Menyikapi Akar Pahit (Sakit Hati) Menurut Ajaran Alkitab

• Oleh: Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, M.Th 5882 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Ibrani 12:15, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” Orang yang menjadi tempat berlabuh kemarahan sering tidak menyadari bahwa itu akan meracuni kehidupannya sendiri dengan rasa marah. Kalau kita ingin menjalani kehidupan terbaik kita saat ini, kita harus dengan cepat memaafkan. 
Belajar untuk membiarkan luka-luka kepahitan dan penderitaan masa lalu berlalu. Jangan membiarkan kepahitan mengakar dalam diri kita dan hidup kita. Mungkin sesuatu terjadi pada kita saat kita kecil, seseorang salah memperlakukan kita, seseorang mengambil keuntungan dari kita. Mungkin seseorang menipu kita atau mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang kita. Mungkin seorang teman dekat berkhianat terhadap kita dan kita memiliki banyak alasan untuk menjadi marah dan merasa getir dan pahit.
Tetapi demi kesehatan emosional dan spiritual kita, kita harus membiarkan semua itu berlalu. Karena semua itu tidak membawa kebaikan bagi kita untuk membenci seseorang yang telah melakukan kesalahan kepada kita. Juga tak masuk akal untuk terus menerus memendam kemarahan terhadap apa yang dilakukan orang pada kita di masa lalu. Karena kita tak mungkin dapat mengubah sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi kita dapat melakukan sesuatu untuk masa depan kita. Kita dapat memaafkan dan mulai mempercayai Tuhan untuk melakukan yang terbaik bagi kita. 
Seperti dikatakan dalam bacaan di atas. Perhatikan bahwa kepahitan dijelaskan sebagai suatu akar. Pikirkan hal ini. Akar tidak bisa dilihat karena berada jauh di dalam tanah. Tetapi Anda dapat merasakan dan melihatnya dari buah yang dihasilkannya. Akar yang pahit menghasilkan buah yang pahit juga. Karena itu kalau dalam diri kita mengalami kepahitan, maka kepahitan ini akan mempengaruhi seluruh bidang kehidupan kita. 
Banyak orang mencoba mengubur, atau menyembunyikan kepahitan atau luka-luka mereka dalam-dalam di hatinya atau di alam bawah sadar mereka. Mereka menjadi tempat pelabuhan atau persinggahan perasaan tak memaafkan dan kemarahan mereka, kemudian mereka bertanya mengapa mereka tak dapat hidup dalam kemenangan, mengapa mereka tidak dapat bergaul dengan orang lain, mengapa mereka tidak dapat menjadi bahagia. Mereka tidak menyadari hal ini, karena hati mereka telah diracuni oleh kepahitan dan kemarahan mereka. 
Alkitab mengatakan Matius 15:19-20, “Karena dari hati hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.” Dengan kata lain, kalau kita memiliki kepahitan dalam diri kita, itu akan berakhir dengan kontaminasi atau polusi segala sesuatu yang keluar dari kita. Itu akan mengkontaminasi pribadi kita dan sikap kita, serta bagaimana kita memperlakukan orang lain .
Banyak orang mencoba memperbaiki diri mereka atau kehidupna mereka dengan cara memperbaiki bagian luar mereka. Mereka mencoba mengurangi perilaku buruk mereka, perangai buruk mereka, atau persona atau citra mereka yang negatif. Mereka berhubungan dengan buah-buah dari kehidupan mereka, mencoba mengubah sesuatu yang bersifat mendatangkan daya tarik. Tetapi kebenarannya sebenarnya tidak mereka selesaikan, yaitu berhubungan dengan akar kepahitan hidup mereka. 
Kalau mereka tak mampu membiarkan akar kepahitan itu berlalu, maka mereka tak akan dapat mengubah buah-buah kehidupan mereka. Karena selama akar kepahitan masih bertumbuh dalam diri mereka, maka masalah mereka akan tetap ada dan akan terus tertampil keluar dari waktu ke waktu. Hampir dapat dipastikan bahwa semua orang pernah mengalami sakit hati. Bahkan, beberapa orang sedang tersiksa saat ini karena telah disakiti hatinya. 
Sakit hati sebenarnya adalah sebuah reaksi yang normal bila seseorang dikecewakan atau mendapat perlakuan yang tidak baik. Namun bila tidak mendapatkan penanganan yang benar, sakit hati ini dapat berubah menjadi luka yang sangat kronis, menjadi akar pahit yang sangat merusak batin dan jiwa seseorang, bahkan orang yang sangat kita kasihi.
 
