NARWASTU dan Pewartaan Kabar Baik

• Oleh: Viktus Murin 240 dibaca
• Penulis adalah Wakil Sekjen DPP Partai Golkar, mantan Sekjen Presidium GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) dan kini Pemimpin Usaha “BERSIH.Id.

Beritanarwastu.com. Era keterbukaan informasi lazimnya ditandai oleh ketatnya persaingan antarmedia, baik media massa mainstream (cetak dan elektronik) maupun media online. Iklim persaingan itu makin rumit ketika media sosial (medsos) berkembang kian massif, di mana setiap pemilik akun medsos dapat melakukan peran ganda; pembuat berita sekaligus narasumber. Yang membedakan antara eksistensi media mainstream dengan medsos adalah aspek-aspek kaidah jurnalistik yang membungkusnya.

          Berita-berita dari media mainstream memerlukan prasyarat kaidah jurnalistik yang rigid, yakni 5W plus 1H; (what, who, when, where, why, how). Sedangkan medsos akan muncul dengan ciri khasnya yang teramat longgar, ciri khas suka-suka. Ketentuan kaidah jurnalistik tidak berlaku di medsos, sebab ada kecenderungan orang boleh berkata-kata seenaknya di akun pribadi masing-masing. Padahal, medsos pun sejatinya dapat digunakan sebaik-baiknya untuk mewartakan kabar baik, demi kemaslahatan bersama dan atau kebaikan umum (bonnum commune).

Di tengah ketatnya persaingan antarmedia itulah, publik (masyarakat pembaca) langsung berperan sebagai “hakim” untuk memutuskan, apakah suatu media tetap eksis atau terkubur selamanya akibat persaingan. Puji Tuhan, hingga hari ini Majalah NARWASTU berhasil tampil sebagai media rohani yang terus eksis sekaligus patut diperhitungkan di jagat media nasional. Sebagai media dengan spesifikasi pembaca Kristiani, sejauh ini NARWASTU mampu menancapkan pengaruhnya sebagai majalah alternatif yang secara konsisten mewartakan kabar baik.

Melalui NARWASTU, publik tidak saja memperoleh informasi aktual dan update perihal isu-isu nasional –khususnya isu-isu sensitif bertalian dengan pluralisme/kemajemukan/kepelbagian—yang sedang nge-trend, melainkan lebih dari itu mendapatkan asupan nilai-nilai Kristianitas yang disuarakan oleh tokoh-tokoh bangsa, dan juga oleh “suara mayoritas diam” (the voice of voiceless) dari umat Kristiani. Di bawah nahkoda Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi, Jonro I. Munthe, S.Sos yang ditopang oleh kemampuan kolektif memberi diri untuk melayani dari segenap kru redaksi/usaha, Majalah NARWASTU telah mampu bertahan selama ini sejak terbitan edisi perdananya. Dan beberapa kali di majalah ini terjadi “dinamika” atau perubahan manajemen. Jonro I. Munthe sendiri pertama kali menjadi Pemimpin Redaksi NARWASTU sejak tahun 2000 lalu. Kemudian ia punya otoritas lebih sejak awal tahun 2010 untuk mengendalikan Majalah NARWASTU sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU dengan manajemen baru.  

 

Mengapa Memilih Tokoh Kristiani?

Di tengah kemelut persaingan antarmedia, mesti diakui bahwa Majalah NARWASTU tetap tegak berdiri sebagai panji sekaligus corong idealisme dalam menyuarakan nilai-nilai ke-Kristen-an atau Kristianitas. Dalam iman harus kita yakini bahwa Tuhan sendirilah yang memampukan NARWASTU untuk terus berdiri tegak, supaya kabar baik yang telah diwartakan itu dapat terus terwartakan. Nama Majalah NARWASTU menjadi simbolik ingatan kolektif kita pada kisah Alkitabiah perihal Yesus yang diurapi (dibasuh dengan minyak) oleh seorang perempuan berdosa, yang konon adalah Maria, saudari dari Marta dan Lazarus. Setelah memohon dengan penuh totalitas iman kepada Yesus, perempuan itu membasuh kaki Yesus dengan minyak “narwastu”, dan melap kaki Yesus dengan rambutnya. Pada masa itu, minyak narwastu adalah golongan minyak paling harum  dan harganya paling mahal.

Tetapi, orang-orang Farisi yang menyaksikan tindakan perempuan itu serta-merta mengritik Yesus, karena membiarkan kakiNya diurapi dengan minyak narwastu, apalagi oleh seorang perempuan yang dianggap pendosa. Namun, Yesus menakar isi hati perempuan itu, dan bukan menakar status sosial seturut ukuran dunia. Minyak narwastu secara simbolik memanifestasikan totalitas iman dari perempuan berdosa itu, yang memperlakukan YESUS sebagai TUHAN, dan bukan sebagai manusia biasa.

