Rebecca Olivia Haryuni:
Natal itu Berbagi Kebahagiaan Kepada Sesama

1053 dibaca
Rebecca Olivia Haryuni bersama anak-anak bangsa dari Indonesia Timur

               BERITANARWASTU.COM. Merayakan Natal tak sekadar menyampaikan ucapan selamat Natal kepada sesama. Natal itu bukan perayaan biasa. Namun dalam merayakan Natal itu ada pesan kasih atau bahasa cinta kepada kita dan sesama. “Kalau Natal tiba saya sering diajak papa dan mama ikut pelayanan di pedalaman atau pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Saya merasakan ada sukacita ketika berbagi dengan orang-orang yang kurang beruntung saat merayakan Natal. Pesan Natal itu memang harus kita sebarluaskan kepada sesama. Pesan Natal itu, bagi saya, berbagi kebahagiaan pada orang lain, bukan pesta pora,” ujar Rebecca Olivia Haryuni, gadis yang dikenal cerdas dan giat melayani ke pedalaman saat berbicara seputar Natal kepada Majalah NARWASTU.

                Rebecca yang kini kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Kridawacana, Jakarta, adalah figur anak muda yang gigih melayani. Sejumlah daerah pedalaman, seperti Papua, NTT dan sejumlah daerah lain pernah dijelajahinya untuk melayani orang-orang yang kurang beruntung. Rebecca yang piawai memainkan alat musik harpa dan giat melayani di Gereja Bethel Tabernakel, Jakarta, selama ini aktif pula di dalam sejumlah kegiatan sosial dan kemanusiaan. Bahkan, saat Rebecca masih di Bali ia aktif di kampusnya memberi penyuluhan seputar bahaya HIV/AIDS kepada anak muda. Dia giat melayani, karena terinspirasi dari tokoh legendaris Bunda Teresa.

                Rebecca yang fasih berbahasa asing dan peduli membantu anak-anak yang kurang mampu untuk membaca dan kursus Bahasa Inggris ini menerangkan, pesan Natal bukan hanya sekadar bicara pohon Natal, baju baru, kue-kue atau hadiah-hadiah Natal. “Tapi saat mendengar lagu-lagu Natal saya merasa ada pesan kasih dari Tuhan untuk kita agar kasih itu kita sebarkan kepada sesama. Lagu-lagu Natal yang bergema itu menambah semangat saya untuk merayakan Natal,” ujar Rebecca yang juga “Duta Yayasan Apostel Bangun Bangsa (ABB).”

                Natal, kata Rebecca, sesungguhnya berbicara soal pengorbanan Tuhan Yesus Kristus yang lahir di kandang domba, di tempat yang sangat sederhana. “Karena Yesus lahir di tengah kesederhanaan dan peduli pada orang-orang kecil yang kurang beruntung, maka kasihNya itu pun saat merayakan Natal harus kita bagikan pada orang-orang yang kurang beruntung,” ujar Rebecca.

                Rebecca yang saat berbincang-bincang didampingi pembimbing rohaninya yang juga salah satu Penasihat NARWASTU dan Ketua Yayasan ABB, Pdt. DR. Sarah Fifi, S.Th, M.Psi menuturkan, pada akhir tahun 2016 ini mereka akan mengadakan Rally Natal ke daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Acara ini akan diadakan pada 14-19 Desember 2016, dan akan mengunjungi desa Jatisrono, Pandean, Solo, Klaten, Yoyakarta dan Semarang. Sejumlah desa-desa terpencil pun akan dikunjungi Tim Yayasan ABB yang mengadakan Rally Natal ini.

                Pdt. Sarah Fifi yang selama ini dikenal giat melayani di sejumlah pedesaan, daerah pedalaman, penjara-penjara (lembaga pemasyarakatan) dan daerah bencana alam  menambahkan, selain dalam Rally Natal ini Tim Yayasan ABB memberikan bingkisan kasih kepada warga gereja yang dikunjungi di gereja-gereja kecil, juga akan diberikan penguatan rohani lewat ibadah penyegaran iman kepada jemaat yang dikunjungi. “Soal bingkisan kasih misalnya, akan kita berikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Bisa saja makanan atau kue-kue Natal dibagikan buat anak-anak, atau bisa saja membantu perbaikan jalan di lingkungan mereka atau perbaikan tempat ibadah di tempat mereka,” ujarnya bijaksana.

                Bahkan, yang menarik kata Pdt. Sarah Fifi, mereka memberikan angpao atau uang Natal kepada anaka-anak, agar mereka senang. “Karena di daerah Jawa, kan, biasa anak-anak mendapat uang Lebaran, nah kita juga bisa memberikan uang Natal buat mereka. Kalau mereka dapat uang lembaran baru, mereka sangat senang,” paparnya. Sedangkan tema Natal Yayasan ABB pada tahun 2016 ini adalah “Buah Iman Bagi Bangsa.” Buah iman itu berarti: perhatian, kasih, dan kepedulian.

                Menurut Pdt. Sarah Fifi, kita umat Tuhan harus bisa dipakai menjadi saluran berkatNya. “Kita harus bisa menginspirasi untuk menjadi alatNya. Seperti Rebecca ini, kalau dia melayani ke pedalaman Papua atau Nusa Tenggara Timur (NTT), karena ia punya panggilan melayani. Dan ia tak sungkan-sungkan membersihkan ingus dari anak kecil yang ditemuinya dengan tisu, karena ia punya kasih, apalagi ia calon dokter. Kalau Rebecca melihat orang-orang kecil yang kurang beruntung, ada belas kasihan dalam hatinya untuk berbuat sesuatu,” ujar Pdt. Sarah Fifi.

