Sostenis Sampeliling
Orang Kristen dalam Kepemimpinan Harus PKB

4346 dibaca
Dr. Ir. Sostenis Sampeliling, M.Si., M.Th., Ph.D. SC.

Dobrak dan Bangun Sistem

Sepak terjang Ir. Basuki T. Purnama, M.M. atau akrab disapa Ahok sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta mengundang sorotan masyarakat Indonesia. Figur pemimpin yang memiliki keberanian untuk tidak kompromi terhadap ketidakbenaran itu sangat lekat dijuluki sebagai tukang marah-marah. 

Mengenai karakternya tersebut menuai pandangan pro dan kontra dari para khalayak. Sebagai seorang pengikut Yesus bisa jadi karakter Ahok tersebut, bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. “Secara tindak tanduk Ahok punya integritas yang tinggi dan kejujuran serta bisa memimpin membangun moral bangsa ini. Secara kualitas Ahok itu tegas dan berani. Hanya saja sebagai orang Kristen ia harus bisa memberikan bahasa-bahasa yang Alkitabiah,” kata Dr. Ir. Sostenis Sampeliling, M.Si., M.Th., Ph.D. SC., yang juga bergerak dalam bidang Spiritual Counseling dan lingkungan/sekuler membuka percakapannya dengan Majalah NARWASTU di kantornya di Jakarta, baru-baru ini.

Sostenis memang bukan KTP DKI Jakarta, tapi ia adalah salah satu warga masyarakat yang hari-harinya bekerja di Jakarta dan mengamati sepak terjang para abdi negara, tak terkecuali Ahok. Bagi ayah 3 anak ini, mengatakan bahwa figur Ahok sangatlah cocok memimpin DKI Jakarta.  “Selama 14 tahun saya amati kondisi DKI Jakarta itu memang membutuhkan sosok pemimpin yang tegas dan berani. Nah, Ahok berani melawan kejahatan atau ketidakbenaran, tidak mungkin ada perubahan dan kemajuan kalau kondisi tersebut dibiarkan terus, dan saya pribadi sangat senang bangkit sosok figur seperti ini menyatakan kebenara-Nya,” kata cendekiawan asal Toraja ini.

Tidak hanya karakter yang berani dan tegas, secara sistem pun yang telah dibangun bertahun-tahun mengalami banyak perubahan di tangan kepemimpinan pria berdarah Bangka Belitung itu, yakni mengedepankan transparansi. Sehingga hasil dari tangan dinginnya tersebut dapat meminimalis dan memberantas pejabat atau oknum bermental korup. Menurut doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2012 itu, memang dibutuhkan orang baru dengan visi dan misi yang baru juga. Sebab jika orang lama belum tentu dapat merubah sebuah sistem yang telah terbangun bertahun-tahun.

Melalui kemajuan teknologi informasi, Ahok membuat terobosan dalam hal kinerja, di mana publik bisa melihat secara online/langsung melalui You Tube setiap rapat kerja yang dilakukan oleh Pemprov (pemerintah provinsi) DKI Jakarta. Sehingga masyarakat bisa ikut mengontrol setiap kinerja dan kebijakan Pemprov DKI. Ironisnya, tidak semua keterbukaan yang diterapkan Ahok disambut dengan sukacita. Terlebih, bagi setiap oknum yang merasa “obyekannya” jadi sepi akibat kebijakan yang dibuat oleh Ahok.

Padahal, dengan keterbukaan tersebut justru membawa angin segar dan contoh bagi para pemimpin daerah lain. “Metode kepemimpinan Ahok di DKI Jakarta sudah barang tentu bisa menjadi role model bagi pemimpin daerah lain. Ahok mencoba menjawab kebutuhan masyarakat dengan cara mendatangi dan apa yang menjadi masalah pokok mereka. Sehingga tepat pada sasarannya,” jelas Koordinator Bidang Pertanian dan Lingkungan di  Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) itu.

Di samping Ahok, masih ada beberapa pemimpin daerah yang juga tak kalah bagusnya, dan terbilang masih muda. Sebut saja seperti Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Risma (Wali Kota Surabaya) dan pemimpin muda lainnya, yang menurut Sostenis, membawa angin segar berupa perubahan demi kemajuan bagi bangsa ini.

Calon Independen

Pemilihan kepala daerah khusus DKI Jakarta yang akan dilaksanakan pada 2017 gaungnya telah terdengar dari sekarang. Ahok rencananya akan mengikuti bursa pencalonan “DKI 1” yang bukan berasal dari partai politik alias calon independen. Tentu jika pada pemilihan nanti Ahok berhasil terpilih, maka bisa dikatakan, ia membuat sebuah terobosan besar dalam dunia politik Indonesia.

Sostenis yang pada tahun 2015 lalu pernah juga mengikuti bursa pemilihan kepala daerah untuk posisi bupati di Tana Toraja memiliki kisah cukup memilukan. Menurut survei independen, alumnus STT SUNERGEO dan “IKAT” Jakarta, ini menduduki elektabilitas yang cukup tinggi melalui partai pengusungnya. Tetapi, terganjal akibat dirinya harus menyediakan sejumlah biaya kepada partai tertentu tersebut. “Terpaksa saya mengundurkan diri atau terseleksi di partai. Padahal, berdasarkan undang-undang tidak ada mahar politik dan pendanaan bakal calon pun sudah diatur dalam undang-undang tersebut,” tukas Sostenis.                

Oleh karena itu, bagi Sostenis, langkah Ahok untuk memilih jalur independen tentu saja harus disambut baik dan menginspirasi para anak bangsa yang berkompeten dan integritas teruji untuk maju sebagai pemimpin demi kemakmuran negeri ini. “Bahwa partai politik itu baik, di mana orang-orang yang berkumpul di situ dengan daya, tenaga dan pikirannya untuk membangun bangsanya. Oleh karena itu, jangan terjadi ‘penyelewengan’ visi dan misi sehingga parpol seolah-olah seperti “korporasi”, seperti ada istilah: Tidak ada orang yang makan siang gratis,” cetusnya.

 

Lelang Jabatan

Gagal atau sukses tertunda menjadi bupati bukan akhir segalanya bagi Sostenis Sampeliling. Kini, pria yang tercatat sebagai pegawai negeri di Litbang Kementerian Pertanian RI itu tengah mengikuti bursa lelang jabatan untuk posisi cukup penting (esalon II). Melalui tahapan ujian seleksi, bersyukur dapat dilalui dengan baik/lulus, namun keputusan akhir terpilih untuk jabatan tententu ada di pansel dan menteri. Baginya, kesempatan ini baru diterapkan pada era Jokowi. Maka, sudah barang tentu hal ini tidak disia-siakannya. “Bersyukur selama 27 tahun betugas di daerah dan pusat Kementerian Pertanian baru kali ini ada lelang jabatan, dan dibuka untuk umum bagi anak bangsa yang berkompeten di bidangnya. Dan saya masuk ke tahap terakhir/wawancara dari tiga tahapan tes yang dilaksanakan,” ungkap Sostenis.

Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi untuk posisi di bawah menteri yang diikutinya selain kompetensi, ada pula tes kesehatan jiwa, rohani, bebas dari narkoba serta pelaporan harta kekayaan kepada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Menurut pendapatnya, tes dan pra-syarat yang ditetapkannya itu dianggap penting/sangat baik mengingat dalam kepemimpinan satu konstitusi harus sehat jasmani dan rohani.  “Jadi saya bersyukur dalam pemerintahan Jokowi jadi pejabat negara itu harus clear dari segalanya termasuk tindakan amoral,” katanya.

Sostenis menyakini sebagai orang Kristen duduk di pucuk pimpinan tak hanya dibutuhkan kecakapan dalam skill, tapi menjadi PKB yaitu “Pemimpin Kristen Bijaksana.” “Artinya, harus berani membangun nilai-nilai kejujuran, integritas, kredibilitas dan kepedulian, sehingga kita tidak mudah dibeli dengan uang dan kepentingan subjektif,” tegas dosen STT Sunergeo ini. Dengan begitu kita akan dapat menjalani hidup ini nyaman, tenang dan aman, serta Tuhan yang dipermuliakan. BTY

Berita Terkait