Mengkritisi Pernikahan Sejenis dan Sikap Gereja

1399 dibaca
Xavier Bettel dan Gauthier Destenay

Beritanarwastu.com, Kasus pernikahan sejenis kembali menghebohkan dunia. Kali ini datang dari Irlandia. Irlandia menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui pernikahan sesama jenis berdasarkan penghitungan suara dari warganya. Sebanyak 1,2 juta penduduknya menyetujui adanya kebebasan menikah sesama jenis di negaranya, dan hal tersebut yang pertama dalam sejarah. Dukungan terbesar mengenai pernikahan sesama jenis datang dari Kota Dublin Selatan, dan warganya hampir 75 persen mengatakan setuju. Sementara itu, dukungan paling sedikit diberikan oleh Roscommon Selatan.

Keputusan ini kemudian disahkan oleh Perdana Menteri Irlandia, Enda Kenny. Sontak warga Irlandia langsung turun ke jalanan sebagai bentuk kebahagiaannya.  "Pernikahan dapat dilakukan oleh dua orang tanpa membedakan jenis kelamin mereka. Oleh karena itu, jawabannya, iya. Untuk masa depan mereka, untuk cinta mereka, dan ya untuk pernikahan itu," ujar PM Kenny, seperti dilansir dari surat kabar Daily Mail.

Orang-orang yang bergembira itu, kemudian turun ke jalan, merayakan keputusan baru yang dibuat pemerintah mereka. Tua maupun muda, para pasangan homoseksual ini saling memberikan tanda kasih mereka.

Wakil Perdana Menteri Irlandia, yang juga merupakan pemimpin Partai Buruh, Joan Burton mengatakan, Irlandia merupakan negara yang penuh ragam. "Kami merupakan bangsa pelangi dengan sejumlah besar keragaman," ucapnya.

Kebebasan untuk menikah dengan sesama jenis di Irlandia sudah sejak lama menjadi pemikiran pemerintah. Para aktivis pecinta sesama jenis getol melakukan demo yang meminta pemerintah mendukung pernikahan sesama jenis di negaranya. Memasuki abad 21, kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) di pelbagai negara tidak lagi menutup diri. Mereka menyadari bahwa orientasi seksualnya bertentangan dengan prinsip mayoritas penganut kodrat hubungan lelaki-perempuan. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi mereka berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Bukan cuma aktif berorganisasi, anggota kelompok LGBT di beberapa negara bahkan ikut berperan dalam politik. Termasuk mencapai posisi politik tertinggi sebagai pemimpin pemerintahan, yakni Perdana Menteri.

 

Baru-baru ini,  publik dunia dikejutkan dengan kabar Perdana Menteri Luxembourg, Xavier Bettel (42 tahun), menikahi kekasih lamanya Gauthier Destenay, pria yang berprofesi sebagai arsitek. Pemimpin politik salah satu negara paling kaya di Eropa itu menjadi yang kedua di dunia menikah dengan sesama jenis secara terbuka ketika masih berkuasa.

 

Menyoal Sikap Gereja

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Pdt. Freddy Soeyoto menegaskan, pernikahan sejenis sangat bertentangan dengan Firman Allah. Sebab itu, dia menolak pernikahan semacam ini.  “Dalam Alkitab telah dengan tegas dikatakan bahwa pernikahan hanya bisa dilakukan antara pria dan wanita. Kalau pun ada yang melihat ini diperbolehkan, karena perspeketif hak asasi manusia silakan saja, tapi pegangan kita tetap berbasis kepada Alkitab,” tukasnya.

Ketua Majelis Pertimbangan PGLII Pdt. DR. Nus Reimas dalam sebuah ibadah di daerah Kota Bekasi, Jawa Barat, baru-baru ini, juga menyampaikan bahwa moral manusia di belahan dunia ini sudah semakin kacau dan keropos, termasuk karena adanya pernikahan sejenis, yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. “Sebab itu, keluarga-keluarga Kristen agar jangan terjerumus terhadap persoalan moral, maka orangtua harus bisa mengajak anak-anaknya untuk selalu menghadirkan Allah di dalam keluarganya, dengan membaca Alkitab dan berdoa bersama. Karena di situ Allah akan membimbing umatNya dengan kuasa Roh Kudus yang akan member perubahan hidup,” ujar Ketua Dewan Pembina LPMI ini.

