Mubes XX Gereja Sidang Jemaat Pantakosta Di Indonesia Digelar di Cipanas

1826 dibaca
Pdt. Dr. Erastus Sabdono (kiri) menerima cendera mata dari Ketua Umum GSJPDI, Pdt. Daniel Rusli, M.Th (kanan).

BERITANARWASTU.COM. Musyawarah Besar (Mubes) XX GSJPDI (Gereja Sidang Jemaat Pentakosta Di Indonesia) diadakan pada 27-29 September 2016 lalu di Galaxy Resort Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Acara yang diadakan setiap empat tahun sekali ini mengambil tema ''Bertumbuh di Dalam Segala Hal ke Arah Kristus (Efesus 4:15)” dan berjalan baik dan sukses. Menurut Ketua Umum GSJPDI, Pdt. Daniel Rusli, M.Th, peserta Mubes XX berasal dari GSJPDI seluruh Indonesia. Semua ada 13 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah. Dan ada 127 gereja otonom dan 7 gereja cabang.

Tujuan mubes ini memilih Ketua Sinode dan pengurusnya. Selain pemilihan pengurus GSJPDI, tujuan lainnya, membawa GSJPDI bertumbuh di dalam kualitas dan kuantitas ke arah Kristus. Pembukaan Mubes XX diawali dengan sambutan dari Ketua Panitia Pelaksana Mubes XX Pdt. Samuel Sumadi Utomo (Gembala  GSJPDI Imanuel Kodam Jaya). Pdt. Samuel mengatakan, ia menghargai upaya dari Ketua BPN, Ketua BPD, hamba-hamba Tuhan dan para gembala sidang di GSJPDI yang bisa berkumpul di Mubes XX.

“Kiranya Tuhan memberkati acara ini di dalam rangka memberikan program-program kerja dari  sinode kita. Kalau pemerintahan kita sekarang mengatakan, kerja dan kerja. Dan semboyan GSJPDI, yaitu Ora Et Labora. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada para donatur untuk penyelenggaraan Mubes XX ini,” cetusnya.  

Sedangkan Firman Tuhan dibawakan Pdt. Daniel Rusli yang bertemakan bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus. Dari Efesus 4:14-15 dijelaskan Pdt. Daniel, kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan permainan palsu manusia. Tapi yang teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih. Dan kita bertumbuh  di dalam segala hal ke arah Kristus, yang adalah kepala. Alkitab menulis, Kristus adalah kepala dan sidang jemaat adalah tubuhnya.

 Efesus 5 :24, karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian juga istri harus tunduk kepada suami. Dan suami harus mengasihi istrinya, sebagaimana Yesus mengasihi jemaat. Apa jadinya kalau di suatu rumah tangga istri tak tunduk pada suami. Otomatis rumah tangga tak berjalan dengan sempurna, seperti sirkus, kepala di bawah dan tubuh di atas.  

Di Ibrani 13:17, Alkitab berkata, taat dan tunduklah kepada pemimpin. Disitu dijelaskan jadilah pejabat gerejawi menjadi hamba-hamba Tuhan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Di Roma 12:2 dikatakan, janganlah kamu serupa dengan dunia, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah. Ayat ini berbicara perubahan pikiran oleh pembaharuan Firman Tuhan, sehingga kita bisa mempersembahkan tubuh yang kudus.

Lalu dalam sambutannya, Pdt. Daniel Rusli mengucapkan terima kasih kepada Tuhan sebagai Kepala Gereja, dan kepada para hamba Tuhan yang hadir di mubes. Juga ia menyampaikan terima kasih kepada Ibu Suryana Sitompul dari Bimas Kristen DKI Jakarta. “Saya berharap Mubes XX berjalan tertib, penuh sukacita dan damai sejahtera. Mengingat kita hamba-hamba Allah. Kita tak berpolitik, tapi kita menyatukan hati, pikiran dan perasaan yang sama untuk melakukan yang terbaik untuk proyek Allah di GSJPDI yang sudah berumur 65 tahun,” ujarnya.  

Sedangkan dalam sambutan dari Dirjen Kristen Departemen Agama RI, yang diwakili Suryana Sitompul (Kasubdit Penyuluh) dikatakan, puji syukur patut dipanjatkan kepada Allah, karena pertolonganNya, kita bisa berkumpul di tempat ini. Mubes ini momen penting dan bersejarah, karena di mubes ditentukan arah pelayanan di masa depan, dengan memperhatikan segala kegagalan dan keberhasilan di masa silam

“Beberapa tahun terakhir ini, melalui media massa, kita menyaksikan pelecehan seksual, penggunaan obat-obat terlarang, pembunuhan dan perampokan yang merusak masa depan bangsa dan gereja. Hukum masih belum sepenuhnya menjadi panglima, sehingga keadilan masih harus diperjuangkan. Dalam kondisi ini saya mengajak gereja agar menjalankan tugas dan panggilan yang nyata dan bercahaya. Gereja tidak hanya terpanggil untuk penginjilan dan keselamatan, tapi gereja terpanggil untuk mengatasi masalah-masalah sosial umat manusia tanpa melihat perbedaan,” ujarnya.

Dan pada Rabu, 28 September 2016 disambung dengan renungan Firman Tuhan yang dibawakan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, M.Th. Menurut Pdt. Erastus, pertumbuhan hanya ditujukan kepada suatu organisme yang hidup, bukan benda mati. Hal ini berlaku bagi kehidupan manusia beriman. Pertumbuhan hanya berlaku bagi orang Kristen yang hidup. Yang ditumbuhkembangkan adalah pribadi, watak anak Allah. Watak yang kita miliki adalah yang diwarisi orang tua kita, dan watak ini perlu diubah.

Penebusan darah Tuhan Yesus Kristus dimaksudkan, agar kita dibebaskan dari cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang. Menurut Pdt. Erastus, di 1 Petrus 1:18 dikatakan, ada dua jenis pertumbuhan. pertumbuhan karakter secara alami dan pertumbuhan secara rohani. Pertumbuhan secara alami dialami setiap insan melalui pengalaman hidup jadi dewasa, bijaksana dan matang sesuai pola pendidikan dan dasar pembinaan seperti membangun manusia seutuhnya, manusia Pancasilais.

Sedang pertumbuhan secara rohani adalah, pertumbuhan benih Ilahi yang Tuhan telah taruh dalam kehidupan umat pilihan. Di 1 Yohanes 1:12-13 dikatakan, di mana umat pilihan dimungkinkan memiliki karakter seperti Tuhan atau mengenakan pribadi Tuhan di hidupnya. Untuk proses ini Tuhan bekerja melalui RohNya dalam hidup kita. Firman Tuhan di 1 Yohanes 31-32 dikatakan, dan segala peristiwa yang Tuhan kehendaki terjadi dalam hidup kita.

 

 

Di Roma 8:28, katanya lagi, dikatakan Roh Kudus sebagai pemandu, dan Firman Tuhan sebagai dasarnya. Ukuran pertumbuhan Kristiani yang benar adalah Yesus. Dia model yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Di Matius 3:17 dikatakan, inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNya Aku berkenan. Di Kolose 1:15 dikatakan, dengan demikian kita dipanggil, dikehendaki menjadi seperti Yesus. Paulus dalam suratnya menulis, sebab aku telah  mati oleh hukum taurat untuk hukum taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus, yang hidup di dalam aku, dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.

“Kehidupan baru yang dimiliki Paulus setelah mengenal Yesus adalah kehidupan yang dipersembahkan bagi Allah, yang tidak lagi dibelenggu oleh hukum taurat. Tapi kehidupan yang dibelenggu oleh norma baru yang adalah Tuhan sendiri. Prinsip dasarnya adalah Tuhan adalah hukumku. Kita berusaha agar karakter Tuhan Yesus mengambil alih atau menggantikan kebiasaan hidup kita. Jadi dasar kekristenan adalah proses perjalanan hidup untuk terus menerus mengalami perubahan karakter,” pungkas Pdt. Erastus Sabdono.

Sehingga, sambung Pdt. Erastus, bisa mengenakan gaya hidup yang diperagakan oleh Yesus pada 2.000 tahun yang lalu. “Di dalam kekristenan yang terpenting adalah, perubahan karakter. Dari karakter manusia yang mengenakan kodrat dosa menjadi manusia Allah yang serupa dengan Yesus yang mengenakan kodrat Ilahi,” cetusnya. Dan hasil keputusan bersama dalam Mubes ini kembali Pdt. Daniel Rusli dipercayakan sebagai Ketua Umum BPN GSJPDI masa bakti 2016-2020. Acara Mubes XX ini ditutup dengan pelantikan Ketua Sinode GSJPDI yang baru dengan pengurusnya dan pentahbisan pejabat gerejawi yang diangkatJK

Berita Terkait