Ketua DPW Partai PERINDO DKI Jakarta, Drs. Sahrianta Tarigan, M.A.
Partai PERINDO Peduli dan Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat

751 dibaca
Drs. Sahrianta Tarigan, M.A. Nasionalis, religius dan humanis.

BERITANARWASTU.COM. Selama dua periode (2004-2014) pria asal Batak Karo yang dikenal nasionalis, religius, humanis dan tangguh ini dipercaya sebagai anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Damai Sejahtera (PDS). Ketika ia  menjabat sebagai anggota DPRD DKI Jakarta pula namanya semakin diperhitungkan di kalangan politisi dan tokoh-tokoh nasionalis, karena ia cukup merakyat dan berprestasi. Ia pernah dipercaya sebagai Sekretaris Umum Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta Utara (PERSITARA), Ketua Pengda PBSI DKI Jakarta dan Ketua Dewan Pembina Forum Peduli Masyarakat Kecil (FPMK) DKI Jakarta dan Wakil Ketua Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta.

Tak hanya itu, mantan Ketua DPW PDS DKI Jakarta dan mantan Ketua Dewan Pembina DPP Himpunan Muda Damai Sejahtera (HAMDAS) ini pernah pula dipercaya sebagai Penasihat Fraksi Handas dan Sekretaris Komisi E yang membidangi Pendidikan dan Agama di DPRD DKI Jakarta. Pada akhir 2007 lalu, ia termasuk dalam “20 Tokoh Kristiani 2007 Pilihan Majalah NARWASTU” dan pada 2008 ia terpilih sebagai “Tokoh Muda Asal Sumatera Utara Terpopuler 2008 Pilihan Majalah Dalihan Na Tolu.”

Penghargaan yang diterima Sahrianta Tarigan (ST), yang kerap dipanggil Bang ST, tak hanya itu. Pada akhir 2010 lalu, ia termasuk dalam jajaran tokoh muda berpengaruh pilihan Barisan Muda Insan Muda (BIMA), yang kala itu memilih “Tokoh Muda Nasionalis Berpengaruh 2010.” Dan saat itu nama ST dipilih bersama sejumlah tokoh muda nasionalis, seperti Puan Maharani, Muhaimin Iskandar, Saefullah Yusuf, Maruarar Sirait, Effendy Simbolon dan Yuddhy Chrisnandi. Ketua Dewan Pembina BIMA adalah tokoh nasional dan mantan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI (Purn.) Tyasno Sudarto.

Banyaknya penghargaan itu, tentu tak didapatnya secara instant. Soalnya, sejak mahasiswa Bang ST sudah dikenal sosok yang ulet, tangguh dan tak kenal menyerah. Dan ketika masih muda ia pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Pemuda Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) DKI Jakarta dan Wakil Sekretaris BPC GMNI DKI Jakarta. Selain itu, namanya pernah disebut-sebut sebagai bakal calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, calon Gubernur Sumut, calon Wali Kota Medan dan calon Bupati Tanah Karo. Soalnya ia dinilai punya pengalaman berpolitik dan mampu melayani rakyat.

Kini Sahrianta Tarigan sekalipun tidak menjadi wakil rakyat di DKI Jakarta, ia pernah menorehkan sejarah sebagai anggota dewan yang peduli pada kesejahteraan rakyat. Selain banyak membantu warga kurang mampu di bidang pendidikan, olahraga dan kesejahteraan, ia sering pula membantu gereja-gereja untuk mendapatkan IMB. Menurutnya, ada sekitar 50-an IMB tempat ibadah umat Kristen yang sudah diperjuangkannya dan didapat di masa kepemimpinan Dr. Ing. H. Fauzi Bowo sebagai Gubernur DKI Jakarta.

 

Drs. Sahrianta Tarigan, M.A. dalam sebuah acara bersama Ketua Umum Partai PERINDO, Harry Tanoesoedibjo. 