 

Pemahaman Arti Kata Akar Pahit
Sebuah kata dalam bahasa Yunani yang menjelaskan hal ini adalah kata “pikria” yang berasal dari akar kata “pik” artinya: Runcing atau tajam. Ini mengacu pada sesuatu yang memotong dan tajam. Dalam Kamus Alkitab Yunani-Indonesia karangan Barclay M. Newman Jr, kata akar pahit ini mengacu pada beberapa pengertian seperti: Menjadi pahit, bertingkah laku keras, iri hati, dengki dan sakit hati.  “Akar pahit” ini sebagai empedu pahit, kepahitan karena rasa tidak puas; “serapah” sebagai akibat dari kebencian di dalam hati.
Dari beberapa penjelasanan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akar pahit adalah sesuatu yang tajam/runcing (iri hati, sakit hati, dengki bahkan kebencian dan tingkah laku keras) yang dapat melukai dan atau merusak orang itu sendiri dan orang lain; teristimewa mereka yang berhubungan dekat dengan orang tersebut. Akar pahit tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi sesuatu yang membangun. Ia selalu bersifat merusak/mencemarkan.bersambung.

Kepahitan bisa menimbulkan banyak masalah , bukan saja kepada pribadi yang mengalaminya tetapi juga bisa berdampak pada banyak orang lain. Sebuah akar pahit dalam diri kita pun demikian. Jika kita terus biarkan, akar itu akan terus tumbuh semakin dalam dan luas menusuk hati kita, sehingga pada suatu ketika akhirnya menjadi sangat sulit untuk dicabut. Tidak jarang orang harus menempuh waktu konseling yang cukup panjang disertai pelepasan agar bisa terlepas dari kepahitan ini "pemulihan hati."
Lihatlah kepahitan mampu membuat orang kehilangan pegangan atau harapan dan bisa mengarah kepada sikap sinis, bahkan kasar terhadap Tuhan. "Janganlah sebutkan aku Naomi, sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena Tuhan telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku" (Rut 1:21-22). 
Biasanya faktor yang menyebabkan seseorang bisa menyimpan rasa kecewa di dalam hatinya, dikarenakan adanya ketidakadilan perilaku yang ia terima semasa hidupnya. Misalnya saja,  seorang anak yang selalu saja dimarahi oleh kedua orang tuanya, karena apa yang dilakukannya selalu salah di mata orang tuanya atau  orang tua yang pilih kasih terhadap anak-anaknya. Sangat berbahaya jika seseorang sudah  menyimpan rasa kekecewaan itu dalam waktu yang cukup lama tanpa adanya solusi/jalan keluar atas masalahnya. Orang itu bisa merasakan apa itu yang disebut dengan tawar hati atau kepahitan.
Kepahitan adalah proses matinya hati nurani seseorang, atas rasa belas kasihan dan juga ketidakpedulian kepada dirinya sendiri, orang lain/lingkungan sekitarnya. Kenapa kepahitan hati itu, bisa dibilang  sebagai proses. Karena sesungguhnya setiap kepahitan hati itu terjadi  bukan karena sebuah kekecewaan yang dialaminya saja.  Justru kepahitan hati terjadi karena kekecewaan yang terjadi secara berulang-ulang (berakumulasi) yang ia alami semasa hidupnya dulu. Coba banyangkan, jika kita menderita suatu penyakit  tertentu. 
Dan untuk mengobati penyakit itu kita harus rutin meminum obat  pahit yang telah dokter anjurkan secara rutin dan juga berkala. Apa yang akan kita rasakan? Mungkin awalnya obat pahit itu terasa pahit sekali untuk kita, karena kita baru pertama kali memakannya. Namun setelah kita mengkonsumsi obat itu dalam jangka waktu yang sudah cukup lama rasa pahit itu berlahan-lahan akan berubah menjadi rasa tawar di mulut kita, karena kita sudah terbiasa merasakannya sehingga lidah kita menjadi tawar untuk menggambarkan rasa pahit itu. 
Bukankah hal itu sama dengan setiap kekecewaan  yang kita semua alami. Awalnya kita merasa kekecewaan itu biasa saja seperti angin lalu. Kita masih bisa tersenyum dan tertawa untuk menutupinya. Namun jika kekecewaan itu berlangsung secara terus-menerus, itu akan membuat hati kita menjadi kapalan/tidak peduli atau yang lebih tepatnya dibilang mati rasa.
Yang bahaya adalah saat orang itu sudah mati rasa (tawar hati/kepahitan) orang itu akan lebih cenderung menutupi dirinya dari orang lain (minder). Bahkan yang bahayanya  lagi orang tersebut bisa merasa bahwa hidupnya sudah tidak berharga lagi. 

Penulis adalah mantan Rektor STT Jaffray, Jakarta, kini Direktur Pascasarjana dan Program Doktoral STT Sunsugos, Jakarta. Serta penulis buku “Psikologi Kepemimpinan” dan “Revolusi Mental.”

Berita Terkait