Menurut Pdt. Nus Reimas yang telah dua kali dipercaya sebagai Ketua Umum PGLII, peran keluarga sangat penting di dalam menciptakan anak-anak yang beriman tangguh dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. “Selain ada bahaya narkoba, persoalan korupsi, bencana alam, kepanasan yang luar biasa di Pakistan,  juga ancaman krisis moral seperti pernikahan sejenis. Sehingga keluarga-keluarga Kristen harus tahu akan hal ini. Itu sebabnya, mari kita bentengi keluarga kita dengan Firman Tuhan dan doa. Kalau kita mengutamakan persekutuan dengan Tuhan, maka Tuhan akan melindungi kita dari bahaya moral yang ada sekarang ini di dunia. Kalau keluarga-keluarga hancur, maka masyarakat akan hancur. Jadi keluarga itu sangat penting kita jaga dan bentengi dengan Firman Tuhan,” papar pemimpin umat asal Ambon itu.

              Sikap pimpinan gereja di Amerika Serikat (AS) terkait pernikahan sejenis ternyata juga menuai pro dan kontra. Seperti dilansir SatuHarapan.com keputusan Mahkamah Agung AS yang memberi hak bagi pasangan sejenis di seluruh negeri itu untuk menikah, menuai pro dan kontra di kalangan pemimpin agama. Kendati isu ini sudah menjadi perdebatan lama dan 37 dari total 50 negara bagian sudah mengesahkannya, banyak  pendeta dan pastor terkejut dan tampaknya belum siap. Namun di sisi lain tidak sedikit pula yang menyambutnya dengan gembira sebagai simbol kesetaraan di masyarakat.

Sementara sebagian pendeta dan pastor yang kecewa menyebut keputusan MA itu merupakan dosa dan AS akan mendapat kutuk atas dosa itu. Dan, pendeta dan pastor lainnya justru melihatnya sebagai “berkat” bagi rakyat AS. Pengakuan MA dianggap simbol kesetaraan dalam masyarakat.  "Ini merupakan langkah penting dalam menciptakan komunitas yang inklusif, di mana hak-hak semua warga negara diakui dan ditegaskan," kata Pdt. Robert Cornwall dari Central Christian Church Woodward di Troy. "Saya merayakan putusan ini dan percaya itu adalah awal dari sebuah hari baru bagi gereja dan bangsa kita," kata dia sebagaimana dilansir oleh Error! Hyperlink reference not valid.

"Saya percaya bahwa pernikahan adalah perjanjian suci yang harus dimasuki secara hati-hati dan komitmen yang mendalam," kata Cornwall. "Banyak pasangan gay dan lesbian telah menunjukkan bahwa mereka memiliki komitmen yang sama," imbuhnya. Namun pendapat seperti yang dilontarkan Cornwall ditentang oleh banyak pendeta dan pastor lainnya. Mereka sangat tidak setuju dengan keputusan MA AS itu. Stacy Swimp, seorang pekerja gereja  di Jemaat Flint yang memimpin koalisi pendeta kulit hitam, National Coalition of Black Pastors, mengecam keputusan MA dan mengatakan, hal itu tidak adil dan berlawanan dengan keinginan rakyat pemberi suara.

Menurut dia, pada tahun 2004, warga Michigan telah memutuskan lewat jajak pendapat bahwa  pernikahan adalah hanya antara seorang pria dan seorang wanita. "Mahkamah Agung  berlaku jahat," kata Swimp, seorang Kristen Injili.  "Ini menciptakan hukum baru, bukan menafsirkan hukum...Saya takut dan gemetar bagi negara saya. Masa depan Amerika tampak suram sekarang," tegasnya.

