Robi R. Repi, S.H., M.A., M.Th.
Pekerja Media Harus Pahami Jurnalisme Damai (Kabar Baik)

521 dibaca
Robi R. Repi, S.H., M.A., M.Th.

Beritanrawastu.com. Wartawan atau pekerja media Kristen mesti memahami pentingnya menerapkan jurnalisme damai atau jurnalisme kabar baik saat mempublikasikan sebuah berita. Karena ciri khas pemberitaan dari jurnalisme kabar baik atau jurnalisme damai adalah menyatakan kasih, dan tidak menebarkan ketakutan atau memperlebar konflik. Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat manusia adalah Allah yang selalu memberi damai sejahtera dan sukacita kepada umatNya, dan Dia tidak menebar ketakutan.

                Itulah yang disampaikan jurnalis senior di kalangan umat Kristen, Robi R. Repi, S.H., M.A., M.Th dalam sebuah diskusi terbatas bersama sejumlah pekerja media Kristen di Jakarta baru-baru ini. Menurut Direktur Penerbit Kalam Hidup dan mantan Ketua PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia) ini, sekarang  banyak orang yang ketakutan karena tekanan hidup dan karena kesulitan hidup. Sehingga media sebagai salah satu alat Tuhan untuk menebarkan kabar baik, jangan sampai menambah ketakutan umat dengan berita-berita yang menjurus kepada konflik, kebencian, permusuhan dan intimidasi.

                Karena sekarang pers begitu bebas, dan sering tidak mentaati etika atau kode etik pers, sering kebablasan di dalam pemberitaannya. Sering saat ini media massa, bahkan, ada media Kristen yang kebablasan ikut-ikutan menebar permusuhan atau konflik, dan tak segan-segan lagi menampilkan bahasa-bahasa sarkasme di medianya. Padahal media tak etis mempublikasikan bahasa sarkasme. “Makanya, Ketua Majelis Pertimbangan PGLII Pak Pdt. DR. Nus Reimas sampai mengingatkan para pimpinan media Kristen agar punya motivasi yang baik dan benar di dalam memberitakan sebuah masalah. Peringatan Pak Nus Reimas itu penting diperhatikan, agar kita juga sebagai pekerja media jangan merasa benar sendiri,” ujar Wakil Ketua DPD PIKI DKI Jakarta ini.

                Pemimpin Redaksi Majalah Kalam Hidup ini menerangkan, sebelum Tuhan Yesus lahir ke dunia, sudah lebih dulu malaikat Gabriel menyampaikan pesan kepada umat manusia agar “jangan takut.” “Itu artinya, saat itu kehidupan umat memang dikuasai oleh iblis dan ada ketakutan dan persoalan hidup yang susah. Malaikat menyampaikan jangan takut, karena akan lahir seorang Raja Pembawa Damai, yakni Yesus Kristus. Yesus Kristus-lah yang menebarkan kekuatan dan kabar baik, sehingga manusia punya pengharapan dan tidak lagi dikuasai ketakutan,” pungkas Robi.

                Ia menambahkan, istilah jurnalisme kabar baik atau jurnalisme damai itu hanya ungkapan agar kita pekerja media tetap memegang teguh etika dan kode etik jurnalistik, sehingga tidak menambah musuh dengan pemberitaan-pemberitaan yang mengarah pada konflik atau permusuhan. “Media itu silakan kritis untuk mempengaruhi keadaan agar lebih baik, namun tetap perhatikan cover both side yang tidak hanya menonjolkan satu pihak, namun di sisi lain memojokkan pihak lainnya. Kalau ada berita konflik, mestinya dibuat nara sumber yang bisa memberi solusi,” terangnya.

                Menurutnya, sebagai orang yang aktif mencermati pemberitaan media Kristen, Robi yang juga Wakil Sekretaris Umum PGLII juga mengajak insan media Kristen agar jangan menambah musuh dengan pemberitaan-pemberitaan yang menimbulkan polemik ataupun konflik. Jika berita yang mengarah pada konflik yang dimunculkan di sebuah media tanpa ada solusi yang ditawarkan, maka yang muncul adalah opini publik yang buruk, dan media itu bisa jadi tidak lagi dikuasai Roh Kudus.

                Mantan aktivis pers kampus dan bekas anggota Presidium GMNI ini menambahkan, pekerja pers harus pula hati-hati agar jangan berlaku seperti hakim, yang bisa menempatkan seseorang nara sumber seperti terdakwa atau penjahat. “Harus dihindari penghakiman oleh media (trial by the pres). Ajaran Yesus pun meminta kita agar kita jangan menghakimi. Karena Tuhan yang berhak menghakimi. Karenanya, mari kita semua tebarkan kabar baik, mari terapkan jurnalisme damai. Jangan ingin mencari kawan, tapi diawali dengan berita yang menghakimi,” pungkas Robi Repi yang berdarah Toraja dan Manado ini.

             Dalam sebuah diskusi terbatas bersama lima pimpinan media Kristen baru-baru ini, Pdt. Nus Reimas yang juga salah satu Penasihat PERWAMKI meminta para pemilik atau pimpinan media Kristen agar kembali memahami jurnalisme damai, bukan membuat berita atau opini publik yang membuat orang semakin berpikir negatif. “Apa yang ditulis di media Kristen, itu sesungguhnya merupakan isi hatinya,” tukas Pdt. Nus reimas.

Dalam diskusi itu, Markus Saragih pun berkomentar, seusai Sidang Raya XVI PGI (2014) lalu, ada tulisan di sebuah media Kristen yang memuat pendapat figur yang kalah telak, dan menganggap sidang raya tak sah. Sedangkan pendapat dari pimpinan PGI terpilih tak dimuat, jadi pemberitaannya sepihak. “Itu dikeluhkan Ketua Umum PGI Ibu Ery Lebang. Ibu Ery Lebang bilang, media Kristen mestinya lebih bijaksana memberitakan,” papar Markus, Redaktur Pelaksana Majalah Berita Oikoumene dan mantan Ketua PERWAMKI. YM  

Berita Terkait