Pdt. Ronny Mandang, M.Th
Pemimpin Kaum Injili dari GKRI Karmel

1255 dibaca
Pdt. Ronny Mandang, M.Th

Beritanarwastu.com. Nama Pdt. Ronny Mandang, M.Th, mencuat ke publik, tak lama setelah ia memimpin PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia) saat muncul insiden di Tolikara, Papua, beberapa waktu lalu. Soalnya, gereja yang ramai diberitakan di Tolikara adalah anggota PGLII. Lalu beragam tudingan dialamatkan ke organisasi yang dipimpin Pdt. Ronny Mandang.  

Meskipun suara sumbang silih berganti, namun pendeta berdarah Manado ini tetap bersikap bijak. Ia percaya bahwa insiden tersebut adalah pemurnian iman untuk menjadi seorang Kristen sejati. Fokusnya tak cuma soal Tolikara, namun sebagai orang nomor satu di PGLII ada sejumlah terobosan dibuatnya demi memajukan lembaga kaum Injili ini. Ia pun berupaya merangkul lembaga-lembaga gereja aras nasional sebagai satu tubuh Kristus dan membina komunikasi dengan sejumlah media Kristen yang juga sarana untuk  pengabaran Injil.

Lantaran wajahnya jarang senyum, membuat banyak orang berpikir bahwa Gembala Sidang GKRI Karmel ini tipikal serius. Namun Pdt. Ronny Mandang memiliki sense of humour tinggi. Sebagai pendeta yang mengabdikan hidupnya di ladang Tuhan, katanya, ada dua hal yang penting diperhatikan dalam pelayanan, yaitu dipanggil dan panggilan.

Arti dipanggil, yakni dalam dunia yang gelap kemudian masuk dalam terang Kristus untuk menceritakan kebaikanNya. Sedangkan panggilan diartikan, fungsi dalam tubuh Kristus. Misalnya, menjadi pemberita Injil, sebagai gembala, guru, nabi dan rasul. Ia kurang setuju jika pendeta dianggap sebuah profesi. Alasannya, profesi itu membuka ruang bahwa siapa saja bisa mengambil jalur itu. “Kalau dia tidak dipanggil, saya kira tidak bisa membuktikan sebagai pelayan Tuhan yang baik,” tukas Pdt. Ronny.

Menurut suami dari Ev. Deetje Caroline ini, berkarya di ladang Tuhan, termasuk menjadi pimpinan di PGLII diaminkan Pdt. Ronny sebagai bentuk tanggungjawabnya dalam menjalankan mandat Munas PGLII 2015. Menumbuhkan sense of belonging antarpengurus demi memajukan PGLII, adalah salah satu cara Pdt. Ronny memimpin lembaga ini. Maka sejak awal hingga saat ini beragam pertemuan dengan Majelis Pertimbangan dan Pengurus Pusat PGLII telah digelarnya. “Saya tidak mau membuat Majelis Pertimbangan PGLII hanya sebagai konsultan. Tetapi meminta mereka secara konstruktif, karena ada kemampuan dan kapasitas mereka untuk membimbing kita,” tegasnya bijaksana.

 Menurutnya, berdirinya gereja dengan beragam aliran dan etnis, tentu bagian dari perkembangan kekristenan di negeri ini. Dari sini tanpa disadari menciptakan eksklusivisme di dalam tubuh gereja. Untuk itu salah satu cara untuk mengobarkan semangat oikoumene adalah mendirikan FUKRI (Forum Umat Kristiani Indonesia). Di FUKRI secara nonformal para pengurus gereja aras nasional duduk bersama membicarakan hal-hal yang menyangkut gereja, bangsa dan negara.

“Kita sadar keputusan-keputusan itu tidak sampai ke bawah, tapi semangat oikoumene tidak boleh hilang. Harus menjadi bagian dari kesatuan atau keesaan gereja yang kita akui di seluruh  bumi di Indonesia,” kata pendeta lulusan IFTK Jaffray, Jakarta, ini. Pdt. Ronny sangat tidak setuju memposisikan PGLII sebagai lembaga aras nasional yang eksklusif, tapi inklusif. Dan gagasan ini yang harus diperjuangkan dan disuarakan. Menurut Pdt. Ronny, sebagai pimpinan di PGLII merupakan tugasnya untuk menyuarakan teologi Injili. Agar yang berada di luar PGLII menyadari arti Kingdom of God.  Selama kita menjadi gereja yang berorentasi pada gereja, dan tidak menjadi gereja yang berorientasi kepada Kerajaan Allah, maka kita terperangkap dalam Nasionale dengan keetnisannya, dan ini menjadi penyakit gereja yang seharusnya tak boleh terjadi.

Menurut mantan Ketua Bidang Advokasi, Hukum dan HAM Pengurus Pusat PGLII ini, gereja memiliki tiga tugas utama, yakni peran, tugas dan panggilan. Gereja harus melihat dari dasar bahwa jadilah seperti yang Tuhan mau, bahwa setiap kita menjadi bagian dari panggilan itu.  Terlebih gereja merupakan “pabrik” yang harus menciptakan produk-produk yang siap pakai di market place, Pemerintahan dan lain sebagainya. “Jadi kalau Soekarno punya nation of building, nah kita membangun karakter yang mengutus orang gereja ke tengah kehidupan ini,” terang ayah empat anak ini.

Setelah 70 tahun Indonesia merdeka, ujarnya, tak bisa dipisahkan dengan sumbangsih yang diberikan oleh anak-anak Tuhan di segala bidang. Begitu halnya dengan gereja yang harus memberikan dampak bagi orang sekitarnya. Misalnya, memberikan pengobatan gratis bagi penduduk di sekitar gereja tanpa kita mengkristenisasi. Kalau ini menjadi sebuah gaya hidup seorang Kristen, maka dunia akan melihat kita pengikut Kristus.

 Prinsip Kerajaan Allah, katanya, harus diperjuangkan. Bilamana ia pernah dipanggil oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas kasus Tolikara, menurutnya, itu cara Tuhan dan perjuangan sebenarnya. Tak terkecuali memproklamirkan Yesus sebagai Tuhan di negeri ini. Berbicara soal peran wartawan dan media Kristen, Pdt. Ronny menuturkan, wartawan adalah profesi yang tak kalah mulia dari pendeta. Sangat mutlak hukumnya bagi wartawan agar menjunjung tinggi nilai kebenaran, santun dalam memberitakan dan bukan memprovokasi.   

Dari fungsinya, tukasnya, media mampu mempengaruhi pikiran dan bisa menjadi alat propaganda. Mengenai pengaruh sebuah media, hal itu pun tak dipungkiri oleh Pdt. Ronny Mandang. “Media rohani itu sangat penting perannya. Dia harus mengkomunikasikan Kabar Baik pada masyarakat. Pengelolaan dari seluruh pemberitaan itu jangan sensasional, jangan tendensius, dan jangan pula mengungkap semua yang buruk,” paparnya.

Berita Terkait