Swimp menyerukan pembangkangan sipil, mengatakan bahwa para pejabat pemerintah dan pendeta harus menolak untuk melakukan dan menghukum  pernikahan sesama jenis. "Sekarang adalah waktunya untuk pembangkangan sipil," kata Swimp. "Pegawai Negeri Sipil yang memiliki hati nurani Kristen harus menolak untuk menikahkan dua orang dari jenis kelamin yang sama...Mereka harus bersedia untuk mematuhi hukum, bahkan pun jika itu berarti kita masuk penjara atau didenda," kritiknya.

Uskup Katolik Michigan, yang mewakili 2 juta umat Katolik di Michigan, merilis pernyataan bersama dan mengulangi pandangan mereka bahwa pernikahan harus antara seorang pria dan seorang wanita. Dan mereka menyatakan keprihatinan tentang ancaman terhadap kebebasan beragama Katolik dan kelompok agama lain karena keputusan MA itu. RR

Negara yang Melegalkan Pernikahan Sesama Jenis


1. Belanda (1996)
         Pemerintah Belanda melegalkan pernikahan sejenis pada tahun 1996, 15 tahun setelah aktivis gay mengusung isu tersebut ke permukaan pada awal tahun 1980. Saat itu Parlemen Belanda membentuk satu komisi khusus untuk melihat efek hukum dari legalitas pernikahan sejenis. Empat tahun kemudian undang-undang pun disahkan. Alhasil, sejak 1 April 2001, pernikahan sejenis telah resmi diakui secara hukum di Belanda.


2. Belgia (2003)
          Satu tahun setelah legalitas pernikahan sejenis diberlakukan di Belanda, undang-undang serupa diajukan pula ke parlemen Belgia. Tepatnya pada 1 Juni 2003 pasangan pertama yang menikah saat itu  adalah Alain De Jonge dan Olivier Pierret.


3. Spanyol (2005)
          Pada 30 Juni 2005, Parlemen Spanyol melegalkan pernikahan sejenis. RUU ini sangat ditentang oleh Gereja Katolik, tetapi hasil jajak pendapat menunjukkan 62% dari majelis mengabulkan UU tersebut. Sejarah mencatat, Pada 8 Juni 1901, Elisa Sanchez Loriga, berpakaian layaknya seorang pria dan berprilaku layaknya laki-laki. Pasangannya adalah  Marcela Gracia Ibeas. Setelah kebohongan itu terbongkar ditambah dengan pemberitaan dua surat kabar, mereka kehilangan pekerjaan, dikucilkan, dan harus meninggalkan Spanyol. Pernikahan mereka menjadi pernikahan sejenis pertama yang tercatat dalam sejarah Spanyol.


4. Kanada (2005)
           Pada saat Parlemen mengesahkan pernikahan gay pada 20 Juli 2005, hampir semua provinsi di Kanada tercatat telah dahulu melegalkan hukum tersebut. Setelah mengesahkan UU tersebut, Kanada menerbitkan lebih dari 15.000 surat nikah bagi pasangan sejenis yang tinggal di negara itu atau hanya khusus datang untuk menikah.


5. Afrika Selatan (2006)
           Di beberapa negara Afrika, seorang pria dapat dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup jika ketahuan gay. Seperti Uganda, mereka memberlakukan hukuman mati bagi penganut kelainan ini. Begitupun dengan Nigeria, mengancam menjebloskan ke penjara hingga menghukum mati warganya yang ketahuan homo. Hal sama dilakukan oleh Pemerintah Burundi dan Rwanda.
           Namun Afrika Selatan memiliki hukum berbeda, negara ini memberi hak-hak kepada kaum  LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender)  untuk menikah secara resmi, ketentuan itu berlaku  sejak 30 November 2006. Cuma, ada pula negara di benua sama yang bersikap toleran dengan gay. Pemerintah Kenya melarang homoseksual. Untuk itu pemerintah meluncurkan riset orientasi seksual guna memperbaiki kesehatan warganya.


