Menuju Disiplin Rohani dan Menghadap Hadirat Allah

622 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Berdoa bukanlah sekadar berbicara kepada Allah. Berdoa mencakup mendengar, melihat, dan membiarkan diri untuk diubah. Itulah yang ditulis di buku berjudul Menghadap Hadirat Allah, dan sub judul Panduan Menuju Disiplin Rohani yang ditulis Wendy Miller dan diterbitkan PT. BPK Gunung Mulia ini. Dalam buku setebal 139 halaman ini ditulis, membuka perhatian kita kepada Allah dan menempati diri kita dalam alam anugerah Allah merupakan panggilan seumur hidup.

Buku ini menyajikan undangan dan panduan untuk menempuh perjalanan doa. Dengan Alkitab sebagai jembatan dan pemahaman Yesus terhadap pelayanan sebagai kerangkanya, Wendy Miller memberikan pendekatan yang segar terhadap dunia disiplin rohani yang sangat akrab. Buku ini juga merupakan kombinasi antara refleksi Alkitab yang sangat menarik, anekdot-anekdot kontemporer, dan latihan-latihan sederhana. Anda akan dipandu menuju gaya hidup yang memadaukan esensi berbagai sejarah disiplin rohani.

Sekadar tahu, Wendy Miller merupakan pendiri dari School for Spiritual Formation pada Virginia Mennonite Conference. Ia memperoleh gelar Bachelor of Arts dari Lowa Wesleyan College dan Master of Arts dalam kepemimpinan gereja dari Eastern Mennonite Seminary. Kini ia merupakan seorang profesor Emeritus. Selain menulis berbagai artikel dan buku, ia melayani sebagai pemimpin retreat dan pembimbing rohani.

Ditulis di buku ini, ketika berdoa, kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus yang membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus (Roma 8:26-27).

Roh Yesus berdiam di dalam kita, bergerak di segenap relung hati kita, melihat apa yang menjerat kita, menelan kita, mengetahui pengalaman kita akan kesakitan, ketakutan, keterasingan, kedukaan, kemarahan, dan kehilangan hadirat Allah. Di tengah-tengah pengalaman itu, Roh itu mulai menolong kita dengan cara mengembus keluar rasa sakit kita. Dapat menerjemahkan embusan Roh itu bagi diri kita. Pada saat kita berseru kepada Allah di tengah-tengah masalah kita, itu semua karena Roh yang hidup di dalam kita mendorong kita untuk berseru, bahkan apabila yang kita bisa doakan hanyalah sebuah keluhan.

Dalam tulisan di halaman 36-37 menarik disimak uraian tentang “Menghadap HadiratNya.” Kita bisa menemukan bahwa dorongan yang kuat dan tiba-tiba dari berbagai persoalan tertentu membuat kita mendoakan pengalaman kita tanpa berpikir untuk mempersiapkan apa pun. Kita tidak tenang, terbuka, siap untuk mendengarkan. Akan tetapi, kita berteriak meminta pertolongan Allah seperti seorang anak kecil yang menangis di hadapan orangtuanya, karena rasa takut dan terancam.

Ditulis lagi, pada waktu yang berbeda, ketika kita menghampiri tempat berdoa dan memberi perhatian kepada Allah, kita siap untuk memperhatikan waktu-waktu kecemasan kita pada hari itu (atau mungkin pada hari-hari lain) dan untuk memulai mengeluarkan berbagai beban berat dalam hati kita di hadirat Allah.

Ada lagi ditulis di buku ini, Anda akan mendapati bahwa Kitab Mazmur mengungkapkan berbagai perasaan Anda, pengalaman-pengalaman Anda. Jika demikian, berdoalah dengan menggunakan mazmur-mazmur itu, berdiam di dalam kata-kata dan frasa-frasanya yang menggambarkan rasa sakit Anda, pengalaman Anda. Jangan merasa kalau Anda perlu menggunakan seluruh mazmur sebagai doa.

Pilihlah satu atau lebih mazmur-mazmur di bawah ini (atau mazmur lain yang dapat Anda pilih sendiri) untuk dipanjatkan: Ya, Tuhan betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku, banyak orang yang berkata tentang aku, “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.” Sela (Diamlah sejenak dan renungkan apa yang baru saja Anda katakan). Tetapi Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku  dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela (Mazmur 3:2-5). Menyimak buku ini kita akan semakin memahami makna hadirat Allah. Jadi buku ini menarik dibaca. KT

Berita Terkait