Perkumpulan Senior GMKI
Minta Semua Pihak Tegas Perangi Hoax

484 dibaca
Perkumpulan Senior GMKI peduli persoalan bangsa dan masyarakat.

 BERITANARWASTU.COM. Kebangkitan Kristus yang diabadikan sebagai Hari Paskah diperingati juga oleh Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PS GMKI) pada Kamis, 5 April 2018 lalu di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Salemba, Jakarta Pusat. Acara ini dibuka dengan makan malam bersama dan dilanjutkan dengan ibadah. Selanjutnya diiringi dengan lagu pembukaan dan meluangkan waktu sejenak untuk setiap pribadi guna bersaat teduh. Selain ada persembahan puji-pujian, di situ Sahat HMT Sinaga, S.H. pun membacakan sebuah puisi berjudul Jumat Agung karya cendekiawan Muslim terkemuka Ulil Abshar Abdalla.

 Paskah yang mengambil tema Kuasa Kebangkitan Kristus (Filipi 3:10-11) dan subtema, Bangkit Melawan Hoax dengan Bijaksana untuk Kemajuan Indonesia. Dalam khotbahnya, Pdt. Anwar Tjen, Ph.D menjelaskan, bahwa hoax (berita bohong) sudah ada sejak dahulu kala. Tak terkecuali tentang kebangkitanNya yang dianggap sebagai bagian dari hoax, seperti masyarakat Yahudi dan Yunani.

“Pada saat itu, sangat sulit untuk meyakinkan bahwa kebangkitan Yesus sebagai sebuah kebenaran. Tanda-tandanya adalah bahwa mayat Yesus tidak dicuri orang. Tuhan sungguh-sungguh bekerja dan Dia sungguh Tuhan,” tegas pendeta yang juga aktif sebagai penerjemah di LAI ini.

 Ia pun menambahkan, hari-hari ini betapa dahsyatnya sebuah hoax, dan kita kebanjiran informasi. Makanya, kita harus punya filternya. Dibutuhkan sebuah kebenaran, artinya tidak terselubung atau transparan dan senjata pamungkasnya adalah Alkitab. Sedangkan Ketua Umum Pengurus Nasional Perkumpulan Senior GMKI, Dr. Bernard Nainggolan, S.H., M.H., berpendapat, bahwa kita semua harus bersama-sama melawan atau memerangi hoax, sebab hoax bisa bikin chaos (kekacauan atau kerusuhan di tengah masyarakat).

 

  

Suasana acara Paskah bersama Perkumpulan Senior GMKI.

 

Kehadiran Perkumpulan Senior GMKI, katanya, bagi kita adalah saatnya untuk bisa memberikan kontribusi dengan kebebasan yang ada. Pengacara senior ini juga menuturkan tentang rencana GMKI yang akan menggelar kongres di Jakarta menjelang akhir tahun 2018 ini. “Jakarta sangat strategis dari posisi tempat dan waktu. Jadi ini adalah momentum membangun bangsa dan negara. Sedangkan pertemuan raya GMKI akan diadakan di Toraja,” ujar Bernard di hadapan para anggota dan undangan GMKI.

 Di sela-sela acara Paskah tersebut, tokoh senior GMKI Ir. Edward Tanari, M.Si selaku Sekretaris Umum PS GMKI menjelaskan tentang tujuan diangkatnya masalah hoax sebagai tema ibadah tersebut. Menurut mantan Sekjen DPP PARKINDO (Partisipasi Kristen Indonesia) dan bekas Ketua Umum PP GMKI ini, sekarang kita sedang memasuki tahun politik (2018-2019) dan sensitif dengan hoax. Seperti kita ketahui bahwa beberapa waktu lalu, kita mendapatkan sejumlah hal yang hampir-hampir bisa membuat pecah bangsa ini, hanya karena berita-berita yang tidak benar dan berlangsung sampai sekarang.

Dan, kata mantan Sekretaris Forum Senior GMKI dan fungsionaris DPP PDI Perjuangan ini, sebagai langkah antisipasi dari kita, terutama senior-senior GMKI bagaimana cara komunikasi yang bisa diubah ke dalam bentuk yang lebih dalam. Nah, kita coba angkat tema itu,” ujar mantan aktivis mahasiswa yang dikenal vokal sejak era Orde Baru itu.

 Perkumpulan Senior GMKI yang hampir rata-rata anggotanya menduduki lini strategis, baik dalam pemerintah, lembaga tinggi atau swasta, ujarnya, mempunyai tekad untuk melawan atau memerangi hoax. Dan bagi Edward Tanari yang akrab disapa Edo ini, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang penting. “GMKI apalagi senior-seniornya boleh dikatakan jemaat yang punya nilai lebih. Dalam arti mereka yang lebih banyak tahu atau banyak berinteraksi dengan dunia luar, dan punya kesadaran politik dan sosial yang tinggi. Sebab itu, perlu untuk melayani pendidikan kader, sehingga diharapkan kader-kader senior GMKI harus mengambil peran yang lebih pula untuk melakukan pencegahan terjadinya perpecahan di bangsa ini,” ujar Edo yang juga mantan Caleg DPR-RI di Pemilu 2014 lalu.

Jadi kami mau mengimbau kepada seluruh kader agar bisa menjadi pemberita-pemberita damai, dan bukan malah ikut atau larut ke dalam soal yang dikembangkan oleh segelintir orang, yang mau melakukan pembodohan atau perpecahan terhadap bangsa ini,” tegasnya. Edo yang berdarah Toraja berpendapat juga mengenai peran pemerintah dalam memerangi hoax, yang dinilai bahwa sekadar membuat aturan tidaklah cukup. Tapi diperlukan kesadaran untuk semua pihak, terutama pelaku-pelaku untuk bertanggung jawab mengambil bagian dalam proses melawan terjadinya hoax ini.

“Jadi ada sistem yang dibangun dan pelaku serta manusia-manusia yang dibangun harus punya kesadaran mentaati atau menahan hal-hal yang hoax. Dalam hal ini pemerintah sudah bikin peraturan perundang-undangan hokum. Dan masyarakat diharapkan bertanggung jawab juga, serta punya kesadaran mematuhi aturan dengan pemerintah sebagai pembuat kebijakan tersebut,” tukas Edward.

 Seperti yang dikatakan oleh Pdt. Anwar Tjen, untuk menangkal atau membentengi diri akan hoax harus  dengan firman Tuhan. Edward Tanari juga sependapat dengan hal itu. Ia menuturkan, Alkitab harus dihidupi masuk dalam lingkungan yang heterogen. Sebab, kita tidak mungkin masuk membawa Alkitab. Tapi, biarlah perilaku dan sikap kitalah yang menjelaskan kepada mereka. Bahwa kita adalah anak-anak yang diutus atau murid Kristus yakni surat-surat yang terbaca oleh mereka,” pungkas Edward Tanari yang juga penatua di Gereja TorajaBTY

Berita Terkait