6. Norwegia (1993)
           Pernikahan sejenis menjadi topik diskusi di dewan pemerintah Norwegia. Pada tahun 1993 Norwegia menjadi negara kedua, setelah Denmark, yang melegalkan pernikahan sejenis, di Denmark saat itu dimulai tahun (1989), pemerintah membolehkan pecinta sesama jenis menikah di luar gereja dan mendapat restu dari pendeta. Dan 20 tahun kemudian, pemerintah negara itu membolehkan pasangan gay mengadopsi anak.

7. Swedia (2008)
            Swedia adalah salah satu negara paling liberal di dunia dan 71% penduduknya mendukung pernikahan sejenis. Legislasi pernikahan sejenis disahkan pada bulan Mei 2008. Lima bulan kemudian, tepatnya di bulan November, Gereja Lutheran Swedia merupkan gereja yang punya pengikut paling banyak, mereka mengumumkan dukungan penuh untuk pernikahan sesama jenis. Tiga perempat dari penduduk Swedia adalah anggota gereja Lutheran, meskipun kehadiran mereka di gereja sangatlah rendah.


8. Portugal (2009)
             Homoseksualitas dipandang sebagai sebuah kejahatan di Portugal sampai tahun 1982. Kemudian tahun 2009, para LGBT hanya menerima dukungan 40% dari parlemen. Setelah Perdana Menteri Jose Socrates kembali terpilih tahun 2009, ia membuat UU yang melegalkan pernikahan sejenis, UU tersebut diloloskan oleh Parlemen. Jumat 8 Desember jadi hari bersejarah, sebuah undang-undang mengatur pernikahan sejenis tersebut disetujui oleh parlemen dengan pemungutan suara. Sebanyak 123 anggota parlemen memberikan suara dukungannya atas peraturan ini, sementara 99 lainnya menolak. Hukum itu mulai berlaku sejak 5 Juni 2010.


9. Meksiko (2009)
           Sejak 21 Desember 2009, pernikahan sesama jenis dapat dilakukan di ibukota Meksiko, Mexico City. Seperti dilansir Associated Press, Jumat (6 Agustus 2010), delapan dari 10 hakim di pengadilan tinggi negara itu mengatakan, hukum itu konstitusional. Meksiko City adalah salah satu ibu kota pertama Amerika Latin yang sepenuhnya mengakui perkawinan sejenis. Saat itu, hanya di ibukota negara tersebut, hal itu dapat dilakukan.

10. Islandia (2010)
           Sebuah ukuran melegalkan pernikahan sesama jenis disahkan legislatif Islandia pada Juni 2010. Jajak pendapat publik sebelum pemungutan suara menunjukkan dukungan luas untuk ukuran, dan tidak ada anggota legislatif negara memberikan suara menentang. Islandia telah mengizinkan pasangan sesama jenis untuk mendaftar sebagai mitra dalam negeri sejak tahun 1996. Satu dekade kemudian, parlemen melewati ukuran yang memungkinkan pasangan gay mengadopsi anak. Setelah undang-undang baru diberlakukan pada akhir Juni 2010, perdana menteri negara itu, Johanna Sigurdardottir, menikahi pasangannya lamanya, Jonina Leosdottir, menjadi salah satu orang pertama yang menikah di bawah undang-undang.


11. Argentina (2010)
          Tepat pada 22 Juli 2010, hukum itu mulai berlaku di Argentina, mereka jadi negara pertama di Amerika Latin yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Terlepas dari oposisi kuat dari Gereja Katolik dan Gereja Protestan Evangelis, disetujui oleh kedua majelis legislatif Argentina dan ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Cristina Fernandez de Kirchner. Hukum memberikan hak dan kewajiban kepada pasangan sesama jenis yang menikah, sama seperti pasangan normal lainnya, semua hak dan tanggung jawab dinikmati oleh pasangan heteroseksual, termasuk hak untuk mengadopsi anak.


