Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, M.Th, M.A. Pendeta dari Sinode GBI yang Telah Berkhotbah Sejak Usia 16 Tahun

2606 dibaca
Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, M.Th, M.A. Cerdas berkhotbah.

Beritanarwastu.com. Kemampuan membawakan acara rohani, Nilai Kehidupan, yang di tahun-tahun silam ditayangkan di Trans TV sekali sebulan agaknya tak perlu diragukan lagi. Meskipun ia tak pernah belajar khusus soal ilmu penyiaran (jurnalistik) televisi, namun ia mampu membuat acara Nilai Kehidupan bertahan di Trans TV sejak 2003 lalu. Dan kini acara “Nilai Kehidupan” dan “Pelita Hati” ditayangkan di Life TV Channel 70 Indovision. Ketua STT Kharisma, Bandung, ini menuturkan, tadinya ia tak pernah berpikir untuk membawakan sebuah acara rohani di televisi. Tapi, setelah ada tawaran, ia bersedia tampil di media audiovisual itu.

             “Saya melihat televisi cukup efektif untuk menyampaikan kabar suka cita yang dari Yesus Kristus pada semua umat. Lewat televisi kita bisa memuliakan nama Tuhan,” ujar Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, M.Th, M.A. yang sudah berkhotbah di gereja sejak umur 16 tahun dalam sebuah kesempatan kepada majalah ini di Bandung. Panggilan suami tercinta Pdt. Lenawati Tanudjaja sebagai hamba Tuhan agaknya tak lepas dari didikan sang ayah, Pdt. Yulius Ishak, salah satu tokoh di Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI).

               Menurut Pdt. Rubin yang lahir di Surabaya, 14 Juni 1964, ia sudah terbiasa berbicara di tengah jemaat sejak muda, termasuk berkhotbah. “Makanya saat tampil di depan kamera televisi, paling yang saya persiapkan adalah tata bahasa, dan banyak membaca,” kata ayah tiga anak, Jessica, Jovita dan Joy itu. Sekarang Pdt. Rubin, begitu ia akrab disapa, aktif pula menggembalakan jemaat GBI di Bandung. Selain itu, ia dosen homiletika (ilmu berkhotbah) di STT Kharisma.

   Pdt. Rubin yang pernah pula tampil di acara rohani di RCTI, Anteve dan Lativi mengatakan, acaranya yang dulu tayang di Trans TV dinamai Nilai Kehidupan, karena bersifat universal. “Kalau nama acaranya langsung membawa nama bernuansa Kristen, nanti yang nonton hanya orang Kristen. Makanya agar bisa ditonton semua kalangan namanya dibuat Nilai Kehidupan,” ujar lulusan S1 dari ITKI, Jakarta, S2 dari UKI, Jakarta, dan Institut Alkitab Tiranus, Bandung, serta S3 dari Sekolah Teologi Injili Indonesia, Yogyakarta, itu.

Saat ini Pdt. Rubin dipercaya sebagai salah satu Ketua Badan Pekerja Harian (BPH) Sinode GBI. Di organisasi gereja aras nasional, PGLII (Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia) ketika dipimpin Pdt. DR. Bambang Widjaya, ia juga pernah dipercaya sebagai salah satu pengurus. Sebagai hamba Tuhan yang punya jam terbang tinggi, dalam tiga tahun terakhir ini ia sudah melakukan kunjungan misi ke 34 provinsi di Indonesia bersama Pelayanan Misi Berkat (PMB) Jakarta. Selain itu, ia sering melayani untuk acara kebaktian kebangunan rohani (KKR) dan seminar di luar negeri, baik kawasan Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Istri dan anak-anaknya juga giat melayani.

Selama ini, Pdt. Rubin pun aktif menulis renungan di berbagai media Kristiani, termasuk majalah ini. Salah satu tulisannya yang cukup menarik adalah berjudul “Pengharapan dalam Kesesakan (Ratapan 3:19-26).” Ditulisnya, Kitab Ratapan (atau dalam terjemahan lama disebut Nudub Yeremia) adalah sebuah buku yang ditulis oleh Nabi Yeremia.  Dia adalah nabi yang menangis karena melihat murka Allah yang menimpa orang-orang Israel. Lima pasal dalam Ratapan ini semuanya mengisahkan tentang keluhan, kepiluan dan jeritan hati seorang nabi, karena melihat Yerusalem. Kota itu hancur akibat umat Allah tak lagi menghargai Tuhan. Namun, bagai oase di padang gurun, muncullah pasal tiga yang memberi pengharapan di tengah kesesakan.

