Pemenang di Pilkada DKI Berpeluang Besar Tampil di Pilpres 2019

• Oleh: Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H. 512 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Detik-detik menegangkan waktu perhitungan suara quick count tidak saja dirasakan oleh kubu Agus-Sylvi, tetapi di kubu Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga juga mengalami hal yang sama.  Masing-masing kubu yang selama ini  mengklaim kemenangan, bahkan ada yang sudah yakin menang satu putaran merasakan detik-detik menegangkan. Kubu Anies yang sudah melaju lebih dari 30% sudah makin optimis untuk menang satu putaran atau sekurang-kurangnya masuk putaran ke-2. Demikian juga di kubu Ahok. Lain halnya di kubu Agus yang terhenti di angka 16%-an mulai merasakan aroma kekalahan.

Benar juga pada petang hari tanpa menunggu pengumuman resmi KPU, pasangan Agus-Sylvi telah mengumumkan kekalahan sekaligus memberi selamat pada dua kubu lainnya.  Tindakan yang sangat sportif tersebut menghasilkan banyak pujian baik dari kubu Anies maupun kubu Ahok. Sikap ksatria dari cagub Agus patut diapresiasi oleh tokoh-tokoh politik Indonesia. Dan tindakan ini patut dicontoh oleh seluruh bangsa Indonesia. Bahkan harusnya tokoh-tokoh senior harus belajar dari seorang Agus Yudhoyono yang masih hijau dalam percaturan politik, namun mempunyai hati yang ksatria.

Tidak berlebihan apabila salah satu hasil gemilang Pilkada Serentak 2017 kali ini adalah contoh sikap seorang calon sebagaimana yang dilakukan oleh cagub DKI, Agus Yudhoyono. Sebaliknya, hasil yang sungguh memalukan adalah kacaunya DPT di berbagai tempat di wilayah DKI yang harus segera diinvestigasi, karena dikhawatirkan bahwa hal tersebut sengaja dilakukan atau karena ketidakmampuan KPUD DKI dalam penyelenggaraan pilkada. Wajib segera diselidiki penyebab banyaknya warga DKI yang tidak dapat mencoblos walaupun telah memenuhi syarat yang ditentukan. Hal ini tidak boleh terulang dalam penyelenggaraan putaran ke-2.

 

Dan apabila ada indikasi kesengajaan untuk merugikan salah satu kontestan, maka harus segera ditindaklanjuti dengan pemberian sanksi berupa pemberhentian tidak dengan hormat. Pilkada harus terselenggara dengan jujur dan bermartabat,  sehingga warga DKI dapat memperoleh pemimpin yang tepat.  Dengan munculnya dua kontestan di Pilkada DKI, Ahok-Djarot versus Anies-Sandiaga, maka akan lebih seru dan menegangkan pertarungan babak ke-2 ini. Benar kalau dikatakan bahwa Pilkada DKI tersebut serasa Pilpres. Bahkan dengan pertarungan Ahok melawan Anies dapat dikatakan pertarungan Pilpres 2019, Jokowi melawan Prabowo. 
             Tentunya warga DKI akan diperlihatkan tontonan strategi-strategi mengalahkan satu dengan yang lain baik dari sisi penggalangan massa, intrik bahkan mungkin permainan yang biasa disebut “akrobat politik.” Posisi sekarang, Ahok didukung 4 partai politik, yakni PDIP, Golkar, Nasdem dan Hanura. Sedangkan Anies didukung Gerindra dan PKS.  Dalam waktu singkat 4 partai pendukung Agus akan memberikan dukungan kepada salah satu calon. Sepintas kubu Anies sudah mengklaim bahwa pendukung Agus akan memberikan dukungan penuh ke kubu Anies semuanya. 
                 Tetapi politik biasanya tidak hitam putih seperti itu.  Ada banyaknya partai politik pendukung bukan jaminan akan memenangkan pilkada. Pengalaman Pilkada DKI (2012) di mana Jokowi-Ahok hanya didukung oleh dua parpol tetapi bisa mengalahkan Foke yang didukung oleh banyak parpol. Dalam beberapa minggu ke depan, akan banyak ditemui black campaign  yang akan menyasar cagub dan cawagub petahana maupun penantangnya. Dan akan makin seru dengan makin jelasnya barisan Asal Bukan Ahok yang banyak tidak puas atas perilaku maupun tindakan Ahok sewaktu menjabat menjadi Wagub maupun Gubernur DKI. Masyarakat akan makin jelas peta persaingan antar dua kubu tersebut. Berbagai manuver akan dilakukan demi memenangkan kompetisi tersebut.

 

Sesaat setelah masing-masing calon mengetahui bahwa harus dua putaran, medsos sudah aktif saling memberikan “info” kepada masyarakat tentang sisi negatif,  baik petahana maupun penantangnya. Dengan selisih cuma sekitar 2% saja , maka pertarungan akan makin seru.  Berbagai manuver yang sudah maupun akan dijalankan akan lebih massif dan terstruktur.  Apabila masing-masing kubu tidak dapat mengendalikan diri, maka suhu politik pun akan ikut memanas. Apalagi persaingan dua kubu ini mengingatkan pertarungan Capres 2014.

 

Banyak analisa politik yang bisa diuraikan oleh para pengamat politik, namun untuk menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenang, tidak banyak yang berani berspekulasi.  Dalam perjalanan selama kurang lebih 2 bulan segala sesuatu akan dapat terjadi. Dari kubu Ahok, misal desakan nonaktif sebagai gubernur merupakan isu yang cukup sensitif menyusul usaha beberapa parpol menggulirkan hak angketnya. Belum lagi terus menerus Ahok diserang dengan isu SARA-nya yang bakal lebih dahsyat pada putaran ke-2. Aksi Bela Islam dalam bentuk perwujudan yang lain akan senantiasa digulirkan oleh para anti-AHOK, seiring dengan makin bertambah kuatnya unsur-unsur yang memperjuangkan NKRI Bersyariah. 
              Dari kubu Anies, desakan untuk mengusut skandal “komisi” penyediaan VSAT akan makin menguat dan berbagai perilaku Anies yang dianggap sebagai “bunglon politik.”  Demikian juga rekam jejak Sandiaga Uno saat sebagai pengusaha, akan mulai dibongkar oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan Sandiaga menjadi Cawagub DKI. Tidak salah kalau dari sejumlah pilkada yang ada di Indonesia, Pilkada DKI adalah merupakan gengsi dan prestise dari para parpol untuk dapat memenangkannya. Karena DKI adalah miniatur Indonesia, siapa yang berkuasa, di situlah jalan menuju RI 1 terbentang luas.

 

             Semoga Pilkada DKI putaran ke-2 ini dapat menghasilkan pemimpin DKI yang benar-benar menjadi administrator yang berjuang untuk mensejahterakan warga ibukota, bukan hanya untuk kepentingan bisnis atau menjadi pelampias syahwat berkuasa dan bekerja tanpa konsep yang jelas.  Keberhasilan DKI mendapatkan pemimpin yang benar tanpa gejolak maka Indonesia akan menjadi makin dikagumi oleh dunia luas sebagai negara yang berdemokrasi dengan sangat baik dan mantab. Akankah bisa terwujud??

 

  • Penulis adalah pemerhati bidang politik dan perburuhan, Ketua I Forum Masyarakat Katolik Indonesia KAJ dan Ketua Umum Vox Point Indonesia.

Berita Terkait