Menikah Tanpa Adat untuk Mengurangi Biaya Pesta

4240 dibaca
Pesta adat Batak.

Beritanarwastu.com. Di kalangan suku tertentu sekarang ini, ada anggapan bahwa kalau menikah tanpa mengikuti prosesi adat istiadat, maka derajat dari kedua pengantin itu akan rendah. Sementara kalau ada pengantin yang mengggelar adat untuk acara pernikahannya, selain memakan waktu yang cukup lama, juga biaya yang dihabiskan bisa mencapai Rp 50 juta sampai Rp 200 juta. Itu kalau diadakan di sebuah gedung besar di perkotaan seperti Jakarta, dan menghadirkan orang sekitar 700 sampai 1.000 undangan.

Bukan rahasia umum lagi, suku yang terkenal dengan adat istiadat yang kental adalah etnis Batak. Tak heran, setiap hari Jumat dan Sabtu gedung-gedung pertemuan, seperti Hermina, Corpatarin, Mangampu Tua dan Restu yang berada di Jakarta sering terisi oleh pesta pernikahan dua pengantin Batak yang mengikuti prosesi adat. Itu dilakukan setelah pulang dari pemberkatan oleh pendeta di gedung gereja.

Setelah selesai dari acara pemberkatan di gereja sekitar pukul 12.00 WIB, yang dimulai pada pukul 10.00 WIB, maka rombongan keluarga pengantin pun menuju gedung.  Lalu pada pukul 13.00 WIB seusai makan siang, diadakan prosesi adat Batak untuk kedua pengantin yang dipimpin oleh seorang pemuka adat. Acara sukacita seperti ini biasanya diisi pula dengan musik khas Batak dan pemberian ulos (kain khas Batak) kepada kedua pengantin. Pemberian ulos yang jumlahnya cukup banyak itu, dimaksudkan sebagai simbol kasih dan doa kepada Tuhan agar kedua pengantin berbahagia dalam berumah tangga. Acara adat di gedung bisa selesai pukul tujuh malam bila yang diundang dalam acara itu banyak.

Memang acara prosesi adat Batak ini cukup melelahkan dan menghabiskan waktu dan dana yang tidak sedikit. Meski demikian, adat istiadat ini sudah terpelihara sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang  ini. Di satu sisi, acara adat tersebut adalah simbol kerukunan di antara keluarga besar pihak pengatin pria dan wanita. Karena semua bisa hadir untuk memberikan doa restu dan turut merasakan kebahagiaan dari pengantin.

Hanya saja muncul persoalan, apakah prosesi adat yang melelahkan dan menghabiskan dana yang tidak sedikit itu masih relevan dipertahankan di tengah krisis ekonomi sekarang? Seorang pendeta yang juga pemuka  Pentakosta, Pdt. DR. Freddy Pattiradjawane, M.Min, kepada majalah ini menerangkan, ia pernah disematkan ulos oleh pelayan gereja Pentakosta ketika melayani di Sumatera Utara (Sumut).

“Ulos itu merupakan simbol persaudaraan atau kasih. Itu artinya, ada ikatan persaudaraan. Dan saya sangat menghargai ulos yang diberikan itu. Dan pemberian ulos itu, kan, bagian dari adat juga.  Namun harus tetap dilihat, apakah semua adat itu sesuai dengan Firman Tuhan. Landasannya harus tetap Alkitab,” ujar Gembala Sidang GPdI Antiokhia, Jakarta, dan tokoh PGPI ini.

Di kampung halamannya di Maluku, kata Pdt. Freddy, juga ada acara adat bila orang mengadakan acara-acara tertentu. “Itu merupakan kebiasaan masyarakat. Hanya saja, perlu kita teliti dengan baik, apakah adat itu hanya memuliakan ilah-ilah lain, atau adat itu tidak memuliakan Tuhan. Kalau memuliakan Tuhan, maka tidak ada salahnya diteruskan. Seperti ulos, itu tidak salah diberikan kepada orang yang kita kasihi,” terangnya.

Namun, menurut Pdt. Freddy, di tengah krisis ekonomi ini, sebagai umat Tuhan kita pun harus bijak dalam menyikapi keadaan. Misalnya, kalau ada orang yang mau menikah, tak usah menghambur-hamburkan dana secara berlebihan kalau memang pengantinnya sudah diberkati di gereja. “Di Jakarta ini misalnya, kalau orang mengadakan pesta besar bisa habis Rp 50 juta sampai Rp 200 juta. Sementara sekarang kita mengalami krisis ekonomi yang hebat. Jadi umat Tuhan yang tidak mampu, menurut saya, cukup menikah di gereja dan dihadiri keluarga dan sahabat. Tak usah takut menikah tanpa acara adat kalau memang itu merugikan,” ujarnya.

Katanya lagi, kalau dipaksakan mengeluarkan dana yang banyak untuk acara sebuah adat di gedung, “Rasanya kurang bijak. Menurut saya, lebih baik dananya itu dipakai pengantin untuk membiayai keperluan rumah tangganya atau membantu korban-korban bencana alam. Atau bisa juga membantu pembangunan sekolah atau pembangunan gedung tempat ibadah. Itu kan sangat bermanfaat. Memang saya dengar, kalau belum mengikuti adat setelah diberkati di gereja, derajat dari pengantin itu jadi rendah. Bukan begitu. Kan pernikahan di depan Tuhan dan jemaatnya sudah dilakukan, itu yang terpenting,” ucapnya.

Pdt. Freddy  menuturkan, orang yang menikah tanpa prosesi adat tak perlu kecil hati. “Mengadakan acara di gereja, lalu ada resepsi secara sederhana, kemudian ada pembuatan catatan pernikahan ke negara (catatan sipil) sebetulnya sudah cukup. Jadi kita harus melihat keadaan bangsa kita juga. Dalam setiap acara apapun, nama Tuhan yang mesti dimuliakan. Lebih baik yang miskin atau yang tidak makan kita bantu daripada membuang uang hanya untuk menunjukkan derajat keluarga agar makin terhormat,” ujarnya.

Sedangkan tokoh adat Batak yang juga Pemimpin Umum tabloid Dalihan Na Tolu, Drs. Tonny Rons Hasibuan, M.M. menerangkan, ia menerbitkan tabloid Batak tujuan utamanya adalah untuk melestarikan adat dan budaya Batak agar jangan punah diterjang oleh zaman. Sehingga, kata dosen luar biasa di Universitas Trisakti Jakarta ini, generasi muda Batak (Kristen) harus ikut melestarikan adat dan budaya Batak itu. “Termasuk memelihara adat Batak yyang berhubungan dengan pernikahan,” ujar anggota jemaat Gereja HKBP yang juga Sekjen Marga Hasibuan se-Indonesia ini. NS 

Berita Terkait