Pemimpin Umum NARWASTU Bicara Kepemimpinan di Komunitas Mahasiswa dan Alumni BKPAK

266 dibaca
Acara Leader Training Course (LTC) BKPAK yang diadakan untuk level 3 dan untuk angkatan ke-2 di gedung MTH Square, Cawang, Jakarta Timur, pada 25 Agustus 2018 lalu.

Beritanarwastu.com. Pada Sabtu sore, 25 Agustus 2018 lalu kembali Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diundang sebagai pembicara di acara Leader Training Course (LTC) Level 3 untuk angkatan ke-2 atau training kepemimpinan di Badan Kerjasama Pelayanan Antar Kampus (BKPAK) di gedung MTH Square, Cawang, Jakarta Timur. Acara ini diikuti para cendekiawan muda, seperti alumni BKPAK dan mahasiswa Kristiani dari berbagai kampus di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Selama dua jam Jonro I. Munthe berbagi pengalaman dan pemikiran seputar kepemimpinan, baik di tengah keluarga, masyarakat dan negara. 

            Organisasi pelayanan kaum mahasiswa BKPAK ini punya visi: Menyiapkan pemimpin-pemimpin muda berkarakter dan beriman tangguh di tengah masyarakat. Dan ada interaksi tanya jawab dalam acara ini. Ketua Umum BKPAK, Mangasa Butarbutar, S.E., M.Th yang hadir mengapresiasi acara ini. Menurutnya, pengalaman dan pemikiran yang dibagikan Pemimpin Majalah NARWASTU itu sangat bermanfaat bagi kaum muda yang tergabung di BKPAK. Dan mereka mendapat pencerahan dari acara itu.

           Dalam kesempatan itu, Jonro I. Munthe menerangkan, menjadi seorang pemimpin itu tidak mudah. Karena dia harus mampu memotivasi, mengayomi dan menginspirasi orang-orang yang dipimpinnya. Dan pemimpin itu mesti seorang yang berkarakter, berani, punya integritas dan berani membuat perubahan di lingkungannya. Sering pemimpin yang hebat itu justru awalnya diprotes, dicaci maki dan dikritik banyak orang, namun dia punya keyakinan untuk terus melangkah guna mewujudkan mimpinya. Menurut Jonro, Presiden RI Pak Joko Widodo dan Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) adalah dua figur pemimpin di Indonesia yang berani, visioner dan mampu membuat perubahan di tengah masyarakat.

          Keduanya juga punya niat yang baik atau cita-cita guna mensejahterakan orang-orang yang dipimpinnya. "Kita lihat Pak Jokowi, berupaya membangun negeri ini agar semakin sejahtera dengan banyak infrastruktur seperti jalan tol, bandara, pelabuhan, jalan-jalan raya di Papua dibuka, lalu daerah-daerah yang tak pernah dikunjungi pemerintah sebelumnya diperhatikannya. Makanya untuk periode berikutnya pun Pak Jokowi harus kita dukung. Beda dari pemimpin-pemimpin Indonesia sebelumnya, dia tak punya cita-cita memperkaya diri atau memberi proyek pada keluarganya," ujar peraih award sebagai “Jurnalis Muda Motivator 2009 dari Majelis Pers Indonesia (MPI)” itu.

            Demikian juga Ahok punya prestasi hebat ketika membangun DKI Jakarta, meskipun akhirnya ia harus masuk penjara karena divonis pengadilan dengan tudingan menista agama akibat ucapannya. "Yang pasti Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin hebat, yang punya cita-cita untuk mensejahterakan rakyat. Prof. Franz Magnis Soeseno menuturkan, setiap ada pemilihan kepala daerah sesungguhnya kita bukan hadir untuk memilih pemimpin yang terbaik. Tapi kita ingin memilih pemimpin yang tidak punya niat jahat. Demikian juga di tengah bangsa ini, apalagi menjelang Pilpres 2019, kita ingin memilih pemimpin yang tidak punya itikad jahat bagi negeri ini," terang Jonro Munthe yang merupakan lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta yang sering pula diundang sebagai pembicara dan moderator dalam berbagai diskusi sosial, politik dan kemasyarakatan itu.

            Dalam kesempatan itu, Jonro Munthe juga mengajak beberapa anggota dan alumni BKPAK maju ke depan untuk menyampaikan testimoninya tentang visi dan visinya sebagai kader muda Kristiani. "Kita kalau ingin menjadi pemimpin, maka harus memulainya dari memimpin diri sendiri. Misalnya 5 tahun ke depan setelah kita selesai kuliah atau setelah bekerja, lalu kita akan melakukan apa lagi. Kader-kader muda di BKPAK ini misalnya, selain aktif kuliah, melayani dan bekerja, sebagai calon pemimpin di tengah masyarakat, apa lagi yamg akan dilakukan agar kita bisa berperan di tengah masyarakat," cetusnya.

           Misalnya, kata Jonro, ada pasangan suami istri  yang baru menikah, tentu rumah tangga baru itu pun harus dipimpin ke arah yang lebih baik. Misalnya, mereka mengontrak rumah lebih dulu, membeli motor, lalu menabung, dan lebih giat bekerja. Setelah punya uang cukup lalu mencicil rumah atau beli mobil. Setelah punya anak lalu mempersiapkan pendidikan atau masa depan anak-anaknya agar lebih baik. Itu sebuah proses panjang. Dan suami istri sebagai pemimpin di rumah tangga mesti juga punya perencanaan dan visi di dalam kehidupan rumah tangganya," ungkap anggota jemaat Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi itu.

            Dan yang tak kalah pentingnya, kata Jonro, pemimpin itu selain punya pengaruh pun mesti tekun berdoa. Pemimpin yang baik harus senantiasa meminta bimbingan kepada Tuhan. Tuhanlah sumber segala sesuatu, karenanya kita harus tekun berdoa meminta hikmatNya. "Ada ditulis di Alkitab, carilah dahulu kebenaran dan kerajaanNya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu. Itu artinya, pemimpin atau kita semua harus mengandalkan dan mendahulukan Tuhan bila ingin sukses," pungkas Jonro I. Munthe. KS

Berita Terkait