Pdt. DR. M.R. Lumintang, M.A., MBA, M.Th
Menyuarakan Kabar Baik Melalui STT IKAT

893 dibaca
Pdt. DR. M.R. Lumintang, M.A., MBA, M.Th

Beritanarwastu.com. Lelaki Manado kelahiran 5 Januari 1955 ini adalah Rektor STT IKAT (Institut Keguruan Alkitab dan Teologi), Jakarta. Pdt. DR. M.R. Lumintang, M.A., MBA, M.Th, lahir dan besar di Manado. Anak kedua dari lima bersaudara ini awalnya adalah pegawai negeri, namun ia terpanggil melayani di ladang Tuhan dan mendapat support dari keluarganya. Pada usia 16 tahun ia sudah dipercaya jadi Ketua SOKSI (salah satu organisasi pendiri Golkar) Kecamatan Tompaso. Ia punya visi supaya semua orang percaya kepada Kristus, dan melalui kepercayaannya itu ada pembangunan mental dan spiritual, sehingga manusia itu terangkat harkat dan martabatnya

Ia pernah ikut pelayanan Pramuki (Persekutuan Angkatan Muda Kristen Injili Indonesia), membuat KKR bagi kaum muda di Jakarta Utara yang bekerja sama dengan Wali Kota Jakarta Utara. Tema KKR-nya saat itu Salib Memerangi Narkotika. Setelah itu, ia mendaftar ke sebuah sekolah teologi di Manado, lalu melayani di Perfilman Berita Hidup (Yayasan Berita Hidup). Selanjutnya, ia melayani di Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) dan Gereja Kristen Rahmani Indonesia. Ia pun melayani di Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM). Kemudian ia melayani di GPKAI menjadi asisten misionaris di The Evangelical Alliance Mission.

Mereka, ujarnya, saat itu terbiasa melayani ke Papua. “Dalam setahun bisa enam kali ke Papua. Harus masuk hutan dan tidur dengan beralaskan tanah. Dan harus ditaruh garam di sekeliling kita, karena banyak lintah dan nyamuk. Juga harus berjalan kaki tiga hari, naik bukit, turun bukit, dan bertemu orang-orang di pedalaman Papua. Lalu kita bangun hubungan persaudaraan dan memberitakan Injil di sana,” kisahnya. Dari pengalaman itu, ia memutuskan untuk mendirikan STT IKAT di Jakarta. Selain pimpinan di STT IKAT, Pdt. Lumintang juga ikut memimpin Sinode GPKAI sejak tahun 1979 sampai sekarang.

Ia juga ketua dari 9 yayasan. Yayasan ini ada yang bersifat nasional, internasional maupun rohani. Pdt. Lumintang menerangkan, STT IKAT dirancang guna mengangkat harkat dan martabat manusia. Misinya untuk mengimplementasikan supaya di Indonesia terdapat 75% kaum intelektual atau orang berpendidikan. Karena, ujarnya, di Indonesia sudah ada 60% kaum intelektual, sehingga dunia luar bisa melihat potensi di Indonesia. Dan ini bisa menarik investor.

Menurutnya, kebersamaan warga gereja saat ini pada dasarnya ada dalam satu tubuh Yesus Kristus. Keberagaman bukan berarti tak bersatu. Keberagaman itu suatu sarana untuk mengimplementasikan kesatuan. “Bagaimana dengan denominasi-denominasi itu, apakah bisa bersatu atau tidak. Saya kira kebersamaan saat ini ada kalau ada kepentingan-kepentingan. Itu yang membuat kita merasa bahwa tidak satu. Pengalaman saya bahwa gereja itu kelihatan bersatu jika ada tekanan, baik tekanan regulasi atau tekanan-tekanan politik,” ujar pria yang akrab disapa Pak Jimmy ini.  

“Hanya orang-orang ambisius yang menyebabkan gereja tidak bersatu. Pengalaman saya, sewaktu pelayanan di PGI Wilayah Jakarta sebagai anggota MPL, kalau duduk semua satu, tapi kalau menentukan program sering berbeda pendapat, itu sah-sah saja. Bukan berarti beda pendapat menyatakan tak bersatu. Hanya saja yang perlu sekarang bagaimana ambisi itu diperangi di dalam kebersamaan kita melalui aras nasional,” terangnya.

Berbicara soal panggilannya sebagai pendeta, menurutnya, pendeta itu jabatan. “Saya bersukacita menjadi orang Kristen, karena saya menempatkan Allah secara iman. Kristus di dalam saya dan saya di dalam Kristus, dan itulah damai dan sukacita saya. Dalam damai dan sukacita, saya mendedikasikan hidup saya untuk Tuhan. Saya mendedikasikan hidup saya melalui pelayanan di gereja dan organisasi. Gereja ada aturan, saya berkhotbah, memberkati, melakukan baptisan dan perjamuan. Maka harus melewati persyaratan ini,” pungkasnya.

“Saya ingin terus bertumbuh dalam iman. Bagaimana memahami itu dari sudut rohani, contohnya, kalau dulu saya bekerja untuk meraih harta yang banyak, sekarang paradigma saya, yaitu suatu kebahagiaan bagi saya kalau ada orang yang tidak percaya, lalu percaya, ada orang berkelakuan buruk berubah menjadi baik. Dan yang dulu suka pukul istri menjadi mengasihi istri. Istri yang dulu cerewet, sekarang menjadi lemah lembut, itu salah satu kerinduan saya,” cetus Pdt. Lumintang.

  STT (Sekolah Tinggi Teologi) IKAT Jakarta didirikan pada 1986, dengan nama awal Institut Keguruan Alkitab dan Teologia. Dulu lembaga ini didirikan karena kebutuhan akan guru-guru, dan STT IKAT melihat bahwa guru-guru di tahun 1980-an jumlahnya minim. Ia menerangkan, pada 1991 STT IKAT diakreditasi. Para lulusan STT ini diharapkan dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara SIKIP (sensitifitas-inisiatifitas-kreatifitas-inovatifitas-produktifitas) demi kemuliaan Tuhan, dan mempersembahkan karya cemerlang bagi bangsa, negara, masyarakat dan gereja.

Agar karya-karya kreatif-inovatif bisa terarah dan seimbang, ujarnya, maka dirumuskan standar lulusan STT IKAT, yaitu: (1) memiliki karakter personal SIKIP, (2) memiliki keterampilan memimpin, menggembalakan dan mengajar (transfer of life), dan (3) memiliki integritas dan kompetensi. Dengan suatu proses yang ketat dan disiplin, ujarnya, STT IKAT ingin pula mewujudkan kehadiran, pelayanan dan karya dengan mempersembahkan wisudawan untuk mengambil bagian dalam pembangunan Indonesia. “Pola dan manajemen pendidikan dari sudut teologi kita lebih condong menjadi unggulan untuk manajemen gereja. Misi kita melengkapi, membentuk seseorang memiliki kualitas ilmu, terampil dan profesional. Tujuan sekolah ini berdiri untuk mengangkat harkat dan martabat manusia,” cetus Ketua IV Sinode/Majelis Umum Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) ini. 

Berita Terkait