Menteri Sosial RI Ajak PIKI Tingkatkan Posisi Tawar di Tengah Masyarakat

66 dibaca
Menteri Sosial RI, Juliari P. Batubara.

       Beritanarwastu.com Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) yang dipimpin Bhaktinendra Prawiro, M.Sc dan Dr. Audy Wuisang mengadakan acara "Refleksi Awal Tahun 2020" di Ruang Legian Grand Melia Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat, 31 Januari 2020 lalu. Refleksi awal tahun yang dibuka dengan ibadah ucapan syukur itu, lalu dibuka dengan kilas balik pelbagai kegiatan dari tahun sebelumnya yang dilakukan PIKI, yang disampaikan secara gamblang oleh Ketua Umum DPP PIKI, Baktinendra Prawiro.

Dalam paparan singkatnya, putra begawan ekonomi Dr. Radius Prawiro (alm.) itu menuturkan, bahwa keberadaan PIKI berguna sebagai wadah kaum terdidik serta keberadaannya guna memberikan solusi dan membangun jejaring kepada semua pihak.  "PIKI adalah kelompok intelektual Kristen, bukan dilihat dalam arti tingkat pendidikan, melainkan kalangan terdidik yang mau tahu dan peduli terhadap perkembangan masyarakat dan negara Indonesia guna memberikan solusi," kata mantan Ketua MPO GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia) itu semangat. 

       Lebih lanjut ia juga menyinggung tentang SKB 2 mMenteri bilamana dipertahankan maka akan menjauhkan cita-cita didirikannya republik ini. "Peraturan yang berbau diskriminatif seperti ini tidak boleh ada dalam demokrasi," ujarnya. Dalam Forum Group Discussion (FGD) refleksi awal tahun PIKI kali ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama mengenai "Kesiapan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045." Sedangkan sesi kedua, tentang "Kesiapan Produk Hukum Indonesia menuju Indonesia Emas." 

      Untuk sesi pertama, pembicara utama adalah DR. (HC.) Willy Toisuta, Ph.D dengan penanggap Dr. Badikenita Putri Sitepu dan Dr. Pos Hutabarat. Dalam menyampaikan materi Willy Toisuta mengemukakan tentang bonus demografi Indonesia 2045 dan tantangan era revolusi industri 4.0. Keterancaman intelektual dan PIKI harus concern dengan ini di zaman 4.0 apalagi sekarang ada beberapa negara yang telah masuk 5.0. "Nah, bagaimana kita persiapkan generasi sekarang dengan fokus pada pendidikan. Tapi, apakah ini bisa mempersiapkan generasi dalam era baru yang sangat teknologikal,"kata Willy.

      Seperti kita ketahui bersama, saat ini semua pendidikan berbasis teknologi.  Dan tidak bisa dipungkiri teknologi pendidikan begitu pesat berkembang sehingga pendidikan kontemporer akan tergusur cepat atau lambat. "Pendidikan zaman sekarang harus punya dasar bukan cuma penguasaan, tapi pengembangan kapasitas untuk bisa berubah dan menyesuaikan dinamika yang ada," ujar Willy. 

      Di akhir pemaparannya Willy mengatakan, proses pembinaan dan pendidikan agar keputusan itu sesuai dengan apa kata hatinya. Sebagai penanggap, Dr. Badikenita Putri Sitepu menjelaskan tentang realitas yang ada bahwa bonus demografi bisa menjadi unggulan tapi bisa pula jadi pengangguran massal. Ia menambahkan tentang diskualitas seandainya negara hadir dalam penguatan ekonomi daerah sehingga jika bicara tentang industri 4.0 terutama untuk sumber daya manusia masih susah. "Di beberapa daerah masih beberapa persen karena internet masih bisa dihitung dengan jari. Maka di tahun-tahun mendatang kita akan sibuk dengan SDM unggul atau tidak," ungkapnya. 

       Sedangkan Dr. Pos Hutabarat  mengatakan, penduduk yang pesat tapi intelektual yang tidak pesat (tingkat pendidikan masih lemah) walaupun APBN sudah 20 persen untuk pendidikan tapi semua bukan cuma di situ. Lebih lanjut ia juga menilai, peranan pemerintah untuk teknologi masih rendah. "Contoh start-up yang ada minim dukungan pemerintah tapi mereka berkembang sendiri. Harusnya di sini pemerintah memberi kesempatan untuk mengembangkan teknologi," jelas Pos. 

Sebelum menyudahi Pos berharap agar PIKI dapat mendorong intelektual Kristen untuk teknologi agar bisa bersaing secara normal." Peranan teknologi memang harus diikuti tapi jangan bertentangan dengan kehendak Tuhan," ucap Pos mengingatkan. Sebelum memasuki sesi kedua, Menteri Sosial RI, Juliari Peter Batubara yang didapuk untuk memberikan testimoni mengatakan, PIKI sebagai organisasi yang memiliki pengalaman dan memiliki kecerdasan serta spiritual yang tinggi tentu tidak melakukan manuver-manuver karena itu urusan Tuhan. "Saya mengajak PIKI bersinergi dengan Kementerian Sosial untuk meningkatkan posisi tawar PIKI di tengah-tengah masyarakat," ujar Juliari di hadapan para tokoh PIKI. 

       Tidak berselang lama sesi kedua dilanjutkan dengan menghadirkan Dr. Daniel Yusmic, S.H., M.H. (Hakim Mahkamah Konstitusi RI), Aldentua Siringoringo, S.H., M.H. (Penasihat GAMKI dan cendekiawan Kristen) dengan penanggap Dr. Theofransus Litaay dan Dr. Bernard Nainggolan. BTY

Berita Terkait