                Rebecca menambahkan, banyak di sekitar kita orang-orang yang kurang beruntung, sehingga mereka butuh perhatian. Makanya Rebecca pun ingin mengajak anak-anak muda Kristen, terutama yang ada di perkotaan agar bisa memberikan hati dan waktunya untuk ikut melayani orang-orang yang kurang beruntung. “Selama ini ada orang yang lebih suka pesta pora saat merayakan Natal, dan sebenarnya lebih bagus kalau momen Natal dipakai untuk melayani sesama yang kurang beruntung. Karena di situ ada kebahagiaan, dan nama Tuhan dimuliakan,” paparnya.

                Jadi, kata Pdt. Sarah Fifi, kalau tiba Natal sebaiknya kita menabur kasih kepada orang-orang yang kurang beruntung. “Baik yang ada di pedalaman, pedesaan atau penjara-penjara. Kalau kita menabur kasih, maka kita akan menuai damai,” ujar Pdt. Sarah Fifi, konselor masalah keluarga yang termasuk dalam “20 Tokoh Kristiani 2008 Pilihan Majalah NARWASTU.”

 

Di Tahun Baru 2017 Kita Harus Sertakan Tuhan dalam Hidup

                Berbicara soal Tahun Baru 2017 yang akan dihadapi pasca merayakan Natal 2016, Rebecca menerangkan, ia ingin di Tahun Baru 2016 dirinya semakin bertumbuh secara rohani agar imannya semakin teguh. “Kalau iman kita semakin teguh, maka kita akan bisa terus meneladani Yesus. Yesus itu bisa memberikan dampak atau pengaruh yang luar biasa kepada sesama, dan itu mesti kita tiru. Kalau sepanjang tahun 2016 ini ada banyak bencana alam kita lihat, juga ada masalah kehidupan, maka dalam menjalani Tahun Baru 2016 kita harus berjalan bersama Yesus. Berjalan bersama Yesus, maka kita akan disertaiNya,” paparnya.

                Masalah kehidupan, kata Rebecca, harus kita hadapi, dan itu akan membuat kita semakin berserah kepada Tuhan, semakin bijaksana dan semakin dewasa. “Kalau saya merasakan kegelisahan atau kekhawatiran hidup, maka saya akan mencari Tuhan lewat doa dan membaca Firman Tuhan. Kalau kita mencari Tuhan, maka pasti akan ada jalan keluar. Kita harus yakin bahwa Tuhan kita lebih besar dari masalah yang kita hadapi. Yakinilah bahwa Tuhan selalu bekerja di dalam kehidupan kita,” cetusnya.

                Tuhan itu, kata Rebecca, adalah tempat kita mencurahkan isi hati lewat doa-doa yang kita panjatkan. “Tuhan Yesus satu-satunya pengharapan kita. Saat saya membaca renungan ada ayat yang membuat saya semakin diteguhkan secara iman, bunyinya: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Dia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Ketika itu saya baca, rasanya tidak ada yang kebetulan,” ujarnya.

                Ketika kita berada di pengujung tahun 2016, kata Rebecca, Tuhan selalu punya cara baru agar kita selalu merasakan kehadiranNya di dalam hidup kita. “Jalan Tuhan sulit diselami, dan sering penuh dengan surprise, dan tak pernah bisa terpikirkan, namun selalu baik bagi kita. Jalan Tuhan dengan jalan manusia sangat jauh berbeda. Kita sering diproses Tuhan dengan berbagai masalah agar kita semakin dekat kepada Dia. Namun asal kita taat dan setia, maka setelah diproses Tuhan, yang awalnya pahit akan berakhir dengan manis,” ujar Rebecca.

                Sedangkan drg. Ella Karmila, ibunda Rebecca menerangkan, sebagai orangtua mereka mendidik Rebecca agar mandiri dan punya bekal di dalam menjalani kehidupan. Kalau Rebecca kini dipercaya juga mengelola sebuah kafe atau restoran setelah dia pulang kuliah, katanya, tujuannya agar dia merasakan bagaimana sulitnya mencari nafkah, sehingga ketika ia sudah punya penghasilan sendiri, maka ia akan semakin mandiri dan dewasa.

                Dari kecil, kata drg. Ella, memang Rebecca selalu mereka ajak untuk ikut pelayanan. Dan ternyata panggilan pelayanan dari kedua orangtuanya tertular kepada dia. Sehingga kalau Rebecca melayani, maka dia harus memberi. “Kalau Rebecca sudah punya penghasilan sendiri saat melayani, kan, sangat bagus. Kita berharap anak-anak muda lainnya bisa ikut terbeban untuk peduli kepada sesama. Sekecil apapun yang kita berikan itu, asal bermanfaat, pasti itu bernilai,” papar drg. Ella bijaksana yang sering juga melayani.

 

                Rebecca termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan NARWASTU”, karena majalah ini menilai, ia figur anak muda yang giat melayani, cerdas dan punya kepedulian terhadap sesama. Meskipun ia hidup bersama keluarga yang bahagia dan nyaman di ibukota Jakarta, namun ia punya kepedulian tinggi untuk memberikan perhatian terhadap orang-orang yang kurang beruntung di pedalaman dan pedesaan. Bahkan, ia menunjukkan pedulian yang tinggi terhadap kaum muda agar peduli mencegah bahaya HIV/AIDS. Ia figur anak muda yang religius, cerdas dan nasionalis. TK    

Berita Terkait