Menyikapi Penyerangan Gereja di DI Yogyakarta Mari Berdoa Terus untuk Bangsa dan Negara ini

539 dibaca
Ir. Soleman Matippanna, S.T. (kiri) dan Ketua Yayasan YKMI Pdt. Osil Totongan, S.Th, M.Min (kanan).

Beritanarwastu.com. Menyikapi penyerangan warga jemaat di Gereja Katolik Lidwina Bedog di Sleman, DI Yogyakarta, pada 11 Februari 2018 lalu, salah seorang tokoh muda Kristiani yang juga Ketua DPD MUKI (Majelis Umat Kristen Indonesia) Bogor Raya, Ir. Soleman Matippanna, S.T. menyampaikan pendapatnya yang menarik disimak di akun Face Book-nya baru-baru ini. Pengusaha muda, Pembina YKMI (Yayasan Karmel Ministry Indonesia) yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan Majalah NARWASTU” ini menyampaikan pendapatnya. Pertama, umat Kristiani. Melihat bahwa ini serangan yang dilakukan oleh beberapa orang atau oknum dengan menggunakan SAJAM (senjata tajam), tetap harus bersyukur bila dibandingkan serangan BOM yang mungkin saja bisa lebih banyak memakan korban.

           Dan bahkan bila itu serangan bom sekalipun, maka umat kristiani tetap harus bersyukur, bukankah umat Kristen diajarkan untuk “bersyukur dalam segala hal?” Oleh sebab itu, kejadian ini biarlah tetap membuat umat Kristen tenang, dan tidak terprovokasi untuk melakukan hal yang bersifat negatif. Bahkan perlu mendoakan setiap dari pelaku, sehingga tersadar dan kembali ke jalan yang benar, kembali berbuat kebenaran dalam kehidupannya.

           Kedua, tindakan hukum. Mari bersama-sama, segenap elemen bangsa, mendorong pihak kepolisian setempat untuk mengusut kejadian ini dan memberikan sanksi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku kepada para pelaku, tanpa adanya unsur kepentingan golongan, atau politik atau apapun namanya. Karena negara kita negara hukum yang harus menjunjung penegakan hukum secara konsisten.

           Ketiga, radikalisme. Bila kejadian ini merupakan tindakan terorganisasi, ada unsur terorisme (bisa saja), yang ingin merusak persatuan bangsa, maka pemerintah harus lebih memaksimalkan intelegensi dari pihak intelegen kita. Mungkin saja selama ini yang diamati secara seksama kegiatan terorisme yang menggunakan bom, aktivitas perakitan, pembelian material, dan lain-lain, tetapi sekarang telah bergerak dalam bentuk kegiatan kelompok per kelompok yang menggunakan SAJAM, atau nantinya senjata rakitan dll, yang ujung-ujungnya tetap memberikan rasa teror kepada kita semua.

          Keempat, keamanan lingkungan. Kesadaran terhadap keamanan lingkungan terus perlu digalakkan oleh pihak gereja manapun, kerja sama dengan kepolisian, TNI setempat, POKDAR, dll. Bahkan, pengamanan swadaya harus terus diterapkan oleh gereja secara berkesinambungan, dengan adanya satpam, atau keamanan gereja dalam bentuk lainnya. Gereja tidak hanya menjadi sadar pasca kejadian, tapi harus terus menerus. Merogoh kantong sedikit untuk keamanan gereja tidaklah seberapa dibanding akibat bila terjadi hal yang sama di gereja manapun. Kejadian seperti ini bisa diibaratkan “singa yang mengaum yang mengintai kapan bisa untuk menyerang.

          Kelima, mendoakan bangsa dan negara. Terakhir, mari kita semua anak bangsa, terus mendoakan bangsa dan negara kita supaya selalu terhindar dari perpecahan. Bahkan kedamaian bisa senantiasa tercipta di negara tercinta Indonesia ini. Rapatkan barisan doa, kiranya Tuhan senantiasa mengasihi bangsa Indonesia. Jayalah Indonesia. KL

Berita Terkait