 

Kini Bang ST bersama Partai PERINDO terus berjuang dan menunjukkan kepedulian kepada warga DKI Jakarta, terutama yang kurang mampu. Dia masuk ke Partai PERINDO awalnya melalui ormas PERINDO sebagai bendahara, kemudian ormas itu muncul sebagai Partai PERINDO. Bersama Ketua Umum DPP Partai PERINDO, Harry Tanoesoedibjo, ia ingin menunjukkan bahwa partai parpol baru ini peduli rakyat dan berjuang untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Menurut Sahrianta, kalau sekarang ia dipercaya sebagai Ketua DPW Partai PERINDO DKI Jakarta, itu semata-mata karena anugerah Tuhan. “Karena saya tak pernah mengajukan diri. Saya pun dulu tak kenal dekat dengan Pak HT (Harry Tanoesoedibjo), tapi di situ Tuhan campur tangan. Sehingga saat saya tidak menjadi anggota DPRD DKI Jakarta lagi, saya bisa terus berkarya dan melayani warga DKI Jakarta yang kurang beruntung lewat Partai PERINDO. Misalnya, kita bantu korban kebakaran, korban banjir dan pedagang-pedagang kecil dengan memberikan gerobak. Itu sangat penting untuk mensejahterakan rakyat. Serta kita berikan pendidikan politik pada rakyat agar tahu hak dan kewajibannya di negeri ini,” ujar ST yang gemar blusukan itu.

Dalam pandangan Sahrianta, Harry Tanoesoedibjo adalah tokoh nasionalis yang peduli untuk membangun bangsa ini lewat jaringan bisnisnya. “Sejak saya sering bertemu dan banyak bicara dengan Pak HT, saya lihat imannya teguh sebagai orang Kristen, punya prinsip, punya semangat juang tinggi dan konsisten dalam membangun parpol yang peduli melayani rakyat. Kalau program pemerintah prorakyat, maka dia dukung penuh. Dengan memberikan sumbangan gerobak kepada pedagang-pedagang kecil sesungguhnya idenya itu luar biasa untuk membantu pemerintah. Lewat pedagang kecil diharapkan ada pajak buat negara. Dan kalau jumlah pedagang itu ribuan dan bayar pajak, kan, sangat besar jumlah uangnya. Misalnya kalau pedagang bakso yang punya gerobak membayar pajak ke pemerintah, itu luar biasa,” terang mantan Ketua DPD Laskar Dewa Ruci DKI Jakarta ini.

HT, katanya, juga seorang yang berani, dan sahabatnya pun bukan orang sembarang, seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump. “Seorang pengusaha seperti Pak HT itu langka. Dia membangun bisnisnya dengan berani, kerja keras, ulet dan percaya diri, sehingga bisa sekarang sukses. “Saat keadaan ekonomi Indonesia tidak kondusif pada 1998 lalu, dia berani merambah bisnis dan mendatangi sejumlah negara untuk membangun bisnisnya. Saat itu dia melihat peluang bisnis terbuka. Dia mengelola supermarket, hotel dan TV hingga sukses. Dia punya empat TV nasional, 65 TV lokal dan punya satelit sendiri. Itu luar biasa pertolongan Tuhan kepadanya. Saya banyak belajar dari Pak HT,” pungkas Sahrianta.

Menurut Sahrianta, sejak selesai masa jabatannya di DPRD DKI Jakarta ia sempat jenuh berpolitik, dan tadinya ingin kembali mengurusi bisnisnya. Namun saat masuk ke PERINDO semangatnya bangkit lagi untuk melayani rakyat. “Untuk masuk ke lingkaran Pak HT tidak gampang. Karena semua orang yang masuk ke lingkaran terdekatnya ternyata track record-nya ditelusuri dulu. Dan harus orang-orang berintegritas dan berkarakter yang bisa masuk di lingkarannya. Karena beliau menghargai integritas dan karakter seseorang,” terangnya.

Sahrianta Tarigan menerangkan, sesungguhnya banyak orang atau tokoh berpengaruh yang ingin menjadi Ketua DPW Partai PERINDO DKI Jakarta, namun lagi-lagi Sahrianta merasa ia dipercaya, dan ia imani ada tangan Tuhan yang menempatkannya untuk menempati jabatan strategis itu. “Sekali lagi, saya bersyukur bisa berada di Partai PERINDO bersama Pak HT, karena dia visioner, konsisten dan banyak pemikirannya yang cerdas untuk membangun bangsa ini agar lebih baik dan sejahtera. Saat administrasi Partai PERINDO DKI Jakarta baru-baru ini dinyatakan yang terbaik dari semua DPW seluruh Indonesia, Pak HT terbuka mengumumkannya. Itu karena ia menghargai yang mau kerja keras,” ujar mantan salah satu Ketua KKSU (Kerukunan Keluarga Sumatera Utara) ini.