Kita menyadari bahwa saat ini kita sedang hidup di tengah dunia yang penuh dengan tantangan. Ibarat sedang berada di padang gurun, stres, depresi, dan kekeringan kita alami. Tapi kalau kita mau berbalik kepada Allah, saya yakin selalu ada pengharapan dan kekuatan baru. Kita bisa tetap tegar di saat yang sukar. Kita bisa berpengharapan dalam kesesakan. Bagaimana caranya? Pertama, memperhatikan kasih setia Tuhan (19-20). Setiap kali Yeremia mengingat sengsaranya, jiwanya tertekan. Waktu kita memikirkan kemalangan kita, maka kita seperti orang yang makan racun maut yang mematikan, hati kita gundah gulana. Kalau orang memperhatikan dirinya sendiri, depresi akan dia alami. Tapi, begitu dia memandang kepada Allah, maka pengharapan itu akan muncul,” tulisnya.

Mudah saja untuk jadi orang yang tak bahagia. Pikirkanlah dirimu sendiri, pikirkanlah masalahmu, mengeluhlah tentang keadaanmu, maka Anda akan kehilangan damai sejahtera. Tapi, jika dengan cepat kita menyadari kekeliruan ini, lalu mulai memandang kepada Allah, di situ kekuatan Tuhan akan dilimpahkan kepada kita. Pandanglah Yesus pada masa yang sulit, maka kemurahan Allah belaka yang akan mengikuti kita. Pandanglah kepada Allah, lihat orang-orang lain yang membutuhkan pelayanan kita.

Perhatikan kasih setia Allah, maka kekuatan dalam kesulitan itu akan Tuhan berikan kepada kita. Kedua, Tuhan, harta yang terpenting (24). Ingatlah bahwa harta duniawi itu fana dan sementara. Mungkin hari ini kita memiliki semua harta dunia. Tak ada kekurangan sedikitpun dalam kehidupan kita. Ada saatnya bahwa kita tidak bisa memilikinya lagi, karena sifat harta yang sementara tadi. Tapi, kalau kita memiliki Allah, kita memiliki segalanya.  Harta dapat habis, rumah bisa terbakar, uang yang banyak bisa dirampok.  Jagalah iman kepada Allah dan jangan sampai hilang.  Jadikanlah Dia sebagai harta kita yang terpenting (bdk.  Mazmur 73:25-26).

Kalau kita mengalami kesulitan, jangan berhenti percaya kepada Allah. Kesulitan, secara positif membuat kita bergantung kepada Allah secara mutlak. Kadang-kadang Allah mengizinkan kesulitan itu datang, supaya kita berbalik kepada Dia. Ketiga, berharap kepada Tuhan (25). Untuk tetap bertahan di tengah kesesakan, milikilah pengharapan kepada Allah. Pengharapan artinya sikap positif di tengah keadaan sulit. Kita yakin bahwa Allah menyertai kita dan tak pernah meninggalkan kita. Dia akan selalu menolong kita. Sekalipun kita dalam lembah bayang maut, kita tidak takut bahaya karena penyertaanNya. Keyakinan akan penyertaan Tuhan menimbulkan pengharapan luar biasa dalam hidup kita.

Kalau hari-hari ini saudara menghadapi badai kehidupan, katakan dengan iman bahwa badai pasti berlalu.  Mungkin situasi buruk itu tak segera berlalu, tapi percayalah bahwa rencana Tuhan yang indah akan menyertai pengalaman itu. Ingatlah, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28).  Keempat, menantikan pertolongan Tuhan  (26). Waktu kita mengalami kesulitan, nantikanlah pertolongan Tuhan. Berdoalah dengan tekun dan sabar sampai Tuhan menolong kita.  Banyak waktu yang harus kita sediakan untuk diam di bawah kaki Tuhan,” tulisnya.

Berita Terkait