Menyoroti Keadilan Bagi Pejuang HAM Almarhum Munir

429 dibaca
Diskusi publik “Munir, Demokrasi, dan Perlindungan Pembela HAM” di Gedung Yustinus Atma Jaya Jakarta, pada Jumat, 5 September 2017 lalu.

BERITANARWASTU.COM. Tiga belas tahun sang pejuang HAM, Munir Said Thalib, S.H. telah tiada. Namun, perihal kematian dan siapa sosok di balik skenario tewasnya aktivis Kontras tersebut sampai kini masih menjadi misteri. Barangkali Munir adalah satu dari sekian banyak pejuang HAM di negeri ini yang tewas tanpa jejak yang jelas. Ironisnya lagi, dokumen dari tim pencari fakta pun kabarnya hilang tak berbekas. Akankah keadilan masih ada di republik ini? Pembahasan tersebut dikupas dalam diskusi publik “Munir, Demokrasi, dan Perlindungan Pembela HAM” di Gedung Yustinus Atma Jaya Jakarta, pada Jumat, 5 September 2017 lalu.
Hadir narasumber dalam diskusi publik itu, Prof. Dr. Mochtar Pabotingi (Peneliti senior LIPI), Suciwati (Istri almarhum Munir), Yati Andriyani (Koordinator Kontras), Usman Hamid (Mantan anggota TPF KMM) dan Dr. Daniel Yusmic P. FoEkh. S.H., M.H., (Pakar hukum dari Unika Atma Jaya). Mantan Jaksa Agung RI, Marsillam Simanjuntak, S.H. yang didapuk sebagai keynote speaker menyoroti kepentingan kekuasaan dan gagalnya perlindungan pembela HAM. Dalam pandangan pria berdarah Tapanuli itu, semua pihak punya kepentingan untuk menegakkan hak asasi manusia (HAM) untuk saling menghormati. 
Menurut pejuang prodemokrasi itu, yang patut diharapkan dan pertama-tama untuk menjaganya ada di tangan negara. Ketika ada pelanggaran, masyarakat meminta agar pihak yang berwenang bertindak. "Namun, seringkali protes pelanggaran HAM ditanggapi sebagai pengganggu sebagai stabilitas, pengkhianat dan tindakan penanggulangan pun  melanggar HAM," kata Marsillam Simanjuntak.
 
 
  
 
Mantan Jaksa Agung RI, Marsillam Simanjuntak, S.H. didapuk sebagai keynote speaker menyoroti gagalnya perlindungan terhadap pembela HAM.
 
Masih menurutnya, hak asasi manusia dalam konstitusi akibat kepentingan kekuasaan. Dan itu umumnya pada pola menegakkan keamanan dan ketertiban negara. Sedangkan untuk pembelaan para korban tidak ada. Dan kalaupun ada bukan dari Negara, tapi solidaritas masyarakat sipil. Dan rangkaian sebab akibat dalam hak asasi sebuah lingkaran setan yang tidak jelas.
Pendapat serupa juga diutarakan oleh Usman Hamid sebagai anggota TPF KMM. Aktivis yang sangat mengagumi sosok Munir tersebut menyatakan, hukum selalu ada muatan politis. Kemudian ia menyebutkan contoh kasus Marsinah.  "Uji balistik tidak ada ujungnya. Hukum selalu mengandalkan sistem politik, dan hukum tidak bekerja untuk keadilan," tukasnya. Di ujung pendapatnya, ia mengajak semua lapisan masyarakat untuk belajar dari kasus Munir, Marsinah dan Udin yang tidak bisa dilihat sebagai hukum biasa, akan tetapi dilihat tujuan dari hukum itu.
Bagi Koordinator Kontras, Yati Andriyani, ia pun merasa terinspirasi dengan keberanian Munir sebagai simbol perjuangan HAM yang semangatnya tak pernah lekang oleh waktu. "Kasusnya masih terus ditutupi, dan ada kepentingan kekuasaan, tapi kami tidak akan menyerah. Walaupun di sisi lain ada progresif dalam hal keadilan, tapi tetap ada celah," terangnya.
Sedangkan Daniel Yusmic menjelaskan, kasus Munir itu perspektif kekuasaannya tinggi. Dan sebagaimana diketahui, Munir itu melakukan perlawanan terhadap kekuasaan dan peran dwifungsi ABRI. Dan itu ikut mewarnai perpolitikan di Indonesia. Sehingga apa yang diperjuangkan Munir adalah perjuangan hak-hak asasi manusia dan segala aspek totalitasnya.
Mengenai hilangnya dokumen Tim Pencari Fakta Kasus Munir atau kasus 1998, itu menunjukkan bahwa itu merupakan konspirasi lanjutan dalam rangka ingin menunjukkan bahwa ada pesan kira-kira, “Kalian jangan macam-macam...” "Secara pribadi saya percaya Presiden Joko Widodo akan menuntaskan itu. Tapi, kita tahu bahwa pengambilan keputusan di tingkat negara itu, kan, banyak faktor yang mempengaruhi. Apalagi menjelang 2019, akan banyak nuansa pemilunya dan isu HAM yang akan laris dijual sebagai komoditi," tegas Daniel Yusmic yang termasuk figur dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan Majalah NARWASTU.” BTY

Berita Terkait