12. Uruguay (2010)
            Uruguay menjadi negara Amerika Latin kedua, setelah Argentina, yang menyetujui penikahan gay. Tepatnya pada Kamis (11 April 2014).  Dalam UU baru ini juga diatur mengenai perubahan usia minimum untuk menikah secara legal. Kini, usia minimum bagi wanita dan pria untuk menikah adalah 16 tahun. Sebelumnya, usia minimum bagi wanita untuk menikah adalah 12 tahun dan 14 tahun bagi kaum pria. Sebanyak 71 dari 92 anggota parlemen pada akhirnya menyetujui proposal tersebut setelah 1 minggu para senat mempertimbangkan keputusan dengan seksama. Di lain pihak, Gereja Katolik dan organisasi Kristen Uruguay mengatakan, kecewa atas keputusan tersebut. Mereka menilai bahwa UU ini akan membahayakan institusi keluarga.


13. New Zeland (2013)
           Parlemen menyetujui amandemen undang-undang pernikahan New Zealand yang dibuat pada tahun 1955, walau banyak mendapat penentangan dari kelompok Kristen setempat. Namun saat ini pemerintah telah melegalkan pernikahan sesama jenis di negara yang dekat dengan Australia ini. Tepatnya pada 17 April 2013, Selandia Baru menjadi negara Asia-Pasifik pertama yang melegalkan perkawinan sesama jenis, setelah kelompok gay dan lesbian bersusah payah selama 10 tahun mengkampanyekan legalisasi pernikahan sejenis.


14. Perancis (2013)
          Pada 18 Mei, Presiden Perancis, Francois Hollande telah menandatangani undang-undang kontroversial, yang menjadikan negaranya menjadi ke-9 di Eropa, dan ke-14 di dunia yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Meskipun RUU sudah disahkan Majelis Nasional dan Senat pada bulan April, tanda tangan Hollande harus menunggu sampai tantangan pengadilan dibawa oleh partai oposisi konservatif, UMP, itu diselesaikan. Pada 17 Mei, Perancis pengadilan tertinggi, Mahkamah Konstitusi, memutuskan bahwa tagihan adalah konstitusional.


15. Denmark (2013)
            Parlemen Denmark telah mengesahkan undang-undang yang memperbolehkan pasangan homoseksual melangsungkan pernikahan di Gereja Evangelis Lutheran milik negara. Aturan hukum baru itu sedianya telah berlaku mulai 15 Juni 2013. Sebenarnya pada 1989, pemerintah negara itu membolehkan pecinta sesama jenis menikah di luar gereja dan mendapat restu dari pendeta. Dan 20 tahun kemudian, pemerintah negara itu membolehkan pasangan gay mengadopsi anak.


16. Inggris dan Wales (2013)
           Pernikahan sesama jenis kini legal di Inggris setelah Ratu Elizabeth II memberikan persetujuan kerajaan.
Ketua parlemen Inggris John Bercow mengatakan, persetujuan kerajaan telah diberikan pada Rabu, 17 Juli 2013, setelah Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk mengesahkan pernikahan gay di wilayah England dan Wales mendapat persetujuan parlemen. RUU ini memungkinkan pasangan gay untuk menikah dalam seremoni agama dan sipil di England dan Wales. RUU ini juga mengizinkan pasangan yang sebelumnya telah hidup bersama untuk meresmikan hubungan mereka dalam pernikahan.

17. Skotlandia (2014)
          Skotlandia resmi menyetujui pernikahan sesama jenis setelah melalui voting di parlemen, dengan suara mayoritas menyetujui disyahkannya UU pernikahan sejenis. Ada 105 anggota parlemen setuju dan menyepakati pernikahan sejenis sebagai langkah penting dalam penyetaraan hak-hak manusia dan hanya 18 orang saja yang menolak.

Yang terbaru di kawasan Asia, Vietnam bertolak belakang dengan negara-negara Muslim di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei yang melarang pernikahan sejenis. Vietnam justru mengambil sikap yang bertolak belakang. Vietnam adalah negara kedua di Asia yang menghapus undang-undang  yang melarang pernikahan orang-orang yang berjenis kelamin sama. Sebelumnya Israel telah lebih dahulu melakukan hal yang sama, sejak 1 Januari 2015 lalu. Hal tersebut secara otomatis membuat Vietnam kini menjadi negara kedua di Asia (setelah Israel ) yang memungkinkan pernikahan sesama jenis. TT 

 

Berita Terkait