Metedologi Pendidikan Kristen Dalam Perspektif Alkitab Khotbah di Bukit-Matius 5:1-12

Pdt. Petra Fanggidae, M.Div 1369 dibaca


Kemajuan teknologi yang semakin berkembang dalam kehidupan umat manusia, menyebabkan setiap orang mau tidak mau harus melek akan keberadaannya. Kemajuan teknologi hasil dari buah pikiran manusia tersebut tidak bisa dilepaskan dari pendidikan yang didapat, baik secara formil maupun nonformil. Dan bicara mengenai pendidikan tak bisa lepas dari campur tangan negara, sekolah, pengajar, anak didik dan keluarga.
 Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran dalam segi kualitas. Di tahun 80-90-an sekolah Kristen yang dianggap ideal, karena ada pembentukan karakter, sistem yang dibangun jelas dan rapi serta menanamkan rasa kedisiplinan yang tinggi terhadap para anak didiknya. Namun, sekolah negeri pun memiliki kualitas yang tak kalah dengan sekolah Kristen, sehingga para lulusan dari sekolah berplat merah tersebut cukup bisa berbangga diri menjadi alumninya.
 Memasuki tahun 2000 ke atas kebijakan pemerintah yang membebaskan iuran SPP untuk sekolah negeri. Ironisnya, justru hal itu mempengaruhi penurunan mutu dari sekolah negeri. Di sisi lain sekolah Kristen kian meninggikan tarifnya, sehingga dinilai sangat komersil dan cenderung sarat akan nilai bisnis. Bagi mereka yang merasa tak cukup secara financial berpaling ke sekolah lain yang dianggap sesuai dengan kondisi ekonominya. Walaupun, secara IQ (Intellegence Quotien) memenuhi persyaratan.
 Padahal sekolah Kristen yang notabene memiliki keunggulan lebih tak hanya menuntut ilmu pengetahuan semata, akan tetapi juga pendidikan character building. Sehingga dapat menjadi garam dan terang bagi masyarakat sekitarnya.  Atas dasar itulah menjadi salah satu alasan untuk orang tua menyekolahkan anak mereka. Kenyataannya hanya ada beberapa sekolah Kristen yang memiliki mutu yang sangat baik, namun hanya terhitung dengan jari  jumlahnya.
 Sesunggunya mengenai pendidikan sangat berhubungan antara pendidik dengan anak didik. Dalam hal ini penulis ingin memaparkan apa yang terdapat dalam Injil Matius 5:3-11 mengenai “Khotbah di Bukit.” Di situ, dikisahkan mengenai Tuhan Yesus mengajar umat di Israel Utara yang meliputi daerah Galilea, Kapernaum, Samaria dan lain sebagainya. Mereka rata-rata adalah kaum marginal, namun Yesus memberikan pendidikan yang excellent. 
Ada beberapa poin yang bisa dipaparkan, yaitu “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Poin ini menekankan bahwa fokus pendidikan diterapkan kepada mereka yang sangat membutuhkan, itu berarti kepada siapa saja tanpa ada keberpihakan kepada yang lainnya, sifatnya universal tetapi berkualitas.
 Di ayat selanjutnya, “Berbahagialah orang yang berdukacita, karean mereka akan dihibur” bahwa tersirat feed back di dalamnya. Jadi orang yang berduka atau susah tidak boleh dibuat semakin susah. Tuhan Yesus mendidik kepada nilai untuk mengasihi. Fokus pendidik memberikan perhatian khusus bagi anak didik yang lemah dan terbatas agar mereka dapat tertolong dalam dunia pendidikan.
 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Sebagai seorang pendidik harus memiliki hati yang lemah lembut. Sebab sepak terjang dan apa yang dibuat akan dicontoh oleh anak didiknya. Tapi, seorang pendidik juga harus tegas dan tidak berkompromi terhadap kesalahan dan bukan membiarkan. Kelemahlembutan bukan bicara kelemahan yang tak berdaya, tetapi ada strong character dari pendidik untuk diaplikasikan ke anak didik.
 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Seorang pendidik harus terus meng-upgrade ilmu dan skill sebagai bentuk peningkatan kompetensinya. Sehingga bisa memberikan daya semangat, mendorong kreativitas agar dapat menghasilkan anak didik yang berkualitas.
 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Jadi seorang pendidik harus memiliki sifat yang murah hati. Mengapa? Supaya anak didiknya juga mempunyai sifat murah hati dan tidak egois melainkan mau berkorban bagi orang lain. Selain itu, menumbuhkan rasa empati terhadap orang yang susah atau membutuhkan pertolongan.
 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Kalau dikorelasikan dengan pengajaran pendidikan Kristen, tidak hanya secara pengetahuan saja. Tetapi, mendidik ke arah pembentukan karakter mereka juga. Misalnya, untuk hidup suci dan kudus. Tidak menjadi pelaku seks bebas, tidak bergaul dengan obat-obatan terlarang (narkoba) dan sebagainya. Pendidik memberikan didikan yang menjunjung tinggi etika dan moral dengan tujuan anak didik semakin tegas dalam menentukan pergaulan di lingkungan dengan tepat
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Ini penting agar para pendidik harus memberikan contoh dan mempunyai fellowship yang kuat kepada anak didiknya. Sehingga memberikan suasana damai dan contoh kepada anak didiknya untuk tidak bertengkar atau tawuran. Jadi nilai damai tidak cukup dibangun berdasarkan teori semata, melainkan harus dilakukan seperti tertulis dalam Firman Tuhan. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
 Dan terakhir, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu jika karena Aku, kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Maksudnya adalah tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. Ajarkanlah selalu tentang kasih. Kalau ada orang yang bersalah kita harus bisa mengampuni dan memberkatinya.
 Jadi sekolah-sekolah Kristen harus menerima pendidik yang standarnya sudah mengalami kasih Tuhan, sehingga mereka memiliki tanggung jawab secara spirit. Sebab, hampir 50 persen waktu anak-anak adalah di sekolah. Menjaga sinergi antarpendidik dan anak didik, mengajar pengetahuan dan character building sesuai dengan nilai-nilai firman Tuhan. Maka sekolah tersebut memiliki kualitas teruji dan tidak hanya bagus dari segi gedung, akan tetapi juga kualitas pendidikan  dan kedisiplinan menjadi perhatian utama. Terlebih biaya sekolah yang sewajarnya sehingga dapat dijangkau oleh setiap kalangan.

* Penulis adalah Lulusan S1 dari STT Ebenhaezer (YPPII) dan S2 dari Institut Injili Indonesia.

Berita Terkait