Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa
Menjadi Motivator dan Inspirator Bagi Sesama

569 dibaca
Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa. Tak pernah lelah jadi motivator.

           BERITANARWASTU.COM. Talenta yang dimiliki setiap manusia sejatinya berasal dari Sang Penulis Hidup. Di dalam berkehidupan sosial apalagi sebagai pribadi yang mengenal kasih Allah, maka sudah sepatutnya kita menjadi duta Kristus. Demikianlah yang dilakukan oleh Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa  sebagai Ketua Departemen Wanita Gereja Kibaid  (2012-2017) yang terus mendengungkan kaumnya agar mempunyai integritas Kristiani agar dapat diteladani dan menjadi inspirator bagi sesama.

           Saban hari ia akrab dengan berbagai kesibukan, bukanlah hal yang asing bagi istri dari Litha Brent, S.E. Menjadi perempuan yang aktif telah tumbuh sejak ia masih remaja. Hal itu terbukti sejak duduk di bangku SMA, ia telah menjadi guru sekolah minggu. Maka jangan heran jika di tahun 1983 aneka profesi telah dijalaninya. Sebut saja selain dirinya harus mengurus rumah tangga dan anak-anaknya, perempuan berdarah Toraja ini juga berprofesi sebagai dokter gigi sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (1985-2015), Makassar. Juga sebagai penatua di Gereja Kerapatan Injil Bangsa Indonesia (Kibaid) dan Direktur  di PT. Gunung Merapi, Wakil Direktur PT. Ben Nibion,  serta Tim Penyelia di Litha Group yang membidangi transportasi di Sulawesi Selatan. 

Eksistensi diri melalui ilmu dan talenta yang dimilikinya tak berhenti hanya sebatas dalam dunia akademisi. Sebagai perempuan cerdas dan selalu ingin belajar sesuatu, ia pun belajar ilmu teologia di STT Jaffray Makassar pada tahun 1983-1985. Perempuan kelahiran Makale, 8 Februari 1954 itu dipercaya sebagai Ketua Departemen Remaja dan Sekolah Minggu (Resmi) Gereja Kerapatan Injili Bangsa Indonesia (Kibaid) pada 2002-2004, ia membuat kurikulum sekolah minggu 2-4 tahun, 5-6 tahun, 7-9 tahun, dan 10-12 tahun. Menurutnya, setelah anak lebih 10 tahun mereka baru mengerti tentang personafikasi (Bagaimana Tuhan bisa satu tetapi tiga).   

Pada usia pra-remaja, katanya, baru anak-anak akan mengerti tentang “Tri Tunggal  (Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus). Kalau kita berkoar-koar menceritakan tentang Tri Tunggal pada anak-anak di bawah usia 10 tahun mereka belum mengerti.  Ia membuat buku panduan khusus untuk remaja yang berjudul “Mutiara Remaja”  yang mendalami dasar-dasar iman Kristen dan pemahaman bahwa anak remaja harus menyadari manusia  tidak dapat menyelamatkan diri sendiri agar mereka akan bertobat dan memberi diri dibaptis.

 Perhatiannya untuk melayani di ladang Tuhan terus membara. Dan ibu empat anak ini pun menjadi Ketua Departemen Wanita Gereja Kibaid (2012-2017).  Dan ia hadir dengan berbagai inovasinya untuk kemajuan PKW Gereja Kibaid. Selain menyumbangkan inspirasinya dalam penciptaan lagu hymne dan mars, khusus untuk departemen yang dipimpinnya, ia juga memprakarsai penerbitan Majalah Suara Perempuan (Super). Majalah yang terbit setahun tiga kali dalam momen, seperti Natal, Paskah dan Hari Kemerdekaan RI itu. Dan merupakan majalah yang berisikan beragam informasi, seperti ada rubrik kesehatan, psikologi, pendidikan anak, rumah tangga dan kesaksian-kesaksian hidup. 

Bagi Niniek, majalah tersebut diterbitkan di samping sebagai penggenapan Firman Tuhan yang harus diberitakan sampai ke ujung dunia, juga melalui majalah itu setiap orang bisa mendapatkan wawasan dan pengetahuan terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil. Misalnya, untuk pasangan yang baru menikah dan harus diberikan pendidikan tentang kehamilan mendidik anak tumbuh kembang anak,  bahkan sampai resep membuat masakan. Jadi melalui Majalah Super tersebut kesaksian-kesaksian  tentang Firman Tuhan dapat dibaca di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

               Niniek yang sangat aktif memang tak pernah lelah untuk menjadi seorang motivator. Ia pun memiliki talenta mengajar, menasihati, menulis, berkhotbah bahkan menjadi pendoa yang setia. Oleh sebab itu, perempuan yang memiliki keterampilan menjahit,  memasak, dan merangkai bunga ini  tak pernah menolak melakukan mengupayakan semaksimal mungkin kalau diundang untuk menjadi pembicara seminar di berbagai daerah serta berbagai denominasi gereja-gereja yang membutuhkannya.  Baginya, berkontribusi melalui tatap muka atau tulisan, dinilai sebagai sesuatu yang menyenangkan tanpa mengharapkan imbalan. Sebab, itu semua anugerah Tuhan. Untuk itu, katanya, kita harus ikhlas berbagi sebagai wujud pelayanan.

 Salah satu buktinya melalui penyelenggaraan Pertemuan Nasional PKW Gereja Kibaid yang bertemakan “Perempuan Berintegritas Kristiani yang Bersaksi.“  Melalui seminar yang diadakan oleh Persekutuan Kaum Wanita (PKW) pada Juni 2016 lalu di Sentul, Bogor, itu Niniek selain sebagai Ketua Departemen Wanita menjadi pembicara, ia pun sangat berharap bahwa momen tersebut dapat memberikan bimbingan, pembekalan dan motivasi diri untuk para peserta yang hadir.

“Semua itu dilakukan guna meningkatkan diri dan mengembangkan peranan perempuan yang terlibat aktif dalam setiap pelayanan. Juga memberikan wawasan baru dan pengembangan diri para perempuan. Bukan saja untuk kebutuhan keluarga semata, melainkan keterlibatan perempuan sebagai salah satu tombak gereja dalam pelayanan,” tukasnya menutup percakapannya dengan Majalah NARWASTU. 

Berita Terkait