Harum minyak narwastu itulah simbolik dari keharuman hati manusia yang sadar bahwa dirinya berdosa, hanya untuk dapat menyembah Tuhan dengan sepenuh jiwa. Sangat mungkin spirit dari pesan simbolik minyak narwastu itulah yang kini dibawa oleh Majalah NARWASTU untuk ikut “mengurapi” anak-anak Tuhan, yang dipandang rela dan tetap konsisten menyuarakan nilai-nilai kekristenan melalui pemikiran dan tindakan nyata di tengah-tengah bangsa Indonesia yang majemuk ini.  

Tabut ketokohan rohani bertajuk “21 Tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU” ini, bila tidak keliru tradisinya dimulai semenjak tahun 1999 lalu saat era Reformasi. Indikator utama dari ketokohan rohani versi NARWASTU ini adalah komitmen dan konsistensi sikap menjadi saksi-saksi Kristus yang termanifestasikan dalam pengabdian dan karya sosial di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Manifestasi pengabdian dan karya sosial itu dapat berbentuk pemikiran dan ide-ide, bisa pula berupa karya-karya profesional dan atau sosial kemanusiaan yang dapat dirasakan oleh orang banyak. Mengapresiasi konsistensi spirit Kristianitas pada diri para tokoh itulah yang sangat mungkin memotivasi Majalah NARWASTU untuk “membaptis” secara sosial 21 Tokoh Kristiani pada setiap tahunnya.

Dengan memposisikan sejumlah orang dari lintas profesi dan latar belakang pengabdian sebagai 21 Tokoh Kristiani di setiap ufuk pergantian tahun, Majalah NARWASTU tampaknya hendak memberikan percikan “keharuman rohani” bagi para tokoh Kristiani, agar sungguh-sungguh tampil sebagai teladan kerohanian di hadapan jemaat, dan kiranya mampu “lahir baru” sebagai tokoh-tokoh bangsa di tengah-tengah bangsa Indonesia yang majemuk ini.  Motivasi kerohanian dari Majalah NARWASTU ini selaras dengan nas Alkitab, yakni pada Injil Lukas 9:2 yang berkata, “Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah, dan untuk menyembuhkan orang.Senafas pula dengan nas mengenai perutusan rohani dalam Yesaya 6:8, yakni: Lalu aku mendengar suara TUHAN berkata, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”

Di suatu hari, dalam perjalanan waktu jelang akhir tahun 2018 ini, kotak pesan WhatsApp (WA) saya berbunyi. Pesan itu datang dari Bung Jonro Munthe, tokoh utama Majalah NARWASTU. Tatkala membaca pesan itu, betapa kagetnya saya, seolah tidak percaya beroleh kabar sukacita, bahwa saya telah terpilih sebagai satu dari “21 Tokoh Kristiani Tahun 2018 Pilihan Majalah NARWASTU.” Sejujurnya, saya merasa belum pantas menyandang status kerohanian sosial seperti yang diberikan NARWASTU. Namun demikian, sembari menyadari diri perihal berbagai keterbatasan diri saya, sebisa mungkin saya berusaha meyakinkan diri, bahwa saya adalah ibaratnya –untuk mengutip kata-kata Mother Theresa dari Calcuta-- “hanya sebatang pensil di tangan Tuhan.” Maka biarlah rancangan Tuhan sajalah yang terjadi.

“Puji nama Tuhan Yesus! Hanya nama Yesus saja yang mengatasi segala nama. Dengan penuh rasa syukur, yang diliputi keharuan dan sukacita berlimpah, saya menerima kabar gembira ini. Puji Tuhan” begitu balasan pesan WA saya kepada Bung Jonro. Sementara di bilik hati, saya pun membatin, mengucapkan syukur berlimpah kepada Tuhan, dan berterima kasih untuk siapa saja (orang tua, guru, sahabat, teman, dan kerabat kenalan serta para Hamba/Pelayan Tuhan) yang telah ikut membentuk karakter kerohanian saya. Terkhusus bagi isteri saya Deisy Debra Kasenda, dan putera saya Alexander Ernst Matur Murin. Mereka berdualah pohon dan buah hati saya, yang menjadi inspirasi sekaligus asupan kekuatan batin, untuk terus melakoni “via dolorosa” atau jalan sengsara pada peziarahan kehidupan ini, agar dapat pula memetik sukacita iman di dalam Tuhan.

Berita Terkait