Pdt. Gomar Gultom-Pdt. Jacky Manuputty Terpilih Jadi Ketua Umum dan Sekum PGI Periode 2019-2024

43 dibaca
Suasana acara SR XVII PGI di Sumba, NTT.

Beritanarwastu.com Pdt. Gomar Gultom, M.Th (HKBP) dan Pdt. Jacky Manuputty (Gereja Protestan Maluku/GPM) akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekrwtaris Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) periode 2019-2024, di Sidang Raya XVII PGI yang berlangsung di Waingapu, Sumba Timur,  Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa 12 November 2019 lalu. Pemilihan berlangsung di GKS (Gereja Kristen Sumba) Payeti Cab. Pdt. Jacky sendiri terpilih secara aklamasi.

Sidang panitia nominasi dipimpin oleh Pdt. Musa Salusu dari Sinode Gereja Toraja. Proses pemilihan diawali dengan pengecekan daftar kehadiran peserta dalam kelompok tersebut. Ada 89 perwakilan sinode yang hadir. Wakil Sekretaris Umum terpilih Pdt. Krise A. Gosal dari Sinode GMIM. Sebelumnya sejumlah nama yang masuk sebagai calon Wasekum PGI, antara lain Pdt. Dr. Retnowati, Pdt. Retno Ratih, Pdt. Agus R.T. Damanik dan Pdt. Manuel E. Raintung, M.M.

Untuk posisi Wakil Bendahara PGI, Drs. Arie Moningka dari Sinode GKII. Sejumlah nama untuk posisi Wakil Bendahara PGI antara lain, dr. Alphinus R. Kambodji, Vera Simorangkir, S.E., Pdt. Adrie O. Massie dan Pdt. Norita Yudieth Tompah. Hasil MPH PGI ini nantinya akan dilaporkan kepada sidang pleno SR XVII PGI untuk disahkan menjadi keputusan sidang raya.

Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Thomas Penturi, M.Si, dalam sambutannya di penutupan Sidang Raya XVII PGI, di Gedung Pdt. Hapu Mbay, Waingapu, Sumba Timur, NTT, pada Rabu, 13 November 2019 lalu, mengatakan, MPH PGI periode 2019-2024 dalam tugasnya, khususnya mengimplementasikan Dokumen Keesaan Gereja (DKG) dalamkehidupan gereja di Indonesia dapat mengambil posisi sebagai mitra strategi/sinergi tapi juga mitra kritis bagi pemerintah.

Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Thomas menambahkan, tantangan baru bagi PGI dalam kehidupan bergereja, yaitu bagaimana menempatkan perspektif regulatif, yaitu menjadi perspektif baru bagi PGI, yaitu pemikiran-pemikiran terkait dengan regulasi yang mengatur kehidupan umat di Indonesia. “PGI tidak sebatas sebagai pemadam kebakaran saja dari proses yang terjadi di lingkungan, tapi PGI harus mengambil peran yang sama untuk memberi masukan-masukan penting untuk pengembangan regulasi tata gereja dan kehidupan gereja,” katanya. DF

Berita Terkait