Berbicara soal Pilkada DKI Jakarta 2017 yang sudah berlangsung, dan saat itu Partai PERINDO DKI Jakarta mendukung pasangan nomor 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Sahrianta Tarigan menerangkan, ia harus loyal terhadap keputusan partainya yang mendukung pasangan nomor 3. “Sebagai seorang yang beriman kepada Tuhan Yesus, saya meyakini bahwa semua pemimpin itu dipilih atau diizinkan Tuhan untuk muncul. Dan kita harus hargai demokrasi yang sudah berlangsung dengan segala kekurangan dan kelebihannya di DKI Jakarta. Kalau Ahok belum terpilih, pasti ada rencana Tuhan yang lebih baik buat dia. Dan mari kita berikan kesempatan buat Anies-Sandi untuk memimpin DKI Jakarta,” ujarnya bijaksana.

Sahrianta Tarigan menerangkan, sebelum ia mendukung pasangan Anies-Sandi, ia banyak berbicara dengan sejumlah tokoh, termasuk yang dekat ke Ahok untuk meminta pandangan. “Dan saya berani mendukung pasangan Anies-Sandi setelah melalui sebuah pergumulan juga. Dan sekarang kita harus kawal pasangan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru ini agar bisa mensejahterakan masyarakat DKI Jakarta sesuai dengan kontrak politik yang sudah mereka buat. Saya yakin mereka nasionalis, menghargai Bhinneka Tunggal Ika dan punya gagasan untuk menjadikan DKI Jakarta agar lebih baik,” tukas Sahrianta Tarigan yang termasuk dalam daftar “100 Tokoh Karo” yang sudah dibukukan itu.

“Saya 10 tahun menjadi anggota DPRD DKI Jakarta, dan saya berkawan dengan teman-teman di PKS, saya melihat tak ada pemikiran mereka untuk membuat Perda Syariah, apalagi ini, kan, ibukota negara. Kalau kita ingin membuat perubahan di sebuah daerah atau ingin mensejahterakan rakyat, maka kita harus mau masuk ke dalam sistem untuk membicarakan atau membahas segala sesuatu kebijakan yang akan diputuskan bagi rakyat. Yang penting mari kita berdoa dan mendukung pemimpin DKI Jakarta agar mereka bisa memimpin dengan baik dan bijaksana,” paparnya.

 

Drs. Sahrianta Tarigan, M.A. saat hadir di acara FORKOM NARWASTU.

 

Selalu Bersyukur dan Meminta Pertolongan Kepada Tuhan

Dalam kiprah politiknya selama ini, ternyata Sahrianta Tarigan pernah pula mengalami pengalaman menggetirkan alias pergumulan berat, yang ikut dirasakan keluarganya. Pada 2007 lalu, ketika menjabat sebagai anggota DPRD DKI Jakarta keluarganya pernah menjadi korban perampokan. Kala itu, ada 12 orang di rumahnya yang diikat perampok, termasuk 3 asisten rumah tangga. “Persis seperti yang terjadi di Pulomas, Jakarta Timur, pada Desember 2016 lalu. Namun kami bersyukur tak ada yang dibunuh. Semua barang berharga dari rumah dibobol perampok, termasuk sebuah mobil Kijang dibawa kabur oleh perampok,” terangnya.

Waktu itu, tukasnya, hampir Rp 1 miliar kerugian mereka akibat perampokan yang terjadi di siang bolong itu. “Saya sebagai seorang Kristen hanya berpikir, bahwa kita harus tetap bersyukur sekalipun ada pengalaman pahit saat itu dialami keluarga saya. Lalu saya menghadap ke Pak Ruyandi Hutasoit (saat itu: Ketua Umum DPP PDS). Saya minta Pak Ruyandi agar berdoa di rumah saya dan mengucap syukur, karena kami baru dirampok. Pak Ruyandi sempat terdiam mendengar permintaan saya, namun akhirnya sebuah ibadah pengucapan syukur kami adakan,” terangnya.

