini ranah alam bawah sadar.

Di sini bisa disangkakan negatif. Sebenarnya, positif, jika  dipahami mengotosugesti diri untuk terus menggali kemampuan diri, karena Tuhan sudah memberikan kuasa untuk dirinya. Bahasa rohaninya bagaimana memahami bahwa Tuhan hadir dalam tindakannya. Ada keyakinan bahwa ada Tuhan dalam seluruh totalitas hidupnya. Jelas, di sini sering menjadi perdebatan panjang. Yang merasa rohani berkata, hanya dia yang bisa mengklaimm ada Tuhan, itu batil. Tak valid, invalid.

 

Mengotosugesti Diri

Otosugesti asal dari dua suku kata. Kata oto, penggerak sendiri, sugesti berarti sarana. Jika digabungkan berarti sarana dari diri sendiri untuk menggerakkan potensi diri. Otosugesti berarti semua jenis sugesti yang rangsangan timbul dari dalam diri. Merasuk ke dalam pikiran melalui penyadaran diri. Seyogianya yang dilatih adalah pikiran alam bawah sadar. Didengungkan terus-menerus. Diperkatakan tiap waktu. Misalnya, mengatakan, kepada anak, “Engkau adalah anak yang baik.” Terus menerus, satu waktu pikiran ada akan tersadar, diingatkan pikiran bawah sadarnya. Dan itu menjadi alarm mengingatkannya jika diperhadapkan pada satu dilema.

Prinsip otosugesti secara manasuka mengaras zona bawah sadar. Lalu, bagaimana menciptakan otosugesti? Alam bawah sadar kita memiliki kemampuan luar biasa akan memproses tujuan. Awalnya, ditetapkan tujuan, lalu selanjutkan ditonton film, cetak biru pikiran. Contoh, jika takut berbicara di depan umum. Maka caranya, kondisikan diri pada setiap waktu, setiap ada ruang untuk menyampaikan ide dalam pikiran. Sampaikan, sadari itu untuk pembiasaan. Ala bisa karena biasa. Kalau itu sudah ada, maka pasti tak akan takut lagi berbicara di depan umum.

Selanjutnya, sumbuhkan pikiran menjadi tindakan. Ada orang berteriak sekeras-kerasnya, tetapi tanpa suara. Ada semacam pemikiran, membayangkan kita telah mencapai tujuan. Berulang-ulang sehingga tercetak dengan pikiran. Ada layar mental bagi kita memperlihatkan bahwa yang kita cita-cita kelak akan tercapai. Asalah konstan, telaten dan penuh daya juang. Konon inilah yang disebut menghidupkan indra keenam. Bila indra ke enam kita sudah aktif hal itu akan memberikan antusiasme baru, cepat bertindak.

Dan, itu juga untuk yang membangun dan mengembangkan rasa percaya diri. Dalam buku Think and Grow Rich yang digores Napoleon Hill membahas tentang otosugesti. Menurut Hill, prinsip otosugesti, apabila difokuskan pada objek tujuan utama, perhatian yang terkendali adalah sarana untuk mengamalkan prinsip otosugesti secara positif. Artinya, jika seseorang benar-benar sangat menginginkan sesuatu sampai rela mempertaruhkan segala masa depannya, dia pasti akan berhasil. Jika orang benar-benar siap untuk mendapatkan sesuatu, sikap itu terlihat dari penampilannyaa.

Hasrat bukan lagi libido, tetapi keinginan mental yang mengkristal, menggumpal jadi antusias. Nyata-nyata hal itulah yang pada masanya membuahkan hasil. Intinya, otosugesti ada positifnya, mengingatkan diri agar menjadi penguasa takdir sendiri. Sebab memang, Tuhan sudah memberikan kita masing-masing kemampuan tersebut, sekarang tergantung kita. Apakah potensi itu akan kita temukan, atau tetap terkubur dalam-dalam lumpur kungkungan mental? Bersikaplah antusias untuk tetap mengotosugesti diri. Menjadi manusia yang matang lewat proses waktu dan pergumulan hidup. Melintasi pengalaman melahirkan pembelajaran, membawa akil balig pada mindset menyingkap potensi diri.

Berita Terkait