Menjadi Bintang Cara Holistik

* Oleh: Drs. Sigit Triyono, M.M. 366 dibaca


Beritanarwastu.com. Menjadi bintang keluarga, bintang kelas, bintang dalam pergaulan, dan bintang bagi bangsa adalah cita-cita banyak orang. Dalam dunia usaha menjadi bintang adalah dampak dari suksesnya sebuah usaha. Sukses dalam arti mampu bertumbuh, bertahan dalam krisis, menang dalam persaingan dan terus berkelanjutan sampai berganti generasi.
Dari dua dimensi: risiko dan perhitungan, kita dapat membangun sebuah matriks yang holistik, utuh dan terintegrasi seperti gambar beikut.
Kuadran pertama: yang dapat disebut bintang adalah pihak yang berani mengambil risiko dengan perhitungan-perhitungan yang matang. Perhitungan yang matang adalah hasil analisis terhadap seberapa investasi yang dibutuhkan dan seberapa manfaat yang akan didapat. Juga perhitungan tentang aspek-aspek eksternal yang melahirkan seberapa banyak peluang dibandingkan dengan ancaman dan seberapa banyak pesaing yang bermain di pasar yang sama. Perhitungan-perhitungan yang perlu dilakukan adalah juga aspek internal diri dan organisasi. Kita perlu melakukan audit berbagai aspek internal kita mulai dari asset tangible sampa ia set intangible yang kita miliki.  Juga segala macam potensi yang kita miliki yang diharapkan dapat dikembangkan. Dengan segala perhitungan ini akan muncul segala risiko yang sudah diperhitungkan. Risiko adalah potensi hal buruk yang dapat terjadi di depan kita. Kata kunci keberanian harus digarisbawahi. Sekecil apapun risiko kalau tidak ada keberanian, tidak akan dapat melangkah ke depan.
Kuadran kedua: bila kita penuh perhitungan namun tidak berani ambil risiko, kita ada di zona aman. Kita banyak diam dan sibuk berhitung-hitung segala macam aspek eksternal, internal, persaingan dan segala aset yang kita miliki. Langkah yang kita lakukan seperti sebelas orang dalam permainan sepak bola yang tidak berani meninggalkan gawangnya. Dia hanya diam menunggu gawang dan mencoba berupaya agar gawang tidak kebobolan lawan. Sekuat apapun dalam berjaga,  bila tidak ada langkah menyerang niscaya gawang kita akan kebobolan. Risiko adalah bagian dari hidup.Tanpa risiko hidup tidak akan banyak warna.
Kuadran ketiga: kotak penjudi, di mana semangat mengambil risiko tinggi namun tidak dibarengi dengan perhitungan yang matang. Metode yang dijalaninya selalu spekulatif. Semua serba mistis dan mengandalkan kebetulan serta keberuntungan. Ini akan membawa kita kepada kecenderungan fatalistik. Di mana tanpa usaha apa-apa namun berharap bisa sukses. Aspek mistis, kebetulan dan keberuntungan sebagai faktor yang mempengaruhi kesuksesan seseorang atau organisasi, selalu ada di dunia ini, namun itu selalu bagian dari usaha keras dengan berbagai perhitungan-perhitungan akal budi. Pada tahun 80-an ada suatu penelitian yang dilakukan terhadap masyarakat di lereng gunung Merapi, Jawa Tengah. Di kala hasil panen tidak menggembirakan dan banyak orang mulai putus asa, mereka melalukan perjudian dengan sabung ayam. Mereka berharap bisa menang dan mengalami lompatan ekonomi. Uang yang mereka miliki dipertaruhkan tanpa melakukan perhitungan matang. Tahun berganti tahun, para penjudi tetap miskin dan tidak ada lompatan ekonomi hasil dari judi sabung ayam.
Kuadran keempat: jenis pemalas. Orang atau organisasi jenis ini tidak melakukan perhitungan dan tidak mengambil risiko. Jenis orang atau organisasi ini jelas tidak sesuai dengan segala macam hukum alam. “Siapa menabur dia akan menuai”. Kalau tidak pernah menabur dari mana dia bisa menuai? “Hendaknya yang tidak bekerja tidak usah makan”. Di mana rasa keadilan bila hanya diam-diam tapi mengambil hak pihak lain (makan)? Sebenarnya tipe pemalas murni nyaris tidak ada di dunia ini. Karena pemalas bukan tidak memiliki risiko. Justru sangat besar risikonya bagi keberlangsungan hidupnya.
Dari empat kuadran di atas jelas pilihan menjadi bintang yang paling ideal. Namun dalam keseharian kondisi yang kita hadapi tidak selalu ideal sehingga terkadang kita jatuh dalam kuadran-kuadran yang lain. Matriks ini mengingatkan kepada kita untuk selalu waspada dan berupaya sebisa mungkin terhindar dari kuadran lain di luar kuadran bintang. Banyak membaca, bergaul, berdiskusi, selalu mencoba mempraktikkan agenda-agenda yang sudah diputuskan, akan membantu kita selalu berada dalam kuadran bintang. Selamat mencoba. Salam sukses Holistik.
*  Penulis  adalah Founder dan Managing Director  PT. Sukses Holistik Indonesia Strategic Consulting, Training & Research. 

Berita Terkait