“Ketika itu hadir Pak Ruyandi, Pak Constant Ponggawa (anggota DPR-RI), Pak Bonar Simangunsong dan Ibu Tiurlan Sitompul serta teman-teman di PDS. Meskipun kami mengalami hal yang tidak enak, namun kita mesti tetap mengucap syukur, karena itulah ajaran Tuhan Yesus. Yang unik, saat acara ibadah syukur itu selesai ada saja cara Tuhan menolong kami. Ada dua kenalan yang memberi dua mobil kepada kami, yakni Avanza dan Innova. Itu luar biasa cara Tuhan menolong keluarga kami. Sehingga kalau ada masalah hidup yang kita hadapi, jangan bersungut-sungut atau menyalahkan Tuhan. Tetap bersyukur, dan tunggu kebaikan dan campur tangan Tuhan,” ujarnya bersaksi.

Pengalaman kedua yang selama ini sempat mengganggu ketenangan keluarganya adalah kasus atau perkara korupsi di Pemprov DKI Jakarta yang melibatkan sejumlah anggota dewan, yang sempat heboh. Pada awal 2015 lalu, sejumlah anggota dewan terseret kasus korupsi UPS, sebuah proyek pendidikan di DKI Jakarta yang anggarannya mencapai Rp 600 miliar. “Ketika itu nama saya diseret-seret dan diberitakan media. Saya stres juga saat itu. Apalagi keluarga saya terganggu. Waktu muncul pemberitaannya yang sangat heboh di berbagai media, keluarga di Medan, Langkat dan Binjai pun jadi bertanya-tanya, apakah Sahrianta terlibat dalam kasus korupsi ratusan miliar itu,” paparnya.

“Karena saya memang tidak terlibat dalam kasus itu, tidak menerima uang dari proyek itu, dan saya tidak ikut menandatangani proyek itu, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan Yesus agar saya ditolong serta dijauhkan dari yang jahat dan keluarga kami diberikan iman teguh. Saya hanya minta pertolongan Tuhan. Saya berulangkali dipanggil Bareskrim Polri untuk meminta keterangan, termasuk ikut di dalam persidangan. Saya pun sempat merasa waswas, apa tanggapan Pak HT tentang kasus yang heboh itu, karena saya Ketua DPW Partai PERINDO DKI Jakarta,” tuturnya.

Lantaran Sahrianta Tarigan kala itu yakin bahwa ia tak terlibat dalam kasus korupsi UPS, ia pun menghadapi kasus itu dengan tekun berdoa dan membaca Firman Tuhan serta meminta dukungan doa dari banyak Hamba Tuhan agar Dia menyatakan pertolonganNya. “Yang bikin saya pusing adalah pemberitaan media, karena ratusan miliar anggarannya, dan waktu itu saya memang Sekretaris Komisi E (Pendidikan dan Agama) dipertanyakan, apa memang tak kecipratan duit. Saya tegas menjawab, saya bersih dan tidak dapat apa-apa dari situ. Karena saya tak ada tanda tangan,” tegasnya.

“Dalam doa saya ketika itu, saya katakan kepada Tuhan, kalau saya memang salah, saya siap menerima sanksi. Namun karena saya tidak terlibat dalam kasus itu, tolong agar Tuhan memulihkan nama baik saya. Saya patuh kepada undang-undang dan saya tidak mungkin menjerumuskan diri karena kasus tersebut, apalagi saya punya keluarga yang harus saya jaga nama baiknya. Dan saya tidak mau mencuri kemuliaan Tuhan. Saya memang bukan orang suci, tapi kalau saya tidak salah, maka mata Tuhan akan terus mengikuti langkah saya. Dan orang benar pasti ditolongNya,” terangnya.

“Puji Tuhan, kasus UPS sudah selesai, dan saya jelas dinyatakan tidak terlibat di dalam kasus itu. Bagi keluarga kami, itu sebuah ujian kehidupan. Dalam politik memang bisa saja ada badai, namun saya percaya kalau kita berserah dan berdoa kepada Tuhan Yesus pasti Dia memimpin langkah kita dan menolong kita. Kita harus berserah kepada Dia, dan tetaplah bersyukur kepada Tuhan. Dalam hidup ini, saya berprinsip, kalau kita menolong orang-orang miskin atau orang tak mampu, itu sesungguhnya berbuat bagi Tuhan. Dan itu sampai sekarang saya lakukan. Kalau kita memperhatikan orang-orang miskin, maka Tuhan juga akan memperhatikan kita,” paparnya. KT

Berita Terkait