Jonro I. Munthe, S.Sos
Musibah AirAsia QZ8501

407 dibaca
Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU).

Beritanarwastu.com. Saat diadakan “Open House PGI” pada 5 Januari 2015 lalu di Graha Oikoumene, Jakarta Pusat, sejumlah petinggi gereja dan tokoh Kristen, ketika menyampaikan sambutan Natal dan Tahun Baru 2015, mereka beberapa kali menyinggung soal tragedi pesawat AirAsia  QZ8501 yang terjadi pada 28 Desember 2014 lalu, yang membuat lebih dari 150 penumpang tewas dan banyak hilang. Pengkhotbah saat acara itu, Pdt. Dr. Dwijosaputra dari GBI menyampaikan, ketika kita tiba di tahun baru ini, kita bersyukur atas kebaikan Tuhan. Namun, kita juga perlu berdoa untuk keluarga korban AirAsia, karena banyak orang Kristen yang jadi korban.

                Dirjen Bimas Kristen, Oditha Hutabarat pun menyampaikan duka yang dalam atas banyaknya orang Kristen yang jadi korban AirAsia. Ia menuturkan, tantangan bangsa ini ke depan akan semakin berat, sehingga kebersamaan di tengah warga gereja sangat penting. Dan kita harus bisa memberikan sesuatu untuk kebaikan bangsa ini. Demikian juga Ketua Umum PGI yang baru, Pdt. Dr. Henriette T. Lebang, menyebut Tahun Baru 2015 kita yakini “tahun rahmat Tuhan”, namun kita berduka atas musibah pesawat AirAsia yang di dalamnya banyak orang Kristen.

                Seperti dikutip harian Warta Kota (10 Januari 2015), ketika tim penyelam dan tim evakuasi Basarnas mencari jenazah para korban pesawat AirAsia QZ8501 itu, ditemukan dua jenazah penumpang di dasar laut Selat Karimata, Kalimantan Tengah. Dua jenazah itu berkelamin laki-laki dan perempuan dewasa dalam posisi duduk dan masih terikat sabuk pengaman (seatbelt) di satu rangkai kursi penumpang. Jenazah perempuan mengenakan kaus hitam dan putih dengan celana panjang hitam, sementara jenazah pria memakai jaket hijau dengan celana panjang hitam, serta kondisi jenazah dalam keadaan rusak.

                “Tim penyelam menemukannya di dasar laut, tidak mengapung. Satu laki-laki dan satu perempuan,” ujar Komandan Lanud Iskandar Letkol (Pnb) Jonson Hendrico Simatupang. Disampaikan pula tim penyelam tidak menemukan bayi kendati di leher dan dada jenazah laki-laki melingkar gendongan bayi. Ketua Tim Survei Muhammad Aga di Kapal Geosurvey menyampaikan tidak ada identitas di kedua jenazah, namun diketahui pasangan tersebut adalah pasangan warga negara Korea Selatan yang membawa bayi yang jatuh dalam penerbangan AirAsia. Laki-laki bernama Park Seong Beom dan istrinya Lee Kyung Hwa, dan putri mereka berusia 11 bulan, Park Yu Na.

                Mereka merupakan keluarga misionaris yang telah menjadi pendeta di Indonesia sejak tiga tahun lalu. Mereka terbang ke Singapura untuk memperbaharui visa. Mereka berasal dari Desa Yeosu, desa nelayan di Korea Selatan, yang jaraknya 450 kilometer dari Seoul. Seorang pejabat gereja di Yeosu, Kim Sung Cheon mengatakan, Park bertugas di Indonesia sejak tiga tahun lalu. Setahun kemudian ia menikah. Lantaran Indonesia tidak menerbitkan visa misionaris untuk warga asing, Park dan keluarganya harus terbang ke Singapura untuk memperpanjang visa.

                Korban AirAsia QZ8501 lainnya yang Kristen, Ruth Natalia Made Puspitasari (26 tahun) asal Blitar, Jawa Timur. Ketika jenazahnya berhasil diidentifikasi, keluarganya membuat ibadah untuk pemakamannya, dan orangtua serta kelurganya tampak tegar menghadapi kenyataan pahit itu. Bahkan, keluarga Ruth mengenakan kaos putih dengan tulisan, “Yesaya 55:8” yang isinya, “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikian Firman Tuhan…”

Lantas apa yang bisa kita petik dari musibah Air Asia QZ8501 ini. Pertama, terlepas dari penerbangan AirAsia ini ada pelanggaran hukum sebelum beroperasi, meskipun pesawat ini disebut-sebut canggih, namun tetap Tuhan Yang Maha Kuasa yang lebih berkuasa. Buktinya, pesawat canggih itu tak bisa mengendalikan keganasan cuaca dan alam, akhirnya pesawat itu pun jatuh dan hilang. Kedua, dari kasus ini kita melihat Tuhan yang punya otoritas di dalam menentukan kehidupan manusia. Kita cermati bahwa penumpang AirAsia  ada juga hambaNya, seperti misionaris asal Korea Selatan beserta bayinya, tapi tetap tidak luput dari musibah, karena Dia yang punya kehendak.

Ketiga, setelah pesawat naas ini jatuh ke laut, lalu tiga hari kemudian beberapa jenazah dan serpihan pesawat bisa ditemukan, kita meyakini itu karena banyak orang berdoa untuk tim Basarnas, TNI/Polri dan relawan lainnya. Dan dari pengalaman selama ini, sering tim pencari pesawat yang jatuh tidak berhasil melakukan tugasnya. Makanya, media asing Wall Street Journal menyebut Basarnas sebagai tim pencari tercepat sepanjang sejarah tragedi penerbangan dunia (Tempo, 5 Januari 2015). Dan Kepala Basarnas, Marsdya TNI F. Henry Bambang Sulistyo yang seorang Kristiani menunjukkan kerja keras yang luar biasa untuk mencari pesawat yang hilang ini dan mencari para korban bersama timnya.

  Keempat, seperti bunyi Firman Tuhan di Yesaya 55:8, “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu…” Ayat ini kembali mengingatkan kita bahwa di dalam kehidupan ini, selalu ada rancangan Tuhan di dalam kehidupan kita. Baik di dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan atau aktivitas lainnya. Dan penting kita imani bahwa rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakaan, namun rancangan damai sejahtera, yang kadang sulit kita pahami. Karena itu, saat kita membuat rencana-rencana di Tahun Baru 2015 ini, mari kita libatkan Tuhan untuk rancangan itu. Firman Tuhan di Kitab Mazmur 53:6, menulis, “Sesungguhnya, Allah adalah penolongku, Tuhanlah yang menopang aku.” Di Mazmur 55:23 ditulis lagi, “Serahkan khawatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!” Renungan ini mengajak kita kembali agar menjadikan Tuhan sebagai penolong dan menyerahkan segala kekhawatiran kita kepadaNya di dalam menjalani Tahun Baru 2015. Syalom.  

